Aroma Tapai Mameuh Sawang, Tercium Hingga Seantero Indonesia

Pajangan Tapai Mameuh usaha Nainunis di Gampong Sawang I, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan. ANTARAN / DIRMAN J
Bagikan:

“Luar biasa, tapai ketan yang dijuluki Tapai Mameuh disertai menu pendamping Ketupat buatan Teungku Ramli diburu warga sejak tahun 1987-2000. Keberadaannya benar-benar menggugah selera dan laris manis,” papar Zaimar mengenang kejayaan Tapai Mameuh.

Laporan : Dirman J

ANTARANNEWS.COM|TAPAKTUAN – Tapai salah satu pelapor kuliner favorit Aceh dan seluruh nusantara, begitupun keberadaan Tapai Mameuh (manis) racikan warga Gampong Sawang I, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan mampu menggiurkan cita rasa konsumen dan laris manis.

Informasi dihimpun dari berbagai sumber, era tahun 1980 an, petani Sawang membudidayakan tanaman ubi (singkong). Dekade itu, hampir semua warga menanami ubi di lahan terlantar maupun produktif. Tidak hanya di areal perkampungan tetapi menjamah di pengunungan.

“Sekitar tahun 1980 an, petani menanami singkong secara serentak, hasilnya sangat mengembirakan. Sayangnya, dimasa itu harga hasil produksi pertanian teramat rendah, bahkan sulit di pasarkan. Menghindari keterpurukan dan kejenuhan petani, buah ubi di racik jadi kuliner, terutama membuat Tapai, Godok dan jenis kuliner lain,” ujar Zaimar Mukim Kemukiman Lhok Pawoh kepada antarannews.com, Senin (30/01/2023).

Baca Juga:  Harapan Masyarakat Terwujud, KCP BAS Lipat Kajang Resmi Beroperasi

Jurus andalan tersebut, kata Zaimar mendatangkan penghasilan petani dan ibu-ibu rumah tangga layaknya usaha kecil. Tanaman singkong pun membumi dan dikembangkan dengan baik. Pusat utama di Gunung Seumali, Gampong Sawang II, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“Kalau tidak salah, waktu itu harga Tapai ubi di bandrol Rp 5 rupiah. Sayangnya usaha tersebut tidak bertahan lama akibat rantai pemasaran belum tersuplai ke seluruh daerah karena terkendala transportasi. Tanaman ubi-pun tidak di garap lagi,” jelasnya.

Berawal dari titisan tapai ubi, keluarga besar Teungku Ramli terinspirasi untuk memproduksikan tapai ketan. Markasnya, tepat di kepala jembatan Sawang I atau depan Mushalla. Mulai saat itu, tapai mameuh asal Sawang digemari konsumen dengan harga terjangkau Rp 100 per bungkus.

Baca Juga:  Bangunan SDN 10 di Kabupaten Simeulue Ini Memprihatinkan

“Luar biasa, tapai ketan yang dijuluki Tapai Mameuh disertai menu pendamping Ketupat buatan Teungku Ramli diburu warga sejak tahun 1987-2000. Keberadaannya benar-benar menggugah selera dan laris manis,” papar Zaimar mengenang kejayaan Tapai Mameuh.

Menurut dia, peminat dan penggemar tapai mameuh bukan hanya penduduk Aceh Selatan, melainkan dari luar daerah menjadikan kuliner ini sebagai makanan khas Aceh Selatan.

Sejak Teungku Ramli meninggal dunia, pesona tapai mameuh anjlok dan nyaris tinggal nama. Hingga muncul pegiat baru sekira tahun 2005 atau sepanjang 17 tahun lalu.

Nainunis, 65 tahun penduduk Sawang I, Sawang kembali menggeliat dan membuka warung tapai mameuh di pinggir jalan nasional di kawasan gunung Cebrek. Walaupun masih seharga recehan Rp 200 per bungkus, ia tetap tekun dan terus melanjutkan usaha kecilnya hingga tahun 2023.

Baca Juga:  Partai PKS Simeulue Daftar 20 Bacaleg ke KIP, Ini Nama-Namanya

“Akhir-akhir ini Tapai Mameuh produksi saya semangkin meroket di pasaran, saban hari penjualan meningkat. Kendaraan roda dua dan empat kerap singgah di warung untuk membeli tapai. Selama dua tahun terakhir harga tapai berkutat Rp 1.000 per bungkus,” urai Nainunis.

Ia menyebutkan, penghasilan dan pendapatan dari usaha Tapai Memeuh yang telah berusia lebih kurang 17 tahun ini mampu menghidupkan kebutuhan keluarga serta biaya kuliah anak-anak.

“Rezeki ini kami syukuri apa adanya, jika kita berharap banyak tentu harus lebih giat dan bekerja lebihulet,” pungkas Nainunis.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.