Badan Mahasiswa dan Mental Guru Mereka

sumber ilustrasi: Liputan6.com
Bagikan:

Dalam sejarah bau badan umat manusia, dari pra-sejarah hingga era post-industri saat ini, baru kali ini bau badan ditangani dengan surat edaran pemilik otoritas perguruan tinggi.

Kolumnis : Affan Ramli

Tidak cukup jelas, kapan mulanya mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) punya bau badan. Apesnya, baru sekarang bau badan mereka jadi bahan cerita, viral pula. Dibicarakan dimana-mana. Media-media massa lokal, nasional, dan internasional menyebarluaskan cerita guru mereka, Ketua Jurusan Arsitektur dan Perencanaan. Katanya, bau badan mahasiswa jurusan itu sudah mengganggu betul proses belajar mengajar di sana.

Berbau badan memang apes, lebih apes lagi bau badan mereka jadi cerita warga dunia. Apesnya jadi double. Taroklah bau badan mahasiswa itu memang ada, apakah hanya badan mahasiswa Arsitektur USK yang baunya berbeda dan sangat mengganggu para pengajar.

Jika benar seperti itu, wajar saja, bau badan mahasiswa Arsitektur USK harus ditertibkan dan ditangani dengan membuat surat edaran ketua jurusan. Lengkap dengan petunjuk teknis (juknis) bagaimana menjaga badan agar tak bau.

Dugaan saya, cerita itu viral bukan karena bau badan mahasiswa Arsitektur USK berbeda dan daya mengganggunya lebih tinggi dari rata-rata. Toh, masalah ini terjadi pada mahasiswa lain, di jurusan lain, di fakultas lain, di universitas lain, dan di provinsi lain. Viralnya karena, dalam sejarah bau badan umat manusia, dari pra-sejarah hingga era post-industri saat ini, baru kali ini bau badan ditangani dengan surat edaran pemilik otoritas perguruan tinggi.

Baca Juga:  Aktivitas Perusahan Tambang Meresahkan, Warga Minta Pemerintah Berikan Rasa Keadilan 

Kalau begitu, viralnya cerita USK kali ini bukan karena badan mahasiswa. Lebih karena mental para pengajar mereka. Bukan sebatas mental Ibu ketua jurusan itu bermasalah, karena surat edaran itu, seperti pengakuannya sendiri, dorongan dari rekan-rekan sejawatnya di jurusan itu.

Sekilas terlihat, mental para pengajar di sana tampak seperti pemuja ‘aturan minded.’ Semua masalah diyakini dapat diselesaikan dengan pembuatan aturan. Selemah-lemahnya aturan berbentuk surat edaran. Tapi surat edaran, dimana-mana bukan cuma untuk dibaca-baca, diharapkan harus dipatuhi.

Kalau ditelisik lebih jauh, di belakang surat edaran itu tersembunyi mental feodalistik para pembuatnya. Dalam tradisi kebudayaan feudal, pemilik otoritas merasa berkuasa. Tidak mau tahu bagaimana sebuah masalah muncul dan bagaimana sudut pandang terbaik memahaminya. Terpenting, kekuasaan yang dimiliki harus digunakan untuk menyingkirkan apapun yang menghambat kenyamanan mereka.

Barangkali para dosen pembuat surat edaran itu, secara usia, masih muda-muda. Sialnya, mereka mewariskan tradisi dan nilai-nilai feudal dari generasi tua pengelola kampus itu.

Bayangkan, ada sebuah gejala sosial mahasiswa berbau badan secara massif yang sudah sangat mengganggu sebuah program studi. Harusnya, para akademisi melakukan riset-riset yang cukup memadai untuk menjawab pertanyaan, mengapa jumlah mahasiswa mereka yang berbau badan cenderung meningkat dan proses kimiawi seperti apa yang dialami mahasiswa mereka yang berbau badan, sebagai sampling aktual atau subjek riset lansung. Dibuktikan secara emperis.

Sehingga, bau badan mahasiswa Arsitektur USK dapat dipahami berdasarkan pengetahuan yang akurat. Bukan menduga-duga, mengandalkan hasil pencarian di mesin google. Mengapa tidak di-labs-kan saja badan-badan mahasiswa itu, sebagai subjek-subjek penelitian dengan sampling acak.

Baca Juga:  Alamak, Harga Cabai Merah di Simeulue Mahal, Rp 95.000 Per kilogram

Dengan begitu, akan ada dua keuntungan. Pertama, dasar kajian dari surat edaran itu sangat ilmiah. Bukan sekedar berbasis isu kenyamanan para pemilik otoritas di Prodi Arsitektur. Kedua, para akademisi USK bisa berkontribusi pada perkembangan keilmuan dunia tentang bau badan.

Hitung-hitung, kan jarang-jarang para ilmuan Aceh berkontribusi pada perkembangan teori baru dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dunia. Bau badan mahasiswa mereka dapat digunakan sebagai kesempatan riset yang sungguh-sungguh, dengan ambisi menemukan formula baru atau teori baru pada cabang keilmuan Kimia atau Medis terkait cara bekerjanya bakteri dan reaksi kimia tertentu pembentuk aroma bau badan sangat menyengat, berciri khas jurusan Arsitektur USK.

Riset seperti itu butuh kepakaran cabang keilmuan lain yang relevan. Ketua jurusan Arsitektur USK dapat mengundang atau membuka sayembara proposal riset dengan topik bau badan mahasiswa.

Dengan begitu semangat keilmuan tampak menonjol dalam menyelesaikan perkara bau badan mahasiswa, dibanding perasaan berkuasa dengan mental feudalistik. Survey-survey dan eksperimen-eksperimen para akademisi USK seiring waktu akan menjadi trend baru. Dimana persoalan-persoalan aroma atau bau akan jadi topik-topik menarik diangkat jadi objek penelitian.

Bermula dari riset-riset bau badan mahasiswa, para akademisi itu dapat memperluas kajian, meneliti aroma busuk yang mencemari udara di ratusan kampung-kampung Aceh yang dibangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Saya tidak tahu, apakah dosen-dosen di Arsitektur USK pernah melewati kampung-kampung kita yang masyarakatnya 24 jam hidup dalam bau limbah PKS itu.

Baca Juga:  Hadiri Pelantikan IKAMAS Jakarta, Ini Harapan Bupati Amran

Masyarakat di kampung-kampung yang tersiksa dengan bau limbah PKS dan limbah-limbah industri lainnya, tidak punya kekuasaan membuat surat edaran tentang bau yang telah merusak udara mereka puluhan tahun tanpa waktu jeda. Mungkin para akademisi USK dapat membantu masyarakat menyelesaikan persoalan-persoalan aroma busuk atau bau-bau an di kampung-kampung.

Dari sudut pandang inilah menurut saya, perhatian para akademisi USK pada bau, dimulai dari bau badan mahasiswa mereka, menjadi trend penting. Dengan catatan, studi tentang bau diperluas terus menerus ke luar kampus, ke kampung-kampung di seluruh Aceh.

Sebagian orang menuduh, surat edaran bau badan mahasiswa itu dihubung-hubungkan dengan iklan penjualan parfum kampus itu. Saya kira, cara berbisnis USK belum secanggih itu. Lebih tepatnya, belum serusak itu.

Meski memang, Kepala Atsiri Research Center (Pusat Penelitian Nilam) USK membenarkan, parfum-parfum yang menggunakan atsiri dengan konsentrasi yang tepat dapat berfungsi ganda, sebagai pewangi sekaligus pembunuh kuman atau bakteri penyebab bau badan.

Untunglah, surat edaran bau badan mahasiswa dibuat USK. Terutama karena ada juknis cara-cara menjaga badan tetap wangi. Dengan begitu, para penonton di warung-warung kopi Aceh yang berdesak-desakan menikmati perhelatan piala dunia yang berlansung saat ini tidak tidak terganggu dengan aroma badan tak sedap. Terutama ketika mahasiswa USK hadir dalam kerumunan penonton perhelatan akbar itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.