Bila Tenaga Kesehatan Belajar Komunikasi dari Dukun

Foto ilustrasi sumber: Wikipedia
Bagikan:

Sebagai Penyuluh Kesehatan Masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan upaya untuk mengubah perilaku manusia dari perilaku yang tidak sehat menjadi perilaku harapan, tentu saya tidak bisa tidak bersentuhan dengan metode komunikasi antar pribadi. Mencari trik-trik yang membuat pesan sampai ke masyarakat.

Oleh : Ida Fitri, Peminat Sastra dan penyuluh Kesehatan Masyarakat.

Sebaik-baik komunikasi antarpribadi adalah milik dukun. Komunikasi antarpribadi atau biasa disingkat KAP merupakan metode yang belakangan ini dianggap paling efektif dalam mengkomunikasikan program-program kesehatan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian kesehatan melatih tenaga kesehatan untuk menggunakan metode KAP dalam menyebarluaskan informasi kesehatan ke masyarakat, seperti: untuk mempercepat penurunan stunting, untuk meningkatakan capaian imunisasi dasar, maupun saat pandemic covid-19 atau Kejadian Luar Biasa polio yang baru-baru ini terjadi di Aceh.

Kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten/kota melatih kader-kader posyandu dan kader lainnya yang ada di desa untuk menggunakan metode tersebut. Diharapakan degan memulai keakraban, saling mendengar dan berbicara bisa membawa pada komitmen untuk merubah perilaku. Dari perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku harapan. Ada lima tahapan komunikasi antar pribadi yang dimulai dengan bina suasana, teknik membangun partisipatif, alat komunikasi dan teknik fasilitasi.

Sebenarnya komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal bukan hal baru di dunia keilmuan. Sekitar tahun 1960 William Schutz memperkenalkan teori Fundamental Interpersonal Relationship Orientation (FIRO). Ada tiga kebutuhan dasar yang mendorong seseorang bergabung dengan sebuah kelompok: 1. Inkluisi yaitu keinginan seseorang untuk menjadi bagian dari satu kelompok tertentu, 2. Kontrol, yaitu keinginan seseorang untuk mengatur atau menguasai orang lain dalam kelompok, 3. Afektif, yaitu keterlibatan secara emosional antar anggota dalam kelompok.

Seorang ahli komunikasi, Everett M. Rogers mencirikan komunikasi antar pribadi pada: arus pesan dua arah, komunikasi tatap muka, tingkat umpan balik tinggi, kemampuan mengatasi tingkat selektif sangat tinggi, kemampuan untuk menjangkau tingkat sasaran sangat lamban, efek yang terjadi di antaranya perubahan sikap.

Baca Juga:  Farhas Buka Langsung PAUD Naraya Kids di Komplek Perkantoran Suka Makmue 

Jujur, saya pernah berandai-andai, andai kalimat “Sebaik-baik Komunikasi Antarpribadi adalah milik dukun” dipakai dalam dialog pembuka serial My Lecturer My Husband yang diperankan Reza Rahardian dan Prilly Latuconsina. Coba bayangkan Pak Sadewa Bentara mengantar kuliahnya dengan kalimat tersebut. Penonton teryakinkan serial itu memang dibuat berdasarkan riset yang mumpuni terutama terhadap tradisi yang hidup di masyarakat bawah.

Sebagai Penyuluh Kesehatan Masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan upaya untuk mengubah perilaku manusia dari perilaku yang tidak sehat menjadi perilaku harapan, tentu saya tidak bisa tidak bersentuhan dengan metode komunikasi antar pribadi. Mencari trik-trik yang membuat pesan sampai ke masyarakat.

Kembali ke komunikasi antarpribadi dalam praktek dukun. Benarkah seorang dukun yang yang mendapati kecakapan secara turun temurun atau berguru pada dukun lain mampu melakukan komunikasi antarpribadi dengan cukup baik? Mari kita periksa beberapa fakta berikut.

Praktik dukun pada umumnya berbeda dengan praktik medis. Jika dalam praktek dokter, dokter memiliki ruang khusus untuk memeriksa pasiennya. Dukun memeriksa kliennya di salah satu ruangan di rumahnya, biasanya menggunakan ruang tamu. Klien yang mengantri diperiksa satu per satu di depan semua orang yang datang berobat pada hari itu. Jadi sangat mudah jika kita ingin mengobservasi bagaimana seorang dukun berkomunikasi dengan kliennya.

Khalayak sering berpendapat kalau seorang dukun yang dianggap sakti dan membuka praktik di satu tempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kliennya saat klien datang berobat. Benarkah demikian? Atau ia hanya mengunakan trik-trik komunikasi, kemudian klien sendiri yang memaparkan masalah atau penyakit yang sedang dihadapinya tanpa disadari.

Setelah meruntuhkan pembatas antara dirinya dan klien, dukun hanya menggali dan menggiring. Yang dengan pertanyaan-pertanyaan dukun, kemudian klien menceritakan segala hal yang bahkan tidak diceritakan pada orang lain Dari sana dukun mulai menyusun hipotesis, masalah-masalah kesehatan yang dialami klien, siapa-siapa saja yang punya hubungan buruk dengan klien dan seterusnya.

Baca Juga:  Jalan Menuju Kebun Amblas, Beberapa Petani Kopi di Bener Meriah Mengeluh

Lalu sebagian dari mereka seperti kerasukan dengan suara sedikit berbeda dan mulai menceritakan masalah dan penyebab masalah klien dan apa jalan keluarnya. Sebagian yang lain langsung menarik kesimpulan dari cerita klien, klien dan keluarga yang mengantar langsung mengiyakan dan kemudian mematuhi begitu saja apa yang dikatakan dukun.

Dan tercapailah tujuan dari komunikasi antar pribadi yang diterapkan sang dukun, yaitu: untuk merubah perilaku sasaran seuai yang diharapkan. Misalnya tak boleh keluar rumah saat senja, tidak boleh mandi di waktu-waktu tertentu, hindari tempat A dan sejenisnya.

Seorang Klien akan begitu saja mematuhi dukun, bahkan jika dukun mengatakan jangan pergi ke rumah pamanmu, karena istri pamanmu sudah diliputi iri hati sehingga pergi ke orang pintar untuk membuat kakimu tidak bisa berfungsi lagi. Maka klien akan patuh begitu saja bahkan mulai membenci keluarga pamannya.

Bahkan pada kasus tertentu yang kita baca di media, dukun berhasil menipu banyak klien perempuan dan melakukan pelecehan seksual padanya. Korban menurut begitu saja tanpa melakukan perlawanan. Itu juga menunjukkan kemampuan komunikasi dukun dalam mempengaruhi kliennya.

Kira-kira faktor apa saja yang membuat seorang dukun begitu berhasil dalam mengubah perilaku sasarannya?
Dukun hidup dalam masyarakat dan berpakaian seperti mereka. Seorang dukun benar-benar menghilangkan pembatas antara dirinya dengan kliennya. Bukankah setiap manusia punya pagar? Dan jika kita masuk ke sebuah rumah kita harus membuka pagarnya terlebih dahulu.

Jika pun ada dukun yang berpakaian dengan gaya tertentu, ia berbaur dengan minum kopi, datang ke kenduri dan mengikuti rapat-rapat penting yang diselenggarakan desa, masyarakat mulai menganggap style dukun itu bagian dari kelompok mereka. Hal ini belum dilakukan oleh tenaga kesehatan, saat ke desa mereka diharuskan memakai seragam dengan sepatu kerja. Ini saja sudah menjadikan pembatas dengan masyarakat desa yang umumnya memakai baaju kaos/daster dan bersandaal jepit.

Baca Juga:  KONI Aceh Akui SC Musorkab IV Curang

Dukun menggunakan bahasa yang digunakan oleh kliennya. Sementara tenaga kesehatan cederung memakai bahasa yang berbeda, bahkan menggunakan istilah-istilah kesehatan yang rumit dan susah dipahami.
Dukun meluangkan waktu untuk mendengarkan apa yang dikatakan kliennya, sementara tenaga kesehatan cenderung tidak punya waktu. Bukankah tuhan menciptakan menusia memiliki satu mata dan dua telinga? Bukankah itu artinya kita harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara?

Dalam berkomunikasi dukun menggunakan alat bantu yang tidak asing dengan klien. Sementara tenaga kesehatan cenderung menggunakan alat bantu yang terlihat asing bagi orang kampung.

Bagaimana jika kemudian ada yang sembuh?

Misalnya seorang pemuda A yang lumpuh tiba-tiba bisa berjalan kembali setelah beberapa kali berobat ke dukun B. Lumpuh bisa disebabkan oleh putusnya saraf atau penyebab psikologis. Jika penyebab lumpuh pemuda A karena faktor psikologis, maka terjawablah teka-teki kesembuhannya. Bukankah Freud juga menerapkan metode bercakap-cakap atau sering disebut asosiasi bebas di sesi konsultasi dengan paisennya?

Ada yang menggolongkan praktek dukun termasuk etnomedisin. Etnomedisin adalah cabang dari antropologi kesehatan yang membahas mengenai tentang mula munculnya penyakit, sebab-sebab dan cara penyembuhan menurut etnis tertentu. Etnomedisin juga disebut sebagai pengobatan tradisional atau pengobatan primitif.
Praktik dukun disebut bisa mebgatasi masalah kejiwaan.

Bayangkan jika ada penelitian tentang itu, betapa banyak kita bisa berhemat. Sekali konsultasi pada psikolog menghabiskan lebih kurang Rp. 250.000,-. Dan itu tidak cukup sekali konsul. Harus datang berulang kali, bahkan bertahun tahun untuk menyembuhkan satu gangguan jiwa, begitu pun jika sudah membutuhkan Psikiater. Bandingkan jika berkosnsultasi ke dukun cukup Rp. 50.000,-. Hemat, dan dukun mudah dijangkau masyarakat miskin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.