Bintang – Salmaza Rival Di Pilkada Subulussalam, Berpeluangkah

Foto Bakal Wali Kota dan Wakil Wali Kota Subulussalam terpasang di sejumlah titik Kota Subulussalam. Foto diambil, Senin (24/06/2024). ANTARAN/Khairul
Bagikan:

Diperkirakan dua sosok tokoh di Subulussalam akan maju dan kembali bertarung di kancah Pilkada Kota Sada Kata. Dugaan ini memantik perhatian publik,”.

Jurnalis : Khairul

ANTARAN|SUBULUSSALAM – Suksesi Pilkada serentak 2024 semakin dekat dan Kota Subulussalam satu di antara sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh ikut dalam kontestasi tersebut, agaknya menarik untuk diperbincangkan.

Pasalnya, dua sosok yang periode lalu berpasangan, H Affan Alfian Bintang SE dan Drs Salmaza MAP (Bisa) diperkirakan masing-masing maju sebagai calon wali kota.

Lalu, berpeluangkah Bintang dan Salmaza mengejar kursi Wali Kota Subulussalam melalui Pilkada serentak pada November 2024.

Agenda kontestasi lima tahunan ajang perebutan wali kota di kota ini tahun 2024 merupakan sejarah kali ketiga gelaran Pilkada.

Perdana, dua tahun pasca mekar dari Kabupaten Aceh Singkil, Merah Sakti – Affan Bintang (Sabit) bertahan satu periode, lalu periode II Merah Sakti – Salmaza (Saza) dan periode III yang berakhir, Mei 2024 lalu, Affan Bintang – Salmaza (Bisa).

Jelang Pilkada November 2024, kendati belum saatnya pasangan bakal calon Wali dan Wakil Wali Kota Subulussalam yang berkontestasi secara terbuka menunjukkan jati diri, terkhusus sosok H Affan Alfian Bintang masih menjadi bahan pembicaraan dihampir semua kalangan masyarakat kota ini, meski pro dan kontra.

Menarik, kalangan pro Bintang mensinyalir belum ada sosok yang mampu menandingi kepiawaian sang idola, Ketua DPC Partai Hanura Kota Subulussalam itu.

Yakin, peluang masih sangat terbuka lebar untuk Affan Bintang periode II karena ada sejumlah keunggulannya, antara lain tinggi sosial, dermawan, cukup dekat bahkan membaur dengan masyarakat lintas menengah hingga ke bawah. Basis massa pemilih nyaris ada di level ini, dan sosok Bintang tak asing lagi bagi kelompok tersebut.

Baca Juga:  UPTD PPA dan DPMGP4 Nagan Raya Selenggarakan Lokakarya 

Lalu, muncul pertanyaan. Apakah kepiawaian sosok Fajri Munte yang digadang-gadang Partai Golkar, Haji Rasyid Bancin dari Partai Gerindra dengan tim yang cukup solid dan viral jauh lebih awal dengan slogan “Wajah Baru”, “Perubahan Baru” serta Salmaza dengan pasangan Bahagia Maha garis independen dan Nasir (saudara kandung almarhum Merah Sakti) atau nama lain yang mungkin masih akan muncul bukan ‘menjadi’ pesaing kuat dan patut diperhitungkan.

Di sisi lain, Salmaza yang sudah berpengalaman dua kali sebagai wakil wali kota, berlatar belakang birokrat bahkan diyakini memahami sisi positif dan negatif Affan Bintang lima tahun memegang kendali kota ini tentu punya kiat khusus untuk menarik simpati masyarakat.

Bukan rahasia lagi, negeri ini juga tidak lepas dari praktek “money politic”. Kata orang kebanyakan, modal uang Bintang masih lebih dari yang lain.

Terlepas benar atau tidak, kursi Partai Hanura di legislatif Kota Subulussalam untuk periode lima tahun ke depan penuh enam kursi dari periode lalu empat karena sokongan duit. Padahal pra gelaran Pileg lalu cukup banyak statemen, komen menggiring tidak memilih Hanura. Faktanya, kursi itu bertambah.

Lalu, benarkah rupiah semata-mata menjadi faktor kekuatan utama untuk bisa menjadi orang nomor satu di Kota Subulussalam yang didiami beragam etnis ini. Apakah tak ada faktor lain, kharisma misalnya atau latar belakang pendidikan.

Yang pasti perlu menjadi catatan, jangan jual etnis. Terlalu riskan jika soal etnis menjadi bahan jualan kandidat karena efeknya diragukan mengundang konflik.

Baca Juga:  Banjir Luapan Rendam Tanaman Padi Petani di Paya Laot Abdya

Pertanyaan kemudian, apa atau bagaimana upaya Affan Bintang kejar kursi Wali Kota Subulussalam periode II. Sosok Salmaza yang viral menjadi Balon Wali Kota Subulussalam berpasangan dengan Bahagia Maha tentunya tidak boleh dipandang sebelah mata, karena Salmaza adalah ‘karib’ Bintang satu periode memimpin kota ini.

Tak bisa dipungkiri, selama lima tahun kepemimpinan Affan Bintang bersama Salmaza (Bisa) merupakan barometer, menakar, apakah Bintang di satu kubu dan Salmaza di kubu lain dipercaya masyarakat kejar periode kedua menjadi Wali Kota Subulussalam lima tahun ke depan.

Terlepas dari kekuatan materi, publik pasti bisa melihat, bahkan ‘menilai’ sisi positif dan negatif selama bisa menakhodai Kota Subulussalam. Terlepas disebut ‘konflik’ internal antarkeduanya masa bersama, karena publik tahu jika Bisa adalah paket, bukan perorangan, dipilih saat Pilkada, berakhir pun bersamaan.

Yang jelas, fakta tersendat atau terbengkalai pembayaran honor ribuan tenaga honorer, mulai dari tenaga kesehatan, kebersihan dan aparatur kampong hingga beasiswa mahasiswa, bahkan tatkala telah berakhir pun jabatan Bisa belum terselesaikan menjadi catatan buruk, mungkin ingatan banyak orang. Upah itu tak pantas tunda pembayarannya.

Lalu, fenomena unjuk rasa, orasi dan berbagai bentuk protes ditunjukkan massa menghadapi Kebijakan Bisa nyaris cukup sering terjadi di eranya. Aneh, mediasi DPRK nyaris gagal membuahkan hasil dan terkesan hanya isapan jempol belaka.

Terdengar di publik berbagai penilaian sisi negatif era Bisa lima tahun hingga menjadi bagian penilaian dan pertanyaan publik, masihkah pantas dua sosok ini dipilih untuk menjadi Wali Kota Subulussalam ke depan.

Baca Juga:  Januari - September 2023 Tercatat 113 Kasus DBD di Abdya

Lantas, apakah jika dua sosok ini tak lagi menjadi idola akan berpindah ke sosok lain, Fajri Munthe, Nasir atau Haji Rasyid Bancin. Situasi dan kondisi ini yang mulai menjadi bincangan ringan berbagai pihak.

Masalahnya, sosok calon wakil wali kota sebagai pasangan sangat menentukan. Terbaca semacam keoptimisan, masyarakat semakin faham menentukan pilihan meskipun ‘praktek’ money politic bagian yang tak terpisahkan.

Masalah lain, mungkinkah masyarakat bisa tercerahkan soal ada ‘cacat’ ditinggalkan Bisa dan ke depan persoalan seperti itu tak lagi terulang. Adakah sosok yang mau dan mampu membela kepentingan umum, yang lebih besar dibanding kepentingan pribadi atau golongan.

Persoalan lain era Bisa, tinggi defisit anggaran daerah di Bumi Sada Kata Kota Subulussalam, terlepas dari alasan Covid-19 dan lainnya, dinilai sejumlah pihak, Bisa gagal memenej keuangan daerah.

Penilaian awam, kalaupun banyak pembiayaan lain-lain, sangat tidak pantas kalau hak-hak para tenaga honorarium yang menjadi sasaran. Alasannya, pembayaran honorarium sudah lebih dahulu dianggarkan dan nyaris tidak beda dengan para ASN atau karyawan perusahaan yang gaji rutin mereka dibayar setiap bulan karena penganggaran di depan.

Mirisnya, ada penilaian negatif sejumlah pihak jika honor yang seharusnya dibayarkan kepada yang berhak justru digunakan untuk kepentingan lain.

Pertanyaan mendasar, apakah dengan memimpin satu daerah akan mau dan mampu untuk memenuhi atau membayarkan hak-hak dasar pekerja atau abaikan hak pekerja demi kepentingan kelompok atau golongan.

Sebuah harapan untuk kandidat Wali Kota Subulussalam ke depan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.