Bisakah Perang Ukraina Berubah Manjadi Perang Dunia-III?

Sumber ilustrasi: Memri.Org
Bagikan:

Burhan El Anshary
Analis Politik Kawasan dan Pernah Bekerja Pada Kedubes RI di Tehran, Iran

Ketika Rusia memutuskan mengambil langkah tegas mengamankan “halaman depan” negaranya dengan melakukan penyerangan skala penuh ke Ukraina pada Februari lalu, Sebenarnya Amerika Serikat tidak menyangka Rusia berani bertindak senekat itu.

Betapa tidak, aksi Rusia tersebut langsung dijawab oleh Barat dengan penetapan sanksi-sanksi yang mengancam ekonomi Rusia. Walaupun, sebelumnya pun Barat telah telah terbiasa menjatuhkan sanksi ekonomi atas Rusia. Benar saja, sejumlah media mencatat Rusia pecahkan rekor negara penerima sanksi terbanyak di dunia setelah Iran pasca serangan itu.

Selama ini, Rusia hanya mengandalkan peran proxy atau keterlibatan yang terbatas, di wilayah-wilayah sengketa yang melibatkan kepentingan Rusia sendiri. Namun kali ini, berbeda. Ukraina bertekad bergabung dengan NATO (North Atlantic Treaty Organization). Sebuah organisasi yang sejak awal didirikan memang bertujuan untuk mempertahankan dominasi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Rusia, sebelumnya bernama Uni Soviet. Wajar, kali ini Rusia tidak lagi dapat menahan diri.

NATO tidak lagi hanya mempertahankan dominasi Amerika Serikat, bahkan melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah yang dahulu merupakan Blok Timur pasca perang dunia II. Sejak Pakta Warsawa, aliansi pertahanan milik Rusia, dibubarkan pada 1991, satu persatu negara anggotanya berhasil digalang untuk bergabung dengan NATO. Seperti Ceko, Polandia, Hungaria, kemudian Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, Slovakia, dan Slovenia. Terakhir Ukraina, mengajukan diri menjadi bagian dari NATO.

Ukraina adalah garis merah bagi Rusia. Pengajuan diri Ukraina menjadi anggota NATO dipandang sebagai ancaman bagi Rusia. Jika tidak ada respon keras dari pihak Rusia, sama saja dengan membiarkan musuh bersiap menghancurkan negaranya tanpa melakukan apapun.

Baca Juga:  Jalan Menuju Empat Instansi di Belakang Gedung DPRK Subulussalam Rusak Parah

Permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Ukraina saat itu sederhana, hentikan niat bergabung dengan NATO. Lalu, jadi negara netral saja. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Sejalan dengan hal itu, Amerika Serikat dan sekutu yang tidak menduga aksi Rusia tersebut semula menahan diri untuk membantu Ukraina. Bersikap wait and see. Mencukupkan diri dengan menetapkan sanksi maksimal dan membentuk opini publik internasional untuk mengutuk tindakan Rusia sebagai invasi sembari melihat keruntuhan Rusia dengan sendirinya. Beban ekonomi akibat perang bisa meruntuhkan Rusia, seperti keruntuhan Uni Soviet akibat beban Perang Afghanistan.

Dr. Dino Patti Djalal dalam sebuah tanggapan mengatakan biaya yang harus dikeluarkan Rusia dalam perang Ukraina pada hari-hari pertama sangatlah besar. Dalam seminggu pertama, Rusia telah menggelontorkan dana hingga 7 milyar dolar dan memperkirakan kedepan dapat mencapai 20 milyar dolar per hari. Namun waktu terus berjalan, ternyata kondisi di lapangan tidak seimbang, Rusia masih terlalu kuat.

Joe Biden pun akhirnya meminta anggaran dari kongres untuk keperluan logistik dan peralatan militer yang diperkirakan mencapai 33 miliar dolar (sekitar 500 triliun rupiah lebih). Tempo.co mencatat sejak awal pemerintahan Presiden Joe Biden hingga Oktober 2022, total bantuan militer Amerika Serikat yang telah diperuntukkan untuk Ukraina berjumlah 18,3 miliar dolar atau sekitar Rp 282,2 triliun rupiah dimana termasuk di dalamnya bantuan tunai, perobatan, makanan, peralatan militer teknologi tinggi, persenjataan hingga amunisi.

Hal itu belum termasuk bantuan lainnya dari negara sekutu Amerika seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Kanada. Juga dari Negara-negara Skandinavia, Belgia, Portugal, Yunani, Romania, Spanyol, Ceko, dan Kroasia.
Semua bantuan tersebut mengalir ke Ukraina melalui perbatasan. Cina menyebutnya sebagai usaha perluasan pengaruh NATO ke wilayah Timur tanpa memperhatikan kekhawatiran negara lain. Wakil Menlu China Hua Chunying dalam sebuah wawancara seperti dikutip detik.com juga menilai bantuan ini sebagai pemicu perang yang lebih luas di Kawasan. Dapat menjadi cikal bakal perang dunia-III.

Baca Juga:  Gudang Kardus di Gampong Kota Fajar Dilalap Api

Amerika Serikat beranggapan usaha menjatuhkan Rusia akan lebih mudah. Jika dibandingkan dengan perang melawan Cina yang telah menguasai hampir segala sektor ekonomi. Hal ini ditambah lagi dengan kondisi ekonomi Rusia yang telah melemah karena 8 tahun sanksi ekonomi oleh Barat sejak tahun 2014.

Jika Amerika menang walau tanpa terlibat langsung, hal ini akan membuat Amerika Serikat semakin kuat. Tugas berikutnya dapat dilakukan lebih mudah, mengalahkan Cina.

8 bulan pasca serangan Rusia ke Ukraina, harapan AS tidak membuahkan hasil. Perang ini perlahan-lahan mulai meluas cakupannya dan menjelma menjadi perang global. Perluasan ini terjadi saat negara-negara yang dahulu pernah berada dalam tekanan Amerika, khususnya di Kawasan Timur Tengah mulai memihak kepada Rusia.
Bukan cuma Iran, yang disebut-sebut mensuplai teknologi drone Kamikaze kepada Rusia, tetapi bahkan Arab Saudi, sebagai teman baik Amerika Serikat kini mulai berpihak kepada Rusia.

Negara-negara yang tergabung dalam OPEC+ yaitu Aljazair, Angola, Kongo, Ekuador, Guinea Khatulistiwa, Gabon, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela serta Azerbaijan, Bahrain, Brunei, Kazakhstan, Malaysia, Meksiko, Oman, Rusia, Sudan Selatan, dan Sudan pada tanggal 6 Oktober sepakat untuk mengurangi produksi minyak sebesar dua juta barel per hari adalah bentuk dukungan luas kepada Rusia.
Keputusan kartel minyak dunia itu dianggap akan memicu krisis energi di Amerika ditengah inflasi yang mendekati level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Padahal Amerika punya kebutuhan dana besar untuk mendukung pihak Ukraina.

Baca Juga:  Jalin Keakraban, Babinsa Koramil 06/Teluk Dalam Komsos Dengan Para Pemuda di Desa Binaan

Jelas saja Amerika Serikat sangat kecewa, keputusan itu ditetapkan saat Amerika berkali-kali meminta supaya produksi minyak justru digenjot untuk menurunkan harganya, namun keputusan yang diambil justru kebalikannya.

Hal ini menimbulkan kecurigaan Amerika terhadap Arab Saudi sebagai teman lama. Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam, hingga sepupu Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Saud Al Shaalan menyatakan siap berjihad melawan Amerika Serikat. Al Shaalan mengatakan “Setiap warga Saudi adalah projek Jihad bagi siapapun yang berfikir bisa mengancam kami”.

Perlawanan Arab Saudi membangkitkan kembali kenangan pahit Amerika Serikat pada tahun 1973 saat OPEC menjadikan produksi minyak sebagai senjata menekan Amerika Serikat yang saat itu membantu Israel dalam perang Yom Kippur. Mengakibatkan krisis besar energi di Amerika dan Eropa yang memaksa Israel harus mempertimbangkan untuk menarik pasukannya dari Suriah.

Tak heran jika dalam perkembangan terakhir, Amerika Serikat telah mempersiapkan pasukan khusus lintas udara ke-101 untuk bergabung bersama NATO sebagai koalisi militer yang akan masuk ke Ukraina. Amerika berharap segera menyelesaikan perang ini sebelum terjerembab lebih dalam seperti yang mereka alami di Afghanistan.
Perang Ukraina secara pasti akan bergerak menjadi perang semesta alam, bermakna perang dunia-III sudah di depan mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.