Dayah Darussalam “Kebun” Orang-orang Memperdalam Ilmu Agama

Pintu utama Dayah/Pasantren Darussalam, Blang Poroh, Labuhanhaji Barat, Aceh Selatan, Provinsi Aceh. ANTARAN/Sudirman Hamid.
Bagikan:

Dayah Darussalam Labuhan haji, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh peninggalan ulama kharismatik Syekh Abuya H Muda Waly Al Khalidy. Keharumannya terpancar hingga Asia Tenggara

Jurnalis : Sudirman Hamid

ANTARAN|TAPAKTUAN – Pesantren/Dayah Darussalam didirikan tahun 1940 sebagai pusat pendidikan Agama Islam mazhab Syafi’i dan faham Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut telah melahirkan ribuan ulama terkemuka di Indonesia hingga Asia Tenggara. Sampai saat ini tidak pernah sepi dari alunan zikir dan gema pengajian ribuan santri.

Syekh Abuya H Muda Waly Al Khalidy  telah wafat pada tanggal 28 Maret 1961, namanya tetap harum dan melekat seantero jagat. Alur kepemimpinan tetap utuh sepanjang zaman di bawah pengendalian dan pengelolaan putra-putra serta para cucunya.

Kenangan dan perjuangan yang ditabuh ulama kharismatik Aceh Syekh Abuya H Muda Waly Al Khalidy ini tidak akan habis-habisnya dikenang dan menggurat perhatian dunia. Ia dinilai sebagai pelopor pendidikan Aceh d isektor ilmu agama yang diwariskan kepada jutaan generasi.

Dayah Darussalam berjuluk “Fi Manbail ilmi wal Hikam” Madrasah tertinggi diberi titel “Bustanul Muhaqiqiin” (Kebun orang-orang yang memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan agama).

Rentetan sejarah, Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy lahir di Gampong Blang Poroh, Labuhan haji tahun 1917. Beliau merupakan putra seorang pendakwah dan guru agama yang berasal dari Batusangkar, Sumatera Barat Syekh H Muhammad Salim.

Semasa kecil, Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy menekuni pendidikan di sekolah Volks Schooll yang didirikan Belanda.

Usai menamatkan pendidikan di Volks School dilanjutkan ke sekolah Vervolg School dan belajar ilmu agama kepada ayahanda beliau sendiri Syekh H Muhammad Salim.

Hasrat belajar ditunjang kegigihan dan kecerdasan membuat Maulana Syekh H Muda Waly Al Khalidy masuk Pesantren Jam’iyyah Al Khairiyyah Labuhanhaji  pimpinan Teungku Muhammad Ali yang lebih dikenal masyarakat luas Teungku Lampisang, Aceh Besar.

Baca Juga:  Bertemu Khusus Dengan Anggota DPRA, Ini Yang Disampaikan Tokoh Masyarakat Simeulue

Dikutip dalam buku “Ayah Kami” Syekhul Islam Abuya Muhammad Waly Al Khalidy Bapak Pendidikan Aceh karangan Prof. DR H Muhibuddin Waly di sebutkan, empat tahun belajar di pesantren Jami’iyyah Al Khairiyyah, Syekh H Abuya Muda Wali kembali melanjutkan pendidikan agama di Ponpes Bustanul Huda Blangpidie pimpinan Syekh Mahmud Aceh Besar.

Berguru kepada Syekh Mahmud Aceh Besar, Syekh H Abuya Muda Waly mempelajari kitab-kitab masyhur mazhab Syafi’i seperti I’anatut Thalibin, Tahrir dan Mahalli dalam ilmu Fiqih.

Sedangkan dalam ilmu bahasa Arab didalami kitab Alfiyah dan Ibnu Aqil serta ilmu tauhid lainnya. Seterusnya Abuya H Muda Waly terus belajar ilmu agama ke berbagai pesantren di Aceh hingga ke Sumatera Barat.

Spirit menekuni ilmu agama terus menyala dan mengalir di sanubari, tidak hanya belajar di Dayah-dayah di Kutaraja (Banda Aceh sekarang), beliau juga menempuh pendidikan hingga ke Noral Islam di Padang, Sumatera Barat.

Perjuangan, ketabahan dan ketekunan yang dijalani membuahkan hasil yang berguna dunia dan akhirat. Sebelum mewariskan ilmu yang dimiliki kepada para muridnya dari berbagai pelosok nusantara, Syekh  Abuya H Muda Waly Al Khalidy terlebih dahulu mendalami ilmu agama kepada sejumlah ulama tangguh.

Ribuan Jamaah berzikir dan beribadah di Dayah Darusslam. ANTARAN/Istimewa

Berikut para ulama sebagai guru Syekh Abuya H Muda Waly Al Khalidy, diantaranya; Syekh H. Muhammad Salim Aceh Selatan (ayah kandung sendiri), Syekh Muhammad Ali Lampisang Aceh Besar, Syekh Mahmud Blang Pidie, Syekh H Hasan Krueng Kale Aceh Besar, Syekh Hasbullah Indrapuri Aceh Besar, Syekh Abdul Ghani Al Khalidy Batu Basurek Bangkinang Sumatera Barat serta kepada sejumlah ulama-ulama lain.

Baca Juga:  Kontingen Penas 16 Petani Nelayan Aceh Selatan Dilepaskan ke Padang

Sekira tahun 1939 dengan armada Kapal Laut, Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy berlayar untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sekembali dari tanah suci, putera pasangan Syekh H. Muhammad Salim dengan Janadat Binti Keuchik Nyak Ujud ini mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Labuhan Haji.

Mulai saat itu nama dan sosok beliau menyear ke seluruh penjuru Aceh, nasional hingga ke negara-negara jiran. Dengan susah payah disertai dukungan berbagai elemen, Tahun 1940 didirikan Dayah Darussalam.

Perkembangan Pesantren baru itu cepat pesat, ditandai hadirnya santri-santri dari berbagai daerah, termasuk dari Malaysia dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Dayah Darussalam menjadi pusat Pendidikan agama dan dijuluki Fi Manbail ilmi wal Hikam bertitel “Bustanul Muhaqiqiin”. Melalui Mazhab Syafi’i dan faham Ahlussunnah wal Jama`ah dalam i’tiqad serta ilmu Tasawuf Tarikat Al-Khalidi An-Naqsyabandi, Abuya H Muda Waly telah mendidik puluhan ribu murid dan melahirkan ulama-ulama besar.

Almarhum Syekh Abuya H Muda Waly Al Khalidy memiliki empat orang istri setia yaitu; Ummi Padang (Sumatera Barat), Ummi Paoh (Labuhan haji), Ummi Manggeng (Abdya) dan Ummi Teunom (Aceh Jaya).

Dari pernikahan yang sah, beliau dikarunia delapan orang putra, yakni Abuya Tgk H Muhibbuddin Waly (Alm), Abuya Tgk H Mawardi Waly, Abuya Tgk H Harun Rachid Waly (alm), Syekh H Abuya Jamaluddin Waly (alm), Syekh Abuya Tgk H Amran Waly, Abuya Tgk H M Nasir Waly (alm), Abuya Tgk H Ruslan Waly (alm) dan Abuya Tgk H Syekh Abdurrauf Waly.

Dikutip dari berbagai sumber dan tulisan sejarah,  mulai perjalanan hidup hingga menghadap sang Khalik, banyak karomah (keunikan) yang pernah terjadi, baik sejak memulai membangun dayah hingga akhir hayatnya.

Baca Juga:  Dandim Asel Hadiri Apel Kesiapsiagaan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla 

“Pada saat proses pemakaman Abuya H Muda Waly dilaksanakan, muncul cahaya keumala (seberkas sinar putih bercahaya). Cahaya terang itu membentang ke langit. Subhanallah, semua ini terjadi atas kehendak dan kemuliaan Allah SWT. Banyak keunikan lain semasa beliau hidup yang tidak mungkin dikisahkan secara detail,” diceritakan Teungku Khalifah Abu Bakar dan Teungku Muhammad Anas alumni Dayah Darussalam yang dipapar pada sebuah buku.

Catatan dirangkum antaran, selain putra sendiri, Syekh Abuya H Muda Wali telah mendidik kader-kader Islam Syafi’iyah menjadi guru-guru agama di pelosok-pelosok Aceh, seperti; Tengku Syeikh Adnan Mahmud Bakongan (Aceh Selatan), Tengku Syeikh Qamaruddin Teunom (Aceh Jaya) Tengku Syeikh ‘Utsman Al-Fauzi Cot Iri (Aceh Besar), Tuanku Idrus Batu Basurek Bangkinang (Sumatera Barat), Tuanku Labai Sati Malalo Padang Panjang (Sumatera Barat).

Masih banyak ulama-ulama lain yang mengenyam Pendidikan dan tidak sempat disebut secara menyeluruh. Hingga tahun 2024, Dayah Darussalam masih mendidik ribuan santri di semua jenjang. Dayah Darussalam mendidik ilmu agama tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI)Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), dari kelas I sampai IX.

“Menghindari lonjakan santri dengan mempertimpangkan daya tampang sesuai fasilitas, Dayah Darussalam terpaksa memberlaku pembatasan penerimaan santri baru,” papar sekretaris Dayah Darussalam Abi Hidayat Muhibuddin Waly beberapa waktu lalu.

Bulan Ramadhan 1445 hijriah/2024 ini, ribuan jamaah memadati Dayah untuk menunaikan ibadah Suluk. Mudah-mudahan keberadaan Dayah Darussalam mendapat keberkahan dari Allah SWT sebagai Kebun orang-orang memperdalam ilmu agama diatas lahan seluas lebih kurang 5,5 hektare.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.