Dejavu

Gambar: pixabay/tama66
Bagikan:

Lelaki itu mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa matanya sedang kelelahan karena seharian berada di depan komputer.

Oleh : Monte Cristo

Adalah seorang laki-laki berkemeja sedang duduk di salah satu kursi peron kereta api menunggu giliran jadwal penjemputan sambil membaca sebuah majalah tua yang ditemukannya tergeletak di salah satu kursi. Jam di tangannya menunjukkan pukul 11 malam. Sementara peron tampak sepi, pria itu menyibukkan diri dengan membaca beberapa artikel yang ada di dalam majalah.

Sesaat kemudian, kereta api yang ditunggu-tunggu pun tiba. Lelaki itu segera memasuki gerbong, duduk di kursi deret terakhir, kendati sebenarnya ia bisa memilih kursi manasuka, karena gerbong sama sekali tidak berpenghuni. Ia tidak merasa aneh sedikit pun dengan suasana di gerbong tersebut, padahal biasanya tetap ada beberapa penumpang pada jam malam seperti itu.

Padahal ini hari Selasa, pikir lelaki itu awalnya. Tetapi, ia tidak lagi mengambil pusing soal itu, dan kembali larut, membolak-balik lembar majalah yang ada di tangannya. Beberapa saat kemudian, sang kondektur muncul di ujung pintu. Lelaki itu menganggukkan kepala, yang juga disambut anggukan yang sama oleh sang kondektur.

“Malam yang sepi, bukan?” ucap sang kondektur.

“—ya, malam yang sepi,” sambut lelaki itu.

Lelaki itu kembali membaca. Kesunyian yang hadir di gerbong tersebut seakan tenggelam dalam suara mesin kereta api yang terus bergerak lurus dalam kecepatan sedang.

Gerakan kereta mulai terasa melambat, ia pun bersiap untuk turun. Ia sempat melihat sang kondektur berdiri melambaikan tangan kepadanya dengan sebuah senyuman dari balik salah satu gerbong.

Lelaki itu berjalan menuju ke salah satu kursi yang disediakan di peron karena ia mesti menunggu satu penjemputan kereta api lagi sebelum tiba ke distrik di mana ia tinggal. Setelah duduk beberapa saat, ia mulai merasa bosan, dan butuh sesuatu untuk mengisi rasa bosannya.

Lelaki itu ingat bahwa ia telah meninggalkan majalah yang ditemukan di peron sebelumnya dalam kereta api yang baru saja dituruninya, dan ia segera merasa beruntung setelah melihat sebuah majalah tergeletak di salah satu kursi tidak jauh dari tempatnya duduk.

Baca Juga:  Sapa Warga Dengan Senyum, Pantarlih Desa Mata Ie Abdya Pacu Proses Coklit

Dalam hati ia berkata, Oh Tuhan, betapa baiknya orang yang sengaja meninggalkan sebuah majalah untuk dibaca orang lain, terlebih pada waktu yang begitu membosankan seperti sekarang.

Ketika ia hendak memungut majalah tersebut, ia baru sadar bahwa kover dan isinya sama persis dengan majalah yang ia ambil di peron waktu itu. Ah, aku tidak peduli, pikirnya.

Ia curiga, kemungkinan besar majalah tersebut sengaja disediakan oleh pihak stasiun untuk dibaca para calon penumpang. Peduli amat, yang penting saat ini ia tidak akan merasa bosan lagi karena ada sesuatu yang bisa membuatnya sibuk sebelum kereta api yang akan menjemputnya tiba.

Baru saja ia mulai membaca, samar-samar suara kereta api terdengar mendekat seperti roda mesin jahit tua. Lelaki itu pun bersiap bangkit dari tempat duduknya. Ia turut membawa serta majalah tadi bersamanya. Sesampai di dalam salah satu gerbong, ia pun memilih kursi di deret yang hampir tidak berbeda dengan kursi yang ia duduki di kereta api sebelumnya.

Ia menemukan bahwa suasana di gerbong tersebut juga sepi dari penumpang, tetapi ia tidak ambil peduli, cuma menyibukkan diri dengan membaca majalah yang tengah dipegangnya sampai ia mendengar suara langkah sepatu sang kondektur yang sedang melakukan pemeriksaan penumpang.

Sang kondektur berhenti hanya sampai di pintu gerbong. Lalu, sambil menganggukkan kapala ia pun berkata, “malam yang sepi, bukan?”

Awalnya lelaki itu sempat merasa aneh tetapi ia segera menyambut ucapan kondektur itu dengan kalimat yang sama pula, “—ya, malam yang sepi”.

Pikiran lelaki itu sebenarnya masih terganjal oleh kalimat tersebut, tetapi ia segera menepis semua hal yang bermain di dalam kepalanya, sampai akhirnya gerakan kereta terasa melambat. Ia pun menghela napas lega. Malam yang cukup panjang, pikirnya. Ia akhirnya sampai.

Ketika ia melangkah turun, sang kondektur sempat melambai kepadanya dari salah gerbong dengan senyuman yang lebar melengkung seperti bulan sabit serta kedua ujung bibir yang hampir mencapai kantung mata. Senyuman itu, jika diingat-ingat malah terasa semakin menakutkan namun lelaki itu segera menampik semua hal yang mulai bermain di dalam kepalanya, lalu segera melangkah menuju ke ujung peron, mencari pintu utama, agar ia bisa menemukan halte bus yang akan ditumpanginya nanti. Langkahnya sengaja dipercepat.

Baca Juga:  1.918 Peserta Dinyatakan Lulus Seleksi ADM Rekrutmen PPS KIP Abdya

Sekilas, matanya menangkap kursi yang ada di sudut. Keningnya berkerut. Di sana terdapat sebuah majalah tergeletak dengan posisi yang sama persis dengan majalah yang ditinggalkan di peron kereta sebelumnya. Semuanya mulai terasa aneh. Kursi itu juga terlihat sama persis seperti kursi yang ada di peron sebelumnya. Untuk meyakinkan apa yang dilihatnya barusan, ia pun segera berbalik, menuju ke sana, berharap apa dilihatnya salah.

Lelaki itu mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa matanya sedang kelelahan karena seharian berada di depan komputer. Ia bekerja di sebuah agensi penjualan sebagai petugas pengentri data. Tetapi, semakin mendekat, rasa-rasanya ia mulai yakin apa yang dilihatnya tidak meleset. Itu persis kursi yang sama. Kursi kayu dengan kedua siku yang telah dimakan oleh rayap, serta bantalan dari busa yang dilapisi kain beludru merah marun, dengan dua buah lubang di tengah.

Ia bahkan melihat brosur yang sama tertempel di tiang sebelah kanan kursi tersebut. Gila, pikirnya. Tanpa menunggu waktu lagi, ia memutuskan setengah berlari ke kursi di mana majalah tersebut berada, dan lihat apa yang ditemukan lelaki itu? Di tangannya kini terdapat sebuah majalah tua yang sama. Kover yang sama, serta isi lembaran yang sama. Ia bahkan menemukan satu halaman dilipat, persis seperti lipatan halaman pada majalah yang ia temukan sebelumnya.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Lelaki itu mulai melihat ke sekeliling, namun tidak ada satu pun orang yang bisa ia mintai petunjuk karena peron tersebut memang tidak berpenghuni sama sekali, sama seperti dua peron sebelumnya.

Baca Juga:  Cut Syazalisma Lantik Ilham Sahputra sebagai Pj Sekda Aceh Selatan

Saat sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara kereta api mendekat. Ketika kereta berada tepat di hadapannya dengan pintu gerbong yang terbuka, ia berpikir, jika benar ia sedang berada di peron yang sama, artinya ia masih jauh dari rumah, maka tanpa berpikir panjang, ia pun segera masuk ke dalam kereta api, tetapi tetap tidak lupa meraih majalah yang tergeletak di kursi.

Sesampai di dalam, ia mulai berpikir, apakah ia harus memilih barisan kursi yang lain, tetapi rasanya tidak masuk akal untuk memercayai segala sesuatu yang tengah berlangsung ini. Lelaki itu pun akhirnya memilih kursi yang sama. Kali ini ia tidak akan membaca majalah tersebut, hanya menggenggamnya. Ia memutuskan untuk bersiap-siap, karena ia yakin bahwa sang kondektur itu akan segera muncul dan berdiri di sana, di pintu yang menyatukan antara kedua gerbong, mengangguk lalu mengucapkan kalimat bahwa yang sama. Pasti. Lelaki itu sangat yakin.

Sayangnya, sang kondektur tidak datang-datang juga, tetapi ia masih menunggu sampai akhirnya kereta api bergerak agak melambat. Lelaki itu berpikir bahwa sebenarnya yang terjadi barusan adalah mimpi. Ia pasti tertidur selama kereta api berjalan.

Apa yang dipikirkannya ternyata benar, ia kini berada di peron yang tepat. Ia melangkah lurus keluar melalui pintu utama untuk mencapai halte bus yang akan ia tumpangi sebelum sampai ke rumah, tetapi sebelum melangkah keluar, ia sempat meninggalkan majalah yang dipegangnya di salah satu kursi yang ada di peron.

Ketika lelaki itu telah menghilang di ujung sana, seseorang terlihat duduk di salah satu kursi peron. Pria berkemeja itu agaknya baru saja pulang dari tempat kerja. Jam di tangannya menunjukkan pukul 11 malam. Karena ia mulai merasa bosan, sambil menunggu kereta api datang menjemput, hatinya tergerak untuk mengambil sebuah majalah tua yang tergeletak di salah satu kursi. Sesaat kemudian, samar-samar suara kereta api terdengar mendekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.