Desas Desus Membisniskan Pengungsi Rohingya

Sumber Ilustrasi: Antara Foto/Rahmad
Bagikan:

Kolumnis : Affan Ramli

Dua minggu terakhir, ada kehebohan baru terkait pengungsi Rohingya di Aceh. Satu kapal pengungsi yang mendarat di Muara Baru, Aceh Utara mulai terlontang lantung, setelah dipindahkan paksa, sejenis pengusiran, oleh warga lokal.

Pemerintah kabupaten setempat tidak punya tempat dan dana penampungan. Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam) meminta izin Dirjen Imigrasi untuk menggunakan bekas kantor imigrasi sebagai lokasi penampungan sementara. Tetapi, Imigrasi lepas tangan, sambil menuduh UNHCR dan IOM tak bertanggungjawab.

Awalnya, Aceh punya cerita menarik. Menerima dan mengurus pengungsi Rohingya dengan cara yang paling manusiawi. Dalam catatan Kontras Aceh, Rohingya sudah mengungsi ke Aceh sebanyak 23 kali. Yayasan Geutanyoe punya hitungan lebih banyak, Rohingya yang mendarat di Muara Batu itu merupakan gelombang pengungsi luar negeri ke-35 yang mencapai Aceh sejak 2009.

Aceh, sekian lama dipandang sebagai model dan rujukan tatakelola pengungsi luar negeri untuk skala Kawasan Asia Tenggara. Dimana pemerintah, LSM, badan-badan PBB, masyarakat adat, dan publik luas aktif bersama-sama mengurus pengungsi Rohingya dengan cara-cara paling beradab.

Tapi sekarang, tampak berbeda. Pemerintah kabupaten acuh, karena regulasi melarang penggunaan APBK untuk penanganan pengungsi luar negeri. Pemerintah pusat tak ingin repot-repot, berharap semuanya diurus PBB. Dalam hal ini, diwakili UNHCR dan IOM.

Masyarakat mulai gerah dan lelah. Pengungsi Rohingya kerab datang, membawa dampak-dampak buruk pada mereka. Empat nelayan telah dipidanakan karena terjebak dalam skema yang tidak mereka ketahui tentang tatacara yang benar menyelamatkan pengungsi luar negeri.

Baca Juga:  Rapai di Mesjid Raya, Memangnya Kenapa?

Setiap pengungsi mendarat di kampung-kampung Aceh, bermakna masyarakat sekitarnya terpapar risiko terseret dalam permainan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Terlebih Rohingya, seperti penilaian sebagian orang, telah dipandang setengah manusia dan setengah komoditi, barang yang dibisniskan. Kerentanan mereka, telah dimanfaatkan dengan baik dengan cara tak manusiawi oleh kekuatan mata-rantai agen pasar gelap penyelundupan dan perdagangan manusia.

Bersama seorang teman, Datok Sarboini, saya pernah meneliti jaringan agen pasar gelap penyelundupan dan perdagangan manusia Rohingya. Setidaknya, terdapat tiga jaringan agen bekerja pada kasus Rohingya yang bergerak menempuh rute Aceh- Medan- Malaysia.

Jenis pertama, kami menyebutnya jaringan agen utama skala kawasan Asia Tenggara. Jaringan ini bertanggungjawab menyelundupkan orang-orang Rohingya, sejak bergerak dari titik pengungsian Cox’s Bazar di Bangladesh hingga sampai di Malaysia, sebagai titik tujuan utama perjalanan mereka. Sepanjang rute perjalanan itu, setidaknya orang-orang Rohingya harus melewati lebih 10 tahapan perjalanan untuk mencapai titik akhir.

Pertama, perjalanan dari kemp pengungsian Cox’s Bazar ke titik kapal (perahu) yang sudah disiapkan. Kedua, dari perahu di Bangladesh melakukan perjalanan menuju pantai Aceh. Ke tiga, dari Aceh ke Medan. Dalam tahapan ini, para pengungsi dapat memilih dua pilihan. Ikut perjalanan resmi bersama UNHCR dan IOM. Bisa juga, pergi dalam gelap sembunyi-sembunyi bersama agen penyelundup.

Ke empat, perjalanan dari titik akomodasi Medan ke titik luar akomodasi (pasar dan titik lainnya yang sudah ditentukan), ke lima, perjalanan dari titik luar akomodasi ke rumah penampungan sementara yang disediakan oleh agen, ke enam, dari rumah penampungan pertama ke rumah penampungan sementara yang lain untuk alasan keamanan, ke tujuh, dari rumah penampungan atau persembunyian terakhir ke pelabuhan atau titik pelepasan lainnya.

Baca Juga:  HIRAETH

Ke delapan, dari titik pelepasan pantai Sumatera melakukan perjalanan laut ke Malaysia, ke sembilan, dari titik pendaratan ke pelabuhan utama, ke sepuluh, dari pelabuhan utama ke tempat persembunyian sementara di Malaysia, dan ke sebelas, dari tempat persembunyian ke titik jemputan keluarga mereka yang sudah terlebih dahulu mengungsi di Malaysia.

Selain berurusan dengan agen utama skala kawasan, para pengungsi Rohingya, dari anak-anak, perempuan-perempuan mereka harus berurusan dengan dua jenis agen lainnya. Jenis agen lokal ini dibagi dua, agen yang sembunyi-sembunyi mengeluarkan orang-orang Rohingya dari kemp pengungsian (akomodasi) dan agen jasa pengangkutan lokal Medan.

Jenis agen terakhir ini bertanggungjawab membawa pengungsi Rohingya dari tahapan ke empat ke tahapan selanjutnya hingga pengungsi mencapai pantai Malaysia. Begitu pengungsi mencapai titik Malaysia, maka jaringan agen utama skala Kawasan mengambil alih kembali.

Perempuan dan anak-anak Rohingya terpapar risiko mengerikan selama melawati 10 atau 11 tahapan perjalanan itu. Dari pelecehan seksual, kekerasan, pemerkosaan, dilacurkan, hingga bentuk-bentuk lain kejahatan terhadap manusia.

Belum lagi mereka harus membayar mahal, jika ditotalkan mencapai ratusan juta rupiah, pada semua jaringan agen yang terlibat. Seringkali, mereka membayar dengan berhutang sana sini pada keluarga besar, kerabat sekampung, hingga ke toke-toke. Dengan perjanjian, mereka harus segera membayar lunas hutang-hutang itu dengan bekerja keras banting tulang setelah tiba di Malaysia.

Baca Juga:  Sebuah Pertarungan

Dalam kesedihan itu, hati yang berdarah-darah, pengalaman menyakitkan di perjalanan, kehilangan martabat dan harga diri, dijadikan barang dagangan sana sini, mereka akhirnya sampai di Aceh. Mereka, selama ini masih mampu tersenyum, sedikit tersembuhkan lukanya dengan uluran tangan penuh ikhlas para nelayan, Panglima Laot, dan masyarakat Aceh yang penuh empati dan kasih sayang.

Sebagai masyarakat yang telah melalui pengalaman perang terpanjang, bencana terbesar sepanjang sejarah manusia modern, dan menikmati kasih sayang warga dunia yang melimpah, tidak lah berlebihan jika Aceh merasa paling mengerti dan paling bisa merasakan sakit pedihnya orang-orang Rohingya.

Tapi kini, mengapa pembelaan Aceh terhadap anak-anak, perempuan, dan orang-orang lemah tertindas Rohingya begitu cepat berakhir. Mengapa kita buru-buru ingin mengambil senyuman dari wajah anak-anak Rohingya dan menonton tumpahan air mata mengalir dari hati-hati mereka yang terluka amat sangat dalam.

Mengapa kita terlalu cepat berpaling dari menatap mereka, saat tidak ada orang lain yang peduli pada dinginnya malam yang mereka lalui berbulan-bulan di bawah kolong langit, tanpa rumah, tanpa hangatnya selimut, dan tanpa tempat tidur. Bagaimana perasaan mereka yang terluka melalui waktu sepanjang malam di atas tanah luas hanya beralas tikar di kampung kita yang mereka sebut saudara dalam keimanan dan kemanusiaan.

Mendekatlah dan cobalah gendong bayi-bayi dan anak-anak mereka yang kelelahan setelah melalui perjalanan ribuan mil. Gendonglah mereka, sekali saja. Mungkin nurani kita dapat hidup kembali!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.