Dewan Minta Dinkes Abdya Gerak Cepat Tangani Stunting

Anggota DPRK Aceh Barat Daya, Zulkarnaini. Foto IST
Bagikan:

“Sebab kasus stunting bukanlah persoalan sepele, namun merupakan persoalan besar yang jika lamban dalam penanganannya bisa berakibat fatal serta akan meningkat jumlah penderita stunting,” sebutnya.

Jurnalis : Agus

ANTARANNEWS.COM|BLANGPIDIE – Dinas Kesehatan Aceh Barat Daya (Abdya) diminta untuk bergerak lebih cepat dalam menangani persoalan stunting yang menimpa sekitar 1.042 anak dan datanya tersebar di 13 Pukesmas dalam kabupaten setempat. Hal itu disampaikan anggota DPRK Aceh Barat Daya, Zulkarnaini kepada wartawan, Selasa (10/01/2023).

Menurutnya, angka stunting yang mencapai sekitar 1.042 anak itu bukanlah angka yang kecil dan kondisi itu dinilai sangat mengkhawatirkan jika tidak ditanggulangi dengan cepat. Dinas Kesehatan selaku instansi terkait diharapkan harus mampu menurunkan angka tersebut.

“Sebab kasus stunting bukanlah persoalan sepele, namun merupakan persoalan besar yang jika lamban dalam penanganannya bisa berakibat fatal serta akan meningkat jumlah penderita stunting,” sebutnya.

Dikatakannya, upaya pengukuhan ibu asuh terhadap 73 anak penderita stunting dengan status mendesak selama tiga bulan ke depan untuk memenuhi asupan gizi yang digagas Tim PPK Abdya patut diapresiasi. Namun upaya itu harus terus berlanjut, karena menyangkut dengan masa depan anak sebagai generasi penerus Abdya.

Baca Juga:  3 Rumah dan Satu Mobil Terbakar di Blangpidie, 11 Jiwa Terdampak

“Perlu kami tegaskan kepada instansi terkait yang menangani persoalan ini agar terus bergerak cepat dan memaksimalkan penanganan di lapangan, agar angka tersebut tidak terus bertambah. Jika perlu kedepannya, instansi terkait usulkan penambahan anggaran untuk penanganan stunting ini dan ke depan ada penambahan kasus bisa dengan maksimal ditanggulangi. Ini persoalan masa depan, perlu perhatian serius, dimana semua pihak harus bertanggungjawab,” tegas politisi PKB ini.

Ditambahkannya, persoalan stunting ini juga erat kaitannya dengan ketersediaan anggaran dan pihaknya selaku legislatif akan terus mendorong agar penanganan stunting lebih optimal dan angka tersebut bisa turun dengan cepat.

“Tapi jangan seperti orang main layangan dan lari cepat. Semua mau di depan, semua mau ikut campur disaat anggarannya ada dan banyak. Soal stunting tetap fokus saja dengan tanggungjawab penanganannya pada Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya sebagai pendukung,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 diketahui Aceh berada pada urutan ketiga secara nasional dengan prevalensi stunting sebesar 33,2 persen. Sementara itu angka stunting di Aceh masih berada di atas 30 persen atau masuk dalam 10 besar daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.

Baca Juga:  Sahuti Keluhan Warga, Dinas PUPR Aceh Tinjau Jembatan Rusak

Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Sahidal Kastri saat berada di Abdya belum lama ini menyebutkan Kabupaten Abdya berada di posisi ke-10 tingkat kabupaten/kota dengan pravelensi stunting mencapai 33,2%. Artinya, dari 100 anak di Abdya, 33 anak di antaranya mengalami stunting. Di tingkat kabupaten/kota di Aceh, kasus tertinggi stunting di Gayo Lues sebesar 42,9 %, Subulussalam 41,8 %, Bener Meriah 40,0 %, Pidie 39,3 %, Aceh Utara 38,8 %, Aceh Timur 38,2 %, Aceh Tengah 34,3 %, Aceh Tenggara 34,1 %, dan Aceh Jaya 33,7 %.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Abdya, Safliati SST Mkes terkait hal itu saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, sejauh ini upaya penanganan stunting terus dilakukan, termasuk salah satunya dengan pemberian ibu asuh bagi 73 anak penderita stunting mendesak yang digagas oleh TP PKK baru-baru ini.

Baca Juga:  NasDem Deklarasikan Pianti Mala Balon Wali Kota Subulussalam

Disebutkannya, beragam upaya yang telah dilakukan termasuk 10 intervensi spesifik untuk menurunkan stunting, yang terbagi menjadi 3 bagian. Pertama, untuk remaja putri, remaja putri diberikan tablet tambah darah (TTD), dan screening anemia atau pemeriksaan kesehatan termasuk kadar hemoglobin.

Kedua, ibu hamil harus benar-benar diperhatikan, baik pemeriksaan kehamilan, pemberian TTD dan juga memberikan makanan bagi ibu hamil berupa protein hewani. Ketiga, pada balita mencakup pemantauan tumbuh kembang, ASI eksklusif sejak lahir hingga 6 bulan, pemberian makanan tambahan protein hewani bagi baduta, tatalaksana balita dengan masalah gizi dan peningkatan cakup dan perluasan jenis imunisasi. Bahkan sosialisasi juga gencar dilakukan.

“Intinya stunting ini tanggungjawab bersama, dalam bulan ini akan ada aksi lagi yang kami lakukan untuk upaya penurunan angka stunting, seperti pemeriksaan hemoglobin kepada remaja putri yang telah diberikan tablet TTD, termasuk pada bulan Februari mendatang. Pastinya gerak cepat tetap kami lakukan dengan melibatkan sejumlah instansi terkait,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.