Di Abdya, Pipit dan Walangsangit Mulai Serang Tanaman Padi

HAMA BURUNG : Areal persawahan di Blang Paku Luah Kecamatan Susoh, Abdya dipasangi rambu-rambu pengusir hama burung menjelang masa panen tiba, Jumat (3/11/2023). ANTARAN / Agus
Bagikan:

Jurnalis : Agus

ANTARAN|BLANGPIDIE – Hama burung pipit (Taeniopygia guttata) dan walangsangit (Leptocorisa Acuta Thunberg) menyerang tanaman padi milik petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), terutama disebagian areal persawahan Kecamatan Susoh dan Blangpidie sejak beberapa hari terakhir.

Amatan wartawan Jumat (3/11/2023), hama walangsangit menyerang tanaman padi yang baru mekar di sejumlah areal persawahan di dua kecamatan dimaksud. Sementara untuk kecamatan lain masih tergolong aman dari gangguan hama tersebut, dikarenakan tanaman padi di kawasan itu masih berusia muda dan dalam proses tumbuh kembang.

Aidil salah seorang petani di areal persawahan Blang Paku Luah Kecamatan Susoh mengaku sudah beberapa kali melakukan penyemprotan pestisida untuk mengusir hama walangsangit tersebut.

Baca Juga:  Gerakan Tangan Rakyat Bumi Tuan Tapa Desak Tgk Amran Maju di Pilkada 2024

Mereka tidak menganggap sepele serangan hama itu, karena bila tidak serius ditangani akan berdampak terhadap gagalnya panen, bahkan bulir padi bisa berwarna hitam serta kualitas beras yang dihasilkan juga tidak baik.

Selain kegiatan mengusir dengan penyemprotan menggunakan pestisida, petani juga melakukan cara-cara tradisional untuk mengusir hama meresahkan tersebut. Seperti menanam potongan pelepah kelapa dan tanaman lain yang dianggap mampu mengusir hama serta rutin membuat pengasapan di areal persawahan.

Sementara hama burung pipit juga sempat membuat para petani menjadi kewalahan. Umumnya burung ini lebih suka memakan bulir padi yang baru berisi.

Tidak hanya ragam jenis burung pipit yang menyerang tanaman padi warga, burung merpati (Columbidae), burung balam atau tekukur (Spilopelia chinensis), burung manyar tempua (Ploceus manyar) juga ikut memakan bulir padi petani jelang waktu panen.

Baca Juga:  Catat Jadwalnya, Dispar Aceh Selatan Buka Lomba Desain Logo dan Tagline Pariwisata Aceh Selatan

Para petani harus menjaga areal tanaman padi sejak pagi hingga sore agar tidak dimangsa burung pipit yang jumlahnya mencapai ribuan. Bahkan petani setempat juga memasang rambu-rambu dari bahan pelastik yang diyakini bisa mengusir hama burung dari suara yang dihasilkan ketika tertiup angin.

Helmizal petani lainnya mengatakan, burung pipit yang menyerang tanaman padi harus dijaga ketat secara bergiliran melibatkan anggota keluarga. Tanaman padi yang sedang berisi tersebut harus dikawal sampai ke tengah areal sawah, karena burung pipit dalam jumlah besar itu bersembunyi dibalik daun padi sambil mengisap isi bulirnya.

Baca Juga:  Terkait Kasus SPPD Fiktif DPRK Simeulue, KoPAM Desak Kejati Aceh Segera Memproses Tersangka Baru

Petani menduga bahwa serangan hama walangsangit dan burung pipit tersebut terkait umur tanaman padi yang sangat bervariasi, sehingga membuat hama dimaksud leluasa dalam merusak dan memakan bulir padi.

Setiap kali memasuki awal mekarnya padi hingga fase pengisian bulir padi, walangsangit dan burung pipit selalu saja menjadi musuh petani, kalau tidak dirawat dan dijaga dengan baik, tentu saja akan mendatangkan kerugian bagi mereka.

“Tingkat umur padi bervariasi dari yang baru mekar hingga yang telah berisi. Hama walangsangit banyak, begitu juga hama burung pipit dan ragam jenis burung lain yang menyerang tanaman padi,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.