Farwiza Dinobatkan, Warganet Aceh Gamang

sumber: www.wikipedia.web.id
Bagikan:

For Kolumnis : Affan Ramli

Banyak orang Indonesia terpukau dengan penobatan Farwiza Farhan minggu lalu, masuk daftar Time 100 Next 2022 kategori ‘Leaders’. Majalah paling bergengsi di dunia asal AS itu memilih Farwiza karena kontribusi gerakannya melindungi ekosistem kawasan Leuser.

Di Aceh, tanggapan warganet terbelah. Para pendukung rezim formalisasi Syariat mempertanyakan keabsahan identitasnya sebagai perempuan Aceh. Pasalnya, Farwiza tak memakai jilbab. Itupun sebenarnya tidak mengapa, asal foto-fotonya yang menghiasi laman media massa dunia, nasional, dan lokal tetap mengenakan jilbab. Sekurang-kurangnya, di kepalanya dalam foto, ada selembar kerudung.

Dari sudut lain, komunitas-komunitas warganet yang rasional membanggakannya. Berharap majalah Time itu mengungkapkan sisi lain dari wajah Aceh kepada dunia. Setelah nanggroe ini keseringan diperbincangkan di komunitas internasional sebagai bahan tertawaan dengan ide-ide lucu ala abad pertengahan.

Seperti larangan duduk ngangkang perempuan yang dibonceng dengan kendaraan bermotor, larangan perempuan pakai celana panjang di ruang publik, kriminalisasi muda-mudi berpacaran di tempat sepi berduaan, memamerkan pentas-pentas cambuk di depan umum, pelarangan konser dan penggunaan alat-alat musik tertentu, juga razia jilbab perempuan.

Wiza dan foto-fotonya tak berjilbab yang bertebaran dimana-dimana, bagi saya, merupakan peristiwa hermenetis paling bersejarah di abad kegelapan Aceh saat ini. Itu lebih dari sebatas pengungkapan sisi lain wajah Aceh, juga lebih dari sekedar deklarasi perlawanan terhadap upaya negara mengendalikan tubuh perempuan atas nama agama.

Ada hikayat (narasi) baru yang hendak ditawarkan. Bahwa di Aceh, tekanan-tekanan rezim tafsir tunggal agama selama ini telah merebut hampir semua ruang hidup manusia. Itu harus diimbangi dengan membuktikan, manusia memiliki akal budi yang lebih dapat diandalkan untuk menata kehidupan lebih bebas, aman dan adil. Akal budi, harus dimenangkan atas tafsir-tafsir misoginis agama.

Baca Juga:  UPTD BLK Kota Subulussalam Gelar PBK Menjahit Dan Listrik 

Akal budi adalah kemampuan mental manusia menangkap kenyataan dengan jernih untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang harus diambil dalam kondisi tertentu dan bagaimana cara melakukannya. Akal budi, bukan agama, yang mengantarkan kesadaran kepada orang-orang yang terlibat dalam gerakan pelestarian alam Leuser, bahwa krisis ekosistem sudah di depan mata. Beberapa tindakan pengurangan risiko krisis harus segera diambil.

Akal budi biasanya dibagi dua, akal budi teoritis dan akal budi praktis. Dalam literatur mazhab Frankfurt, ditambah akal budi teknis. Ketiga jenis akal budi ini bekerja dengan cara berbeda untuk mencapai hasil yang berbeda pula.

Penyederhanaannya begini. Akal budi teoritis bekerja memahami kenyataan sekitar kehidupan manusia sebagaimana adanya kenyataan itu. Seperti mengetahui air tersusun dari H2O, pohon-pohon mengikat karbon. Pengundulan hutan menyebabkan terjadi pelepasan karbon besar-besaran ke udara, mengakibatkan perubahan iklim dan pemanasan global. Akibatnya, semua makhluk terancam krisis air dan udara yang segar. Pertanian akan banyak mengalami gagal panen atau kualitas produk menurun.

Akal budi praktis bekerja lebih dari itu, menentukan pilihan-pilihan tindakan yang harus diambil ketika manusia sedang berhadapan dengan ancaman krisis ekologis, keterancaman kekurangan sumberdaya air, dan laju perubahan iklim yang cepat. Tindakan-tindakan perlindungan, pelestarian, dan penanaman kembali diputuskan melalui kerja-kerja akal budi praktis.

Akal budi teknis menentukan bagaimana cara melakukannya. Teknologi apa yang diperlukan, bagaimana cara membuat dan menggunakan teknologi tertentu untuk kerja-kerja konservasi lingkungan.

Dalam tradisi kebudayaan Aceh, terdapat dua jenis komunitas yang fokus utamanya memperbaiki akal budi praktis secara komunal untuk tatakelola lingkungan alam dan lingkungan sosial lebih aman dan adil. Pertama, komunitas adat, dan kedua, komunitas tarikat. Komunitas adat dan komunitas tarikat memilih cara mengasah dan mengasuh akal budi praktis secara berbeda, seringkali saling melengkapi.

Baca Juga:  Pj Bupati Abdya : Memperkuat Sinergitas Penting untuk Penurunan Stunting

Komunitas tarikat melakukannya melalui perbaikan kondisi batin dan peningkatan kualitas jiwa. Mengingat, jenis tindakan-tindakan manusia lahir bergantung pada kondisi batinnya atau kualitas jiwanya, maka komunitas tarikat membuat sejumlah paket-paket training (latihan zikir) dan proses meditasi (suluk) untuk menyehatkan batin dan memperbaiki kualitas jiwa anggota komunitas mereka.

Hasilnya dahsyat. Anggota komunitas tarikat yang berhasil umumnya tidak punya kemampuan melukai, bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk di semesta. Tidak serakah dan tidak punya daya merusak alam. Konon, anggota komunitas tarikat dengan pencapaian maqam tertentu dapat melihat dan berkomunikasi dengan batin-batin tanaman, pohon, hewan, dan segala yang maujud di sekitar penghidupan manusia.

Komunitas adat di gampong, seneubok, blang, laot, uteun, krueng memilih cara kepengaturan sosial (governmentality). Menyepakati aturan-aturan bersama cara menjaga sumber-sumber air, cara mendistribusikan lahan dan air, cara menjaga hutan dan mengelola kekayaan komunal di dalamnya, cara berpenghidupan di laut, kewajiban saling menyelamatkan dan keharusan berbagi hasil. Di tambah, daftar-daftar pantangan yang tidak boleh dilakukan warga mereka.

Seringkali kader-kader komunitas tarikat yang berhasil mencapai kualitas jiwa yang damai-tenang (muthmainnah), kemudian memimpin komunitas adat. Memastikan kecerdasan akal budi dapat dilakukan bersama-sama melalui pelembagaan-pelembagaan tindakan konservasi. Campuran dari keduanya, tarikat dan adat, telah membentuk peradaban kita yang membanggakan di tingkat tapak (akar rumput).

Pada dasarnya, konsumsi teks terlalu banyak tidak cukup berguna mengasah kecerdasan akal budi praktis manusia. Termasuk teks-teks yang bersumber dari kitab undang-undang, kitab filsafat dan kitab agama. Kecerdasan akal budi praktis manusia dilatih dalam pengalaman harian, penelitian, dan gerakan pelembagaan tindakan bersama.

Baca Juga:  Berkah Sigam Tampan, Masyarakat Jaya Ucapkan Terima Kasih Kepada Dr Nurdin

Itu sebabnya, masyarakat di kampung-kampung memiliki tingkat kecerdasan akal budi praktis melampaui para penguasa ilmu tekstual dari pemuka agama dan akademisi yang tertimbun dalam gudang kitab-kitab atau buku-buku. Terlalu banyak mengkonsumsi teks-teks yang mati memacetkan penalaran.

Banyak komunitas, LSM, dan para pihak di Aceh mengabdikan diri dan hidup mereka untuk isu konservasi lingkungan di luar lingkaran gerakan Farwiza. Bahkan komunitas-komunitas lain mungkin, telah bekerja jauh lebih lama, bertindak jauh lebih banyak dengan dampak lebih berguna.

Namun, Farwiza bukan hanya kumpulan tindakan. Ia juga totalitas dari kumpulan narasi yang dibangun dari akal budi tentang konservasi itu dan seni penyajiannya yang sangat menarik ke hadapan dunia. Bukan hanya menarik perhatian dunia filantropi, kedonoran, dan gerakan sosial. Bahkan membuat terpana dunia industri, terutama industri informasi.

Dengan begitu, kemunculan Farwiza di pusat panggung majalah Time, harus dibaca sebagai pengakuan dunia pada etos moral konservasi yang tertanam dalam jiwa batin peradaban kita, itu telah dibangun ratusan tahun oleh masyarakat adat dan tarikat. Memang, kelompok-kelompok penghapal teks agama dan para pendukung formalisasi Syariat Islam bisa jadi tidak merasa diwakilkan dalam peristiwa itu. Lebih tidak diwakilkan lagi, karena Wiza melawan pasal qanun menutup aurat.

Saya berpikir, kini waktunya para pemuka agama di Aceh menyesuaikan diri. Mereka harus cepat-cepat mengasah akal budi mereka, memahami kenyataan ekosistem penghidupan lebih luas dari halaman rumah sendiri dan pekarangan mesjid. Lalu menentukan tindakan-tindakan akal budi konservasi.

Bukankah untuk terlibat dalam gerakan konservasi lingkungan atau memberi dukungan seluas-luasnya kepada para aktifis lingkungan, tidak perlu menunggu perintah kitab-kitab agama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.