For-Pas: Jangan Gegara Ayam Tidak Bertelur Berandang Padi Hendak Dibakar

Direktur For-PAS, Teuku Sukandi. ANTARAN/Dokumentasi.
Bagikan:

“Paling tidak kita bisa melihat dengan mata hati dan perasaan, betapa ikhlasnya orang bekerja keras untuk kebajikan, bukan sekedar mencari panggung,” sebut Teuku Sukandi.

Jurnalis: Sahidal Andriadi

ANTARAN l TAPAKTUAN-Setidaknya kita bisa melihat dengan mata hati dan merasakan dengan perasaan, pengorbanan dan kerja keras orang lain untuk kebajikan. Bukan malah sebaliknya, gara-gara ayam tidak bertelur berandang padi hendak dibakar.

Pernyataan bermakna ironis tersebut disampaikan, Direktur Forum-Pemerhati Aceh Selatan (For-PAS), Teuku Sukandi kepada antaran di Tapaktuan, Senin (05/2/2024) malam.

Katanya, saya heran dan turut mengurut dada, ternyata masih ada orang-orang di Aceh Selatan berjiwa kerdil dan tidak tau berterima kasih serta masih mau menjelekan pihak lain tanpa mengerti dan mengetahui akar masalah sebenarnya.

“Sepantasnya, semua upaya, pengorbanan dan kerja keras orang tidak dinafikan. Kendatipun tidak diminta dipuja dan dipuji. Jangan gara-gara sesuatu hal, kita rela menggunjing pihak lain,” ujar Teuku Sukandi.

Menurut For-PAS, sungguh mereka tidak melihat dengan mata hati bagaimana warga dari seluruh penjuru datang membantu dengan semangat keikhlasan. Mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, bahkan harta benda khusus untuk Trumon bisa bangkit kembali.

Seyogyanya kita sadar betapa indahnya perjuangan itu dibangun secara kebersamaan. Keikhlasan merupakan bagian dari ibadah. Dan hal itu sudah disemai masyarakat Aceh Selatan bersama pemerintah daerah lain hingga pusat, terlaksana atas prakarsa pemerintah daerah.

Dari hari ke hari, pada saat tanggap darurat bergulir, bisa dirunut kembali bagaimana getir dan seriusnya Penjabat (Pj) bupati Cut Sazalisma, S.STP berjibaku, beselemak lumpur mencurahkan pikiran bersama Forkopimda dan masyarakat Trumon di lokasi bencana banjir bandang.

Semua itu ditoreh, semata-mata atas dasar beban tanggung jawab dan rasa kepedulian yang tinggi kepada masyarakat, termasuk tokoh masyarakat terlibat di dalamnya, mengorbankan waktu dan beban lain.

“Mohon jangan begitu cepat dilupakan. Dikerahkan segenap kemampuan untuk mempercepat pemulihan bencana alam yang luar biasa. Demi rakyat, dia tidak mengharap penghargaan, perjuangannya tulus, ikhlas dan mulia,” ungkap Teuku Sukandi mengenang prahara banjir bandang pada 20 November 2023 lalu.

Masih melekat dalam memori kita semua, saat musibah melanda, Pj bupati rela bermalam di lokasi banjir bandang, Trumon Tengah. Bukan sekedar omong kosong, tetapi kenyataan dalam menjalani amanah Mendagri.

“Berbagai bentuk dan upaya terus diperjuangkan demi rakyat. Semua ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa kasih sayang kepada masyarakat Trumon Raya. Jangan pungkiri riwayat perjalanan yang sampai sekarang terus dirintis,” sergahnya.

Jasa para relawan serta para sukarelawan sangat berarti dalam membantu percepatan pemulihan pasca banjir bandang dan banjir luapan. Tinggi lumpur yang menggenang, bongkahan kayu dan bebatuan, mampu dibersihkan hingga normal.

“Pemerintah daerah, relawan bekerja siang malam tanpa lelah demi kemanusiaan dan normal kembali Ladang Rimba akibat kelumpuhan. Ini sebuah keniscayaan yang tidak terbantahkan, walaupun segelintir orang masih dungu menilai,” cetus Teuku Sukandi.

Sekedar mengingatkan, berdasarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 Tentang Bencana, disebutkan bahwa Bencana adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Artinya, bukan hanya tanggung jawab kabupaten/kota semata.

“Payung hukum itu menjadi renungan untuk berjuang, mari berbuat untuk mewujudkan kenyataan agar jangan sekedar pepesan kosong,” pungkas Teuku Sukandi. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.