Hentakan Barsela dan Hantu Pemekaran 

Bagikan:

Kolumnis : Affan Ramli

Dua hari lalu, 8 pemerintah daerah di kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela) duduk rembuk di Aula Rektorat Universitas Teuku Umar. Banyak gagasan cemerlang dibincangkan. Tetapi, kedengarannya tidak cukup seksi, sebelum suara-suara sumbang disisipkan. Apakah ini mengarah pada ide pemekaran?

Itu pertemuan putaran kedua, melanjutkan rembuk pertama di Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Di Aula Rapat Pendopo Bupati Abdya, kerangka kerja dasar disusun dalam 17 poin kesepakatan. Sebagai pernyataan tekad bersama, suatu keniscayaan sejarah tak dapat dihindar, bahwa koridor ekonomi skala kawasan Barsela harus dibangun bersama. Mengejar ketertinggalan, hasil ketimpangan distribusi kesejahteraan di Aceh puluhan tahun.

Penggagas koridor ekonomi Barsela, Dr. Nurdin, menyadari kerangka kerja kesepakatan Abdya membutuhkan nafas panjang. Penubuhan sebuah badan pelaksana karena itu mutlak diperlukan. Dalam duduk rembuk kedua, rancangan naskah kesepakatan konsep badan kerjasama antar daerah diusulkan, dibahas dengan sengit, dan disetujui.

Badan ini akan mengumumkan program kerjanya pada pertemuan putaran ke tiga, di Simeulue awal bulan depan. Dari sini pertarungan dimulai. Saya menangkap tiga model penalaran mulai bergesekan memperindah dinamika diskusi dalam rembuk-rembuk selanjutnya. Pertama, mazhab akademikus, mereka cenderung kaku dengan runutan kerja harus dimulai dengan master plan (rencana induk) yang matang lagi menyeluruh. Banyak agenda bisa saja tertunda dilaksanakan dalam tempo segera, menunggu rencana induk yang rapi, tertib, holistik dan bersahaja.

Dokumen perencanaan yang sempurna, seringkali bikin laju gerak tertahan lamban. Suatu hari, dalam satu forum diskusi di Kuala Lumpur, keyakinan saya pada doktrin rencana harus matang baru bisa kerja, batal di hadapan Prof. Tan Sri Datok Seri Sanusi Junid. Ialah mantan Menteri Malaysia kabinet Mahathir Muhammad selama 30 tahun.

Baca Juga:  Nomor Punggung 13

Tan Sri fasih bercerita, pengalaman panjangnya membangun Malaysia bersama Mahathir sang Perdana Menteri yang amat masyhur itu, seringkali dengan mengandalkan gagasan-gagasan yang muncul begitu saja. Setiap gagasan bagus muncul lansung eksekusi, tanpa menunggu disusun dulu dalam master plan atau perencanaan yang terlalu rapi.

Tak jarang ide-ide ditemukan dari perjalanan ke negara orang. Diamati, ditiru, dimodifikasi, diregulasikan, lansung eksekusi. Membangun menara kembar (twin tower) yang amat megah itupun, hanya dengan melihat bangunan serupa di negara orang. Banyak ide mereka lahir dari belajar pada negeri-negeri maju Asia Timur. Bukan hasil kontemplasi akademisi dari riset tahunan, lalu tertuang dalam jurnal-jurnal terakreditasi.

Dalam sebuah konferensi Pembangunan Aceh di Universitas Kebangsaan Malaysia, Tun Mahathir sendiri pernah mengatakan, keberhasilannya membangun ekonomi Malaysia karena ia tidak mendengar masukan-masukan profesor ekonomi di negeri jiran itu.

Koridor ekonomi Barsela akan menghadapi sejumlah jebakan berbahaya, jika digantungkan pelaksanaannya pada ketersediaan rencana induk yang sempurna. Bayangkan saja, Kepala Bapeda Aceh, Ahmad Dadek memberitahukan APBA 2023 mengalokasikan 300 juta rupiah untuk penyusunan master plan percepatan pembangunan koridor ekonomi Barsela.

Akademisi UTU diminta menyusun master plan itu, mereka membutuhkan satu tahun menyelesaikannya. Andaikan harus menunggu runutan tahapan kerja seperti itu, hingga akhir 2023 kita tidak bisa menyaksikan perkembangan apa-apa, selain putaran-putaran pertemuan yang melelahkan.

Tetapi untung saja, ada model penalaran lain yang berkembang sepanjang duduk rembuk kedua. Yaitu mazhab penalaran praktisi, mereka lebih luwes dan responsif. Dibanding menunggu rencana induk, para praktisi mengajukan segera program-program kerja strategis merespon konteks ruang waktu kini dan di sini. Beberapa kondisi faktual telah dijadikan landas pijakan merancang rencana kerja praktis dan strategis.

Bahwa dunia sedang mengalami krisis pangan, ikutan dari perang geopolitik dan geoekonomi Rusia-Cina (poros timur) berhadap-hadapan dengan Eropa Barat-Amerika Serikat (poros barat). Jepang, sebagai bagian dari poros barat ingin menghentikan bahan-bahan pangan yang biasanya mereka impor dari Cina. Barsela harusnya dapat mengisi peluang ini.

Baca Juga:  Cara Khusus, Mikirin Duit Otsus

Bersambung dengan kebijakan Pemerintah Pusat memprioritaskan program ketahanan pangan. Lalu bersambut gayung pula dengan ketersediaan sumberdaya pangan melimpah di Kawasan Barsela dari sektor pertanian sawah, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kemaritiman. Konteks ini memberi landasan pacu yang kuat, pada tingkat yang tidak menyisakan keraguan sebiji padi bagi para pemimpin di Barsela, untuk menyiapkan wilayah itu menjadi lumbung pangan dunia.

Tentu, dengan menggunakan skema hulu-hilir, end to end, menyeluruh. Dari kuantitas produksi, kualitas pekerja dan barang, pengolahan industri kecil menengah pada sebagian jenis komoditi, hingga hilirisasi akses pada pasar dunia.

Pelabuhan Calang lalu ditunjuk sebagai pintu keluar komoditi-komoditi pangan dan olahan industri Kawasan Barsela, menuju negara-negara Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Barat (Timur Tengah). Mobilitas barang jalur transportasi udara dapat dilakukan melalui bandara Nagan Raya dan Simeulue.

Para pemimpin Barsela sudah memikirkan tiga skema penggalangan dana. Pertama, untuk program kerja taktis jangka pendek akan menggunakan anggaran APBK dan dunia usaha (investasi dan CSR) lokal. Kedua, untuk membiayai kerja-kerja jangka menengah dapat menggunakan dana gabungan BUMG Bersama 1500 gampong di Barsela.

Ketiga, untuk membiayai program kerja strategis jangka panjang dapat menggunakan dana pemerintah nasional, setelah advokasi regulasi, seperti mendorong lahirnya Instruksi Presiden (Impres). Regulasi-regulasi sejenis itu di tingkat provinsi juga diperlukan.

Melengkapi skema ketiga ini, bila memungkinkan, penggalangan dana dari dunia usaha skala kompeni raksasa juga akan dilakukan. Meski disadari, skema ini terlalu memakan waktu lama. Para pengusaha besar perlu hitung-hitungan lama untung-rugi sebelum menginvestasikan uangnya ke kawasan kita.

Baca Juga:  Salju Terakhir

Di samping semua cerita itu, sesuai perhitungan awal, agenda-agenda besar skala kawasan seperti Barsela cenderung rentan disusupi para penumpang gelap. Mereka mazhab ketiga, model penalaran politikus. Orientasi mereka, bukan pembangunan ekonomi dan kebudayaan Barsela. Lebih ke capaian-capaian politik yang tidak berhubungan lansung dengan perbaikan kesejahteraan sejuta rakyat Barsela.

Konsolidasi-konsolidasi sumberdaya yang sudah terbangun baik dalam kerangka pembangunan koridor ekonomi kawasan bisa saja tiba-tiba dibawa lari para politikus ke agenda kekuasaan jangka pendek (2024) atau pemekaran provinsi Aceh Barat Selatan (ABAS). Para politikus terbiasa dengan peukateun baplung panggang.

Saya mendeteksi hantu-hantu ABAS seperti hidup kembali, bergentayangan sekitar gerak langkah pembangunan koridor ekonomi Kawasan Barsela. Imajinasi mereka memisahkan diri, punya provinsi pemekaran ABAS telah lama mati. Kini mengecas baterai kembali melalui serial pertemuan-pertemuan beberapa putaran koridor ekonomi Barsela.

Pun begitu, hentakan-hentakan kaki Barsela kini telah menyita perhatian luas masyarakat dan pemegang otoritas negara. Dari Pj Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, hingga sebagian anggota DPR RI asal Aceh ikut nimbrung memperluas perbincangan agenda Barsela.

Alur irama dan permainan berikutnya bergantung pada jenis hentakan seperti apa yang hendak disajikan putra putri Barsela. Apakah hentak kaki tarian lembut indah menarik empati atau hentakan kaki kegeraman yang menantang kontestasi kekuatan di masa depan.

Maop-maop pemekaran tak pernah benar-benar mati. Pikiran-pikiran curiga terus menerus menciptakan maop-maop itu tanpa henti. Sementara saya hanya menemukan, agenda Barsela digerakan dengan kekuatan batin penuh cinta putra-putri Barsela pada tanah air mereka dan rakyat yang lama terabaikan dan terzalimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.