Ini Sosok Doktor Nurdin, Alumni SD “Binteh Breut” Jadi Pj Bupati Aceh Jaya

Dr Nurdin
Bagikan:

Masa kecil Nurdin, hampir seluruhnya dihabiskan di tempat kelahirannya Gampong Krueng Batee, Kemukiman Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Penulis: Suprijal Yusuf

NURDIN, belakangan ini namanya mulai mencuat di publik Aceh, terutama bagi masyarakat Aceh Jaya. Konon kabarnya, alumni Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN) yang kini menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 1994 itu, akan menjadi orang nomor satu di Kabupaten Aceh Jaya menggantikan, Teuku Irfan TB yang akan berakhir masa jabatannya 18 Juli 2022 mendatang.

Pelantikan Dr Nurdin sebagai Pj Bupati akan berlangsung di Lantai II Gedung E Kantor Gubernur Aceh, Senin (18/07/2022) besok. Disamping itu, pada saat bersamaan Pj Gurbernur Aceh, Achmad Marzuki juga akan melantik Pj Bupati Pidie, Ir Wahyudi Adisiswanto MSi yang kini menjabat Direktur Perencanaan, Pengendalian Kegiatan dan Oprerasi Badan Intelijen Negara (BIN).

Selama ini, publik di Aceh tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya sosok Dr Nurdin SSos MSi, putra Barat-Selatan (Barsela) Aceh itu. Ia kini menduduki jabatan strategis di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai Kepala Pusat Data dan Sistyem Informasi (Kapusdatin) dengan jenjang jabatan struktural eselon II/a, memiliki tugas penting membantu Menteri Dalam Negeri dalam mengawal “Transformasi Digital Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah”.

Masa kecil Nurdin, hampir seluruhnya dihabiskan di tempat kelahirannya Gampong Krueng Batee, Kemukiman Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Tak banyak yang tahu memang, kalau Nurdin yang kini menyandang gelar doktor (S3) adalah alumni lulusan Sekolah Dasar Negeri (SDN) No. 2 Sikabu di Gampong Rumoh Panyang, Kuala Batee, Abdya.

Baca Juga:  Penyalahgunaan Narkoba di Abdya Mengkhawatirkan

Sekolah dasar yang terletak sekitar 1,3 kilometer dari Jalan Nasional Banda Aceh-Tapaktuan itu, tidak begitu istimewa saat itu. Betapa tidak, banyak orang yang memberi gelar SD binteh breut (dinding yang terbuat dari anyaman daun kelapa). Tidak salah memang, karena sekolah itu memang berdinding breut, berlantai tanah dengan kursi dan meja ala kadarnya.

Bahkan, tak jarang sekolah yang dibangun di atas tanah payau, tiap kali musim hujan proses belajar-mengajarnya terpaksa dihentikan, karena atap yang terbuat dari daun rumbia acap kali terjadi bocor. Bahkan, dinding breut tidak mampu menahan rembesan hujan hingga masuk ke ruang kelas.

Bisa dibayangkan, kalau hujan terjadi anak-anak terpaksa harus menaikan kakinya ke atas kursi, lantaran lantai digenangi air mencapai ketinggian 20-30 centimeter (cm).

Malah guru yang mengajar juga terkena imbas harus menggulung ujung celananya untuk dinaikan ke atas,tentu guna menghindari dari basah. Sepatu pun, terpaksa dibuka. Kalau musim hujan memang guru jarang pakai sepatu dan hanya menggunakan sandal Lily yang terbuat dari karet.

Tapi bagi anak-anak, kondisi hujan tersebut, malah sangat menyenangkan karena bisa mandi hujan sambil main toro (main bola ala anak-anak kampung, dengan mengincar kaki-kaki temannya sendiri sambil bercanda ria).

Kondisi sekolah tersebut menjadi terbalik setelah adanya program SD Inpres (Intruksi Presiden) dari Presiden Soeharto kala itu. Sekolah binteh breut tadi diubah menjadi SD dengan lokal – lokal yang standar, sehingga Nurdin kecil dan teman-temanya dapat belajar dengan nyaman.

Baca Juga:  Enam TK di Abdya Resmi Berganti Status Dari Swasta Menjadi Negeri

Nurdin kecil yang lahir dari keluarga sederhana, sebagai anak kampung juga sering bertelanjang kaki kalau pergi ke sekolah saat itu. Putra dari pasangan almarhum Mak Bacah dan Siti Hawa ini, memang sosok pria pendiam, tapi penuh humor dan low profil. Sebagai seorang pemimpin memang sudah dari kecil kelihatan bakatnya.

Orangnya pintar dan setiap tahun selalu menjadi juara di kelas. Otak encer yang dimilikinya itu juga diperlihatkan ketika duduk di bangku SMP Negeri Kuala Batee hingga SMA Negeri Blangpidie.

Lulus SMA, dia sempat mendapat undangan program pendidikan yang dicanangkan BJ Habibie ke Jerman. Namun, program itu gagal diraihnya, karena surat pemberitahuan yang dikirim melalui telegram terlambat sampai ditangannya.

Sebab dalam telegram tersebut, disebutkan yang bersangkutan pada hari itu juga sekitar pukul 10.00 WIB sudah berada di Medan, Sumatera Utara, guna mengikuti testing program tersebut. Sedangkan, telegram pemberitahuan itu sendiri diterima pada hari yang sama sekitar pukul 11.00 WIB.

Bahkan ketika telegram itu sampai, Nurdin sendiri kala itu, sedang berada di kebun kacang areal persawahan Simpang Dua, Gampong Lhok Gajah, Kuala Batee.

Hana peu mak, hana peu bang Anis (Tidak apa-apa ibu, tidak apa-apa bang Anis –abang kandungnya). Saya ambil APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Nasional saja,” ujarnya kala itu sembari menenangkan ibu dan abangnya kala itu, karena gagal mengikuti program pendidikan ke Jerman.

Baca Juga:  Jelang Idul Fitri, LAZISMU Kuala Batee Timur Salurkan Zakat kepada Fakir Miskin

Nurdin yang juga alumni Dayah Pesantren Darul Istiqamah, Krueng Batee, Kuala Batee, berangkat ke Jatinangor bersama 26 anak Aceh lainnya yang lulus APDN Nasional kala itu, dengan belanja ditangan pas-pasan.

Maklum, Krueng Batee waktu itu merupakan negeri miskin yang masyarakatnya hanya hidup dari penghasilan bercocok tanam padi setahun sekali. Karena seluruh areal persawahan di daerah masih menggunakan sumber air sawah tadah hujan.

Lulus STPDN (Peningkatan dari Status APDN Nasional), sempat pulang kampung memulai karir sebagai abdi negera di Kantor Camat Labuhan Haji (kini Labuhan Haji Tengah), Aceh Selatan, era kepimpinan Bupati H Sari Subki.

Setelah dua tahun mengabdi di Aceh Selatan, kemudian tahun 1997, Nurdin melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Republik Indonesia (STIA LAN RI) Kampus Jakarta yang diselesaikan selama satu tahun oleh suami dari Zuraidiati itu.

Dari hasil perkawinanya dengan Zuraidiati, gadis asal Kuta Tinggi, Blangpidie, Abdya itu, ia dikaruniai tiga orang anak (putra-putri) dan kini semuanya masih dalam proses pendidikan yaitu, Elvi Salwa Nurdin (fakultas kedokteran), Redha Fahlevi Nurdin (SLTA), dan Qurratan Ainul Munawarah Nurdin (Pesantren).

Selepas dari Pendidikan di LAN RI, Nurdin meminta izin dari Ir HT Machsalmina Ali untuk melanjutkan program Master di Universitas Indonesia (UI). Atas dukungan Ir HT Machsalmina Ali yang visioner dalam membangun SDM Barat-Selatan Aceh (Barsela), ia melanjutkan Pendidikan Doktor Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjajaran Bandung.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.