Jaksa Tetapkan Mantan Ketua Baitul Mal Agara Tersangka Korupsi

Kepala Kejaksaan Aceh Tenggara, memimpin Siaran Pers terkait penetapan SA, mantan Ketua Baitul Mal Kabupaten sebagai tersangka kasus korupsi bantuan rumah warga kurang mampu, Selasa (10/10). Foto Ist
Bagikan:

Jurnalis : Fandi

ANTARAN|KUTACANE – Mantan Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara SA (37), yang masih mendekam dalam jeruji besi, resmi ditetapkan pihak Kejaksaan setempat sebagai tersangka dugaan kasus korupsi dana Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) tahun anggaran 2021.

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara, Erawati SH dalam siaran persnya, Selasa (10/10) mengatakan, penyaluran dana bantuan tahap II, dianggarkan sebesar Rp 3,5 miliar, kegunaannya untuk pembangunan rumah masyarakat kurang mampu sebanyak 70  unit.

Dengan rincian anggaran Rp 50 juta per rumah, namun dalam pelaksanaannya, penyaluran bantuan tidak diberikan secara langsung kepada penerima.

Baca Juga:  Dua Unit Rumah Warga di Tapaktuan Hangus Terbakar

Tapi setelah dana tersebut masuk ke rekening penerima, kemudian atas perintah SA yang saat itu menjabat sebagai Ketua Baitul Mal kabupaten (BMK), uang ditarik kembali oleh Bendahara Baitul Mal Kabupaten (BMK) untuk disetorkan kepada tersangka,SA.

Selanjutnya, ujar Erawati, berdasarkan keterangan 31 orang saksi kepada penyidik, dalam modus operandinya, untuk setiap unit rumah bantuan, tersangka SA memangkas dana sebesar Rp 12.742.000, dengan dalih untuk pembelian batako, kusen, prasasti dan upah pembuatan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) serta uang studi banding. “Penyidik  sudah memeriksa 31 saksi,” katanya.

Baca Juga:  UMi Bantu Akses Pembiayaan Kelompok Rentang di Balik Usaha Mikro

Dari fakta di lapangan terungkap jika pembangunan rumah tersebut dikerjakan tidak sesuai dengan standar spesifikasi, bahkan ditemukan juga kekurangan volume serta kualitas pembangunan rumah layak huni berstandar rendah, ditambah pembangunan bantuan tanpa ring balok.

Karena berkualitas rendah dan tak sesuai spek, akhirnya banyak penerima bantuan menggunakan uang pribadi dalam melanjutkan pembangunan rumah tersebu.Selain itu, , penyidik juga menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp 508.694.957 dan kemungkinan kerugian negara tersebut, bisa saja akan bertambah, tergantung hasil penyidikan nantinya.

Baca Juga:  Pj Bupati Kukuhkan Pengurusan PWRI Gayo Lues

“Kita menemukan alat bukti yang cukup untuk menetapkan SA sebagai tersangka kasus korupsi pembangunan rumah bagi warga kurang mampu tahun anggaran 2021 lalu. Dalam kasus ini, tersangka SA tidak ditahan, karena sedang menjalani hukuman di Lapas Kutacane, terkait kasus tindak pidana lain beberapa tahun lalu,” tutup Kajari Agara, Erawati SH.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.