Januari – September 2023 Tercatat 113 Kasus DBD di Abdya

Kepala Dinas Kesehatan Abdya, Safliati SST MKes
Bagikan:

Sekitar 8-10 hari berikutnya, virus akan menyebar ke kelenjar saliva nyamuk, tempat produksi saliva atau air liur.

Jurnalis : Agus

ANTARAN|BLANGPIDIE – Tercatat sejak Januari-September 2023 telah ada 113 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Kasus tersebut menyebar dari Sembilan kecamatan dalam kabupaten setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Abdya, Safliati SST MKes kepada wartawan, Selasa (19/9/2023) mengatakan, data kasus DBD tersebut disesuaikan dengan temuan kasus yang ditangani oleh pihak Rumah Sakit Umum Tengku Peukan (RSUTP) Abdya.

Dari total 113 kasus itu, bulan Januari tercatat sebanyak 31 kasus, Februari 17 kasus, Maret 14 kasus, April 12 kasus, Mei 7 kasus, Juni 7 kasus, Juli 9 kasus, Agustus 6 kasus dan September 10 kasus.

“Rentetan kasus ini ditangani dengan serius oleh petugas medis, bahkan pasca diketahui positif serangan DBD, kami langsung melakukan pengasapan di lingkungan tempat tinggal pasien dengan radius 100 meter,” paparnya.

Baca Juga:  Pj Gubernur dan Ketua PKK Aceh Hadiri Syukuran Peringatan HUT Ke-76 Provinsi Sumatera Utara

Dijelaskan, demam berdarah atau demam dengue adalah penyakit akibat infeksi virus bernama dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes, khususnya Aedes Aegypti betina.

Nyamuk ini menularkan virus yang berada dalam air liurnya dengan cara menggigit manusia ketika di siang hari, kemudian air liur yang terdapat virus dengue menyebar ke seluruh jaringan tubuh yang mengakibatkan sel darah putih memproduksi banyak protein untuk menimbulkan gejala.

Virus dengue adalah virus yang menjadi penyebab seseorang terjangkit demam berdarah. Virus ini awalnya menyelinap dalam tubuh kemudian hidup di sel yang menuju saluran pencernaan nyamuk.

Sekitar 8-10 hari berikutnya, virus akan menyebar ke kelenjar saliva nyamuk, tempat produksi saliva atau air liur. Oleh karena itu, nyamuk yang menginfeksi seseorang dengan cara digigit sama saja dengan mengoper atau memindahkan virus dengue bersama air liur nyamuk ke dalam tubuh manusia.

Baca Juga:  Peduli Thalasemia, Pj Ketua PKK Aceh Donor Darah

Awalnya virus tidak membahayakan karena masih melawan sistim pertahanan tubuh dari bantuan sel darah putih. Lama kelamaan virus memproduksi kembali atau memperbanyak diri sehingga sistim kekebalan tubuh tidak kuat menahan serangan virus dengue, akibatnya virus berhasil masuk dan menyebar dalam jaringan tubuh.

“Pada fase awal, penderita akan mengalami demam yang bersuhu tinggi, panas badan mencapai 40 derajat celsius. Setelah itu penderita akan merasakan sakit kepala (febrile) yang berlangsung selama 2-7 hari.

Pada fase febrile ini biasanya gejala yang dirasakan pasien disertai ruam pada kulit. Pada hari pertama atau kedua ruam akan terlihat kemerahan seperti kulit yang terkena panas. Selanjutnya ruam menyerupai campak,” paparnya.

Baca Juga:  Yel-yel Gerindra Abdya, Safaruddin Diteriaki Bupati dan Prabowo Untuk Presiden

Akan hal itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti yang suatu saat bisa menggigit atau menginfeksi virus dengue.

Mengikuti anjuran melaksanakan gerakan 3M yaitu menutup rapat-rapat bak mandi agar tidak menjadi sarang nyamuk dan air tidak menjadi penampungan hasil tetas nyamuk.

Selanjutnya menguras bak mandi setidaknya sepekan sekali untuk menjamin kebersihan bak mandi, dan menimbun barang tak terpakai seperti kaleng atau wadah kosong yang memungkinan menjadi tempat tergenang air.

“Kalau lingkungan bersih dan bebas dari genangan air, dapat dipastikan masyarakat akan aman dari serangan DBD, namun jika sebaliknya kasus DBD akan mudah bermunculan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.