Jufri Hasanuddin, Masih “Memburu” Partai Sendiri.?

Mantan Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Ir H Jufri Hasanuddin MM. ANTARAN / Foto Istimewa
Bagikan:

Bukan Jufri Hasanuddin namanya kalau dia getar melawan calon kuat kala itu. Untuk menghadang calon petahana, strategis politik jitu pun dimainkannya. Termasuk memilih siapa pasangan yang tepat.

Penulis : Suprijal Yusuf

Diakui atau tidak, Ir Jufri Hasanuddin MM salah satu tokoh dan Politisi besar di Aceh Barat Daya (Abdya). Dalam karirnya, dia termasuk politisi yang mampu melihat peluang dan teguh dalam pendirian ketika sebuah keputusan sudah diambil.

Buktinya, ketika ia mengawali karir politik pasca konflik. Jufri — panggilan akrab Jufri Hasanuddin — alumni SMA Blangpidie ini, langsung memilih bergabung dengan salah satu partai lokal yang didirikan oleh para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Partai yang diberi nama Partai Aceh (PA) resmi lahir pada, 07 Juli 2007.

Pemilu perdana pasca konflik dan tsunami berlangsung 2009. Jufri langsung mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (Caleg) untuk provinsi melalui PA.

Dalam pemilu tersebut, ia berhasil terpilih menjadi anggota DPRA periode (2009-20014) dari Daerah Pemilihan (Dapil) 9 Aceh meliputi, Abdya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Subulussalam.

Saat berada di parlemen Aceh, pria kelahiran Peulumat, Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan, tanggal 5 Oktober 1967, berhasil meyakinkan partainya dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Komisi D DPRA yang membidangi infrastruktur. Komisi D ini perlu diketahui termasuk salah satu perangkat dewan yang bergengsi, karena banyak pihak yang mengincarnya.

Jufri Hasanuddin yang merupakan suami dari Yenny Elviza, termasuk orang yang memiliki naluri politik tergolong tajam dan berani dalam mengambil keputusan.

Lihat saja, ketika baru sekitar 2,5 tahun berada di kursi basah DPRA sebagai Ketua Komisi D. Tiba-tiba, ia memutuskan maju dalam gelanggang Pilkada Abdya tahun 2012 sebagai calon bupati dengan menggunakan kendaraan Partai Aceh.

Padahal rival yang dihadapi dalam arena Pilkada saat itu, bukan kaleng-kaleng. Karena, ia bertarung dengan salah satu calon petahana (Incumbent) yaitu, Akmal Ibrahim SH. Akmal Ibrahim sendiri saat itu masih sedang menjabat Bupati Abdya. Artinya, genggaman kekuasaan masih ditangannya.

Baca Juga:  Mellani Ajak Mahasiswa Berani Berwirausaha

Bukan Jufri Hasanuddin namanya kalau dia getar melawan calon kuat kala itu. Untuk menghadang calon petahana, strategis politik jitu pun dimainkannya. Termasuk memilih siapa pasangan yang tepat.

Melihat PA sedang berada dipuncak dengan memiliki 9 kursi di DPRK. Ia langsung menerima keputusan terkait calon pasangannya dari satu partai.

Artinya, PA mengusung pasangan calon tersendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain. Yaitu, pasangan Jufri Hasanuddin dan Yusrizal Razali yang diberi nama pasangan “JIHAD”.

Terbukti pasangan “JIHAD” ini mampu mengalahkan calon petahana, Akmal Ibrahim / Lukman bersama lima pasangan calon lainnya dalam Pilkada 2012. Jufri Hasanuddin / Yusrizal Razali pun dilantik menjadi Bupati / Wakil Bupati Abdya periode (2012-2017) pada 13 Agustus 2012.

Dalam perjalanan kepemimpinannya selama lima tahun, ia sempat kehilangan partner kerja dekatnya, Yusrizal Razali (Wakil Bupati) yang meninggal dunia pada 27 Juni 2014, akibat penyakit hipertensi yang dideritanya. Kemudian, posisi Yusrizal Razali digantikan oleh Erwanto.

Entah mengapa, dalam Pilkada 2017, Jufri Hasanuddin yang saat itu sedang berada di singgasana — sebagai bupati — mengurungkan niatnya dalam – dalam untuk tak ikut bertarung lagi ketika itu.

Tindakan Jufri yang tidak maju dalam Pilkada 2017 itu, jelas menjadi tanda tanya besar dikalangan masyarakat setempat. Akibatnya, muncul berbagai isu yang dialamatkan dirinya. Bahkan, ditengah situasi semacam itu, tidak sedikit pula para tokoh masyarakat mendorong dirinya untuk maju kembali sebagai calon bupati.

Itulah, sosok Jufri yang tak goyah dengan prinsipnya. Ia tak bergeming dan tetap pada keputusan awal, yaitu tidak mencalonkan diri lagi ketika itu. Alasan tidak majunya Jufri di Pilkada 2017 itu, sampai saat ini belum terjawab dan masih misteri.

Atas sikap Jufri tersebut, akhirnya PA memilih mencalonkan Erwanto yang saat itu menduduki posisi Wakil Bupati dan berpasangan dengan Muzakir ND (pengacara). Sialnya, Erwanto / Muzakir tak mampu mengukir sejarah berlanjutnya kepemimpinan PA di kursi eksekutif Abdya.

Erwanto ditumbangkan oleh pasangan Akmal Ibrahim / Mulizar MT dalam Pilkada 2017 saat itu. Akmal pun kembali memimpin Abdya periode (2017-2023).

Baca Juga:  Safaruddin, Akankah Menggunakan Mesin Ganda atau Tunggal.?

Tidak sampai disitu, Jufri yang sudah menikmati manisnya dunia politik, kemudian mencoba keberuntungan menuju Senayan. Dalam Pemilu legislatif 2019, Jufri mencalonkan diri sebagai Caleg DPR-RI dari Partai Nasdem untuk daerah pemilihan (Dapil) Aceh 1. Pertarungan gelanggang politik kali ini, Jufri tak mampu membuahkan hasil. Ia gagal menuju Senayan.

Itu sekelumit kisah dinamika perjalanan politik Jufri Hasanuddin masa lalu. Tetapi bagaimana saat ini? Di tengah suasana hiruk-pikuk Pilkada serentak yang akan berlangsung 27 November 2024. Pilkada yang sudah di depan mata ini, apakah Jufri melewatinya begitu saja, seperti 2017?

Ternyata tidak. Rupanya, politisi senior Abdya itu, yang sudah memendam rasa selama hampir tujuh tahun, kembali berniat menduduki singgasana kursi empuk Bupati Abdya.

Menyusul tahapan Pilkada dimulai. Langkah menuju kearah itu sudah mulai dirintis. Bahkan, ia sudah mengeluarkan pernyataan secara terang-terangan menyatakan diri siap maju kembali sebagai salah satu calon Bupati Abdya dalam Pilkada 2024.

Tentu untuk bisa masuk ke gelanggang pertarungan Pilkada kali ini, tidak begitu gampang bagi seorang Jufri. Karena sampai sejauh ini, sang mantan Bupati periode (2012-2017) itu, nyaris belum ada satu pun partai yang memberi lampu hijau.

Meskipun, Jufri yang saat ini tercatat sebagai salah seorang petinggi Partai Aceh. Dengan posisi sebagai Wakil Ketua Umum DPP PA periode (2023-2028). Sebenarnya, menjadi modal besar baginya untuk mendapat PA sebagai kendaraannya. Namun, PA sendiri belum memberi sinyal untuk dirinya bertarung dalam Pilkada serentak kali ini.

Buktinya, beberapa waktu lalu sang Ketua Umum DPP PA, Muzakir Manaf alias Mualem mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Dimana, PA untuk Pilkada Abdya akan berkoalisi dengan partai nasional yaitu, Gerindra.

Bahkan, dalam statemen terbuka Mualem yang dilansir sejumlah media pada pertengahan April 2024 lalu, sempat menyebutkan salah satu nama calon bupati yang akan diusung PA dalam Pilkada Abdya, yaitu Safaruddin (Wakil Ketua DPRA). Padahal, Safaruddin sendiri bukan kader PA.

Baca Juga:  HUT IWAPI Ke 47, Perempuan Aceh Selatan Terus Bangkit dan Maju, Demi Pemulihan Ekonomi Nasional

Kondisi ini jelas tidak menguntungkan buat Jufri sebagai kader PA. Mau tidak mau, Jufri harus berjibaku untuk meyakinkan Mualem dan pengurus PA lainnya. Sehingga PA tetap memberi karpet merah mengusung dirinya di arena Pilkada nanti.

Apakah langkah itu sudah dilakukan? Bukan Jufri namanya kalau dia tetap berdiam diri. Sebagai politisi senior jelas dia memiliki banyak cara. Termasuk pernyataan Mualem yang akan mendukung calon dari Partai Gerindra tersebut, telah membuat arus dukungan kader PA di Abdya terbelah.

Kondisi ini seharusnya menjadi energi bagi Jufri untuk mempertahankan partai sendiri sebagai kendaraannya. Karena bila PA lepas dari genggamannya, membuat Jufri akan sulit memperoleh partai lainnya sebagai mitra koalisi.

Sebab, PA dalam Pemilu Februari 2024 lalu, hanya mampu meraih 3 kursi di DPRK Abdya. Sehingga, PA tak dapat mengusung sendiri calon bupati, karena tidak memenuhi ambang batas yang disyaratkan minimal 15 persen dari total kursi di parlemen setempat. Perlu diketahui, total kursi di DPRK Abdya sebanyak 25 kursi.

Seandainya PA lepas dari genggaman Jufri. Logikanya, membuat ia sulit meyakinkan partai lain untuk mengusung dirinya. Karena bagi partai lain, kemungkinan akan berpikir ulang untuk mencalonkan Jufri. Sederhana saja pikiran kita, bagaimana mungkin masuk rumah orang lain, sementara rumah sendiri ditolak?

Kalaulah Mualem bersikeras dan tidak memberi tandatangan untuk Jufri. Tetapi, Jufri tetap mendapat tiket ke arena Pilkada lewat partai lain. Kemungkinan, Jufri harus memasang “mesin turbo” untuk memenangkan pertarungan.

Karena seperti diketahui, Jufri selama ini tetap identik dengan PA. Ini terbukti dalam dua kali pertarungan politik di arena yang berbeda, Jufri selalu keluar sebagai pemenang dengan sokongan sporter PA.

Sekali lagi, Jufri harus mampu meyakinkan petinggi PA jika ingin memiliki peluang besar sebagai pemenang dalam Pilkada kali ini. Pintu untuk mendapatkan PA belum tertutup bagi Jufri, karena ini adalah dunia politik yang selalu dinamis.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.