Kerja Keras “Agen Politik” di Kancah Demokrasi

Sudirman Hamid, Pemimpin Redaksi AntaranNews.com. Foto Dok Pribadi
Bagikan:

Syahwat politik mulai menggeliat seiring pesta demokrasi tahun 2024 diambang pintu. Nama-nama Bakal calon (Balon) anggota legislatif dan kepala daerah bergelayut, muncul dan digadang-gadangkan sejumlah pihak. ‘Agen-agen politik’ memoles pesona, menebar dukungan dan meraup simpatisan.

Oleh : Sudirman Hamid, Penulis adalah Pengamat Politik,Wartawan sekaligus Pemred AntaranNews.com.


Memasuki tahapan Pemilu Tahun 2024, Balon anggota legislatif dan kepala daerah mulai menghimpun kekuatan dan menyusun strategis bahkan menapaki pencitraan hingga merapat diri ke sejumlah partai politik (Parpol).

Nuansa tersebut membuktikan betapa pentingnya suara rakyat dalam memperoleh simpatisan dan dukungan. Setiap warga negara, siapapun dan bagaimanapun kondisinya tetap memiliki hak pilih satu suara. Artinya, satu suara sangat menentukan kemenangan dalam bertarung.

Alunan terobosan terus ditabuhkan dan berlanjut dengan memasang kuda-kuda, mempersiap diri, menata barisan di semua lini dengan seabrek metoda serta persediaan anggaran sebagai kost politik. Tidak heran, jika baliho dan spanduk gencar terpajang.

Pemetaan kekuatan dihimpun untuk perkiraan memantik kemenangan di khazanah pesta demokrasi. Sumber data diinput jagoan dari genggaman tim sukses yang ulet bekerja di lapangan. Namun, bayang-bayang kelabu kerap membius kegagalan karena kemunculan dusta diantara kita.

Sejenak kita tenggelamkan diri dalam renungan, betapa pentingnya fakta, logika, kerja keras dalam meraih simpatisan pemilih di lapangan. Kadang kala mendekati kebenaran, pemetaan yang dilaporkan sering meleset dari target yang diharapkan. Penyebabnya, akibat lemahnya spioner, kandidat cepat percaya dan terlalu yakin anggukan “agen politik” dan konstituen yang sewaktu-waktu jadi “pengkhianat”.

Baca Juga:  Percepat Penanggulangan Dampak Banjir, Pj Bupati Agara Sambangi 4 Kementerian

Faktor lain, kontituen “bermuka dua”, biaya kost politik tidak sepadan dan sikap serta sifat tim sukses yang sulit diterima masyarakat. Perjalanan sosisalis dan kedekatan kandidat dengan masyarakat agak kurang. Beberapa faktor ini bisa saja menimbulkan human error meningkat tajam hingga menuai kegagalan.

Lumrah dan sering terjadi, dimana dan bagi siapapun, suara manis sering mengelabui para kandidat. Lain yang diharapkan, lain pula yang dipilih saat berada di bilik pencoblosan. Namun tidak semua “agen politik” berlumuran salah dan dosa. Perjuangan dan usaha mereka jugalah yang mengantar kandidat duduk di kursi kehormatan.

Ajang Pemilu legislatif dan Pilkada masih lama berkutat, namun bola panas sudah menggelinding memperkaya khazanah perpolitikan. Suasana menggiurkan kadang kala membawa perasaan terhanyut, terbuai imajinasi hingga mimpi indah.

Padahal tidak semua ucapan, strategis dan ajakan terpatri dengan hati yang tulus. Bahkan “agen-agen politik” kiriman muncul untuk membujuk rayu calon kandidat agar maju, tujuannya agar langkah lawan bisa mulus menggapai puncak. Ini juga bahagian dari strategi politik untuk mematahkan lawan dan memecah konsentrasi pemilih di lumbung-lumbung suara.

Baca Juga:  Satpol PP-WH Aceh Jaya Bersama Bea Cukai Meulaboh Gelar Operasi Pasar di Aceh Jaya

Di posisi lain, bisa jadi suara-suara merdu itu hanya sekedar desahan menggais keuntungan sesaat ketika kesempatan terbuka. Kerap didapati, hasil diperoleh lari seribu derajat lari dari pemetaan (analisis swot). Penyebabnya, karena para kandidat rapuh mengawasi dan merawat kontituen dengan baik, akhirnya overtunis ke calon lain.

Sementara tim sukses dan prajurit-prajurit pemenangan bekerja ekstra serta berjibaku meyakini konstituen dengan berbagai jurus dan dalih. Namun hasilnya tersandera pemain politik bermuka dua. Satu nama pemilih bisa saja tercatat pada beberapa kandidat dan ditinta emaskan sebagai peta calon pemilih kandidat dimaksud.

“Dia datang dengan sepenggal janji, lalu pergi. Disudut lain, dia juga memberi harapan kepada calon lain bahkan tidak sungkan membeber kekuatan di belakang layar. Gerak lincah dan semangat jiwa akhirnya terkubur dengan seuntai senyum kebimbangan dan kekecewaan,”.

Sebagai ilustrasi dan pengalaman yang sering terjadi di pentas politik serta membuat hati menggelitik. Tim sukses mencatat sederetan nama yang diyakini sebagai calon pemilih jagoan tertentu untuk dituang dalam pemetaan. Disisi lain, diantara nama-nama yang disuguhkan juga terdapat dalam pemetaan tim atau figur lain.

Baca Juga:  Disdik Abdya Mulai Seleksi Atlet Untuk Popda 2024 di Aceh Timur

Tumpang tindih klaim calon pemilih merupakan agen politik bermuka dua yang dipertontonkan dalam sampul tertutup (rahasia-red). Apalagi jika perlakuan ini hanya sekedar comot untuk merengkuh keuntungan pada “bakul many politik atau harapan serangan fajar”.

Untuk itu, mari kita berpolitik secara sehat, professional, adil dan jujur tanpa diwarnai iming-iming atau janji buta. Introspeksi diri dan pelajarilah dengan baik tentang sosok yang akan dipilih sehingga rakyat tidak menderita sepanjang lima tahun. Bisa jadi, masyarakat masih berselera mempertahankan sosok lama (petahana) kerena dinilai sukses dan melekat dengan rakyat dengan tingkat elekstabilitas masih tinggi.

Sebagai pemilih, sangat perlu mempertimbangkan rekam jejak (track record) para kandidat agar tidak kecolongan. Berilah kesempatan kepada figur yang layak, tepat, berkualitas dan berpengalaman. Dengan harapan mampu menjadi bahagian dari rakyat, memihak rakyat, membela rakyat dan menjadi inspiratif, inovatif dalam membangun.

Tulisan ini tidak bermaksud mengkambing hitamkan siapapun, hanya sekedar bahan renungan dan evaluasi agar semua pihak lebih selektif. Kami sangat yakin, masyarakat Aceh Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihan. Selamat, semoga sukses.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.