Ketua DPRK Aceh Selatan : Petani Tidak Merusak Hutan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

Ketua DPRK Aceh Selatan Amiruddin, SH. Antaran/istimewa.
Bagikan:

“Masyarakat Aceh Selatan tidak merusak hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil untuk menanam bertani, mereka berusaha untuk bertahan hidup di lahan sendiri, karena biaya hidup tidak ditanggung warga asing,” ujar Amiruddin, SH.

Jurnalis : Sudirman Hamid

ANTARAN|TAPAKTUAN – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan, Amiruddin, SH angkat bicara menanggapi isu hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) disulap jadi lahan Sawit.

Amiruddin mengatakan, isu yang mencuat dan santer dibicarakan dipermukaan tentang keberadaan hutan Kawasan Konservasi Rawa Singkil disulap jadi kebun kelapa sawit oleh petani, sangat-sangat melukai hati masyarakat Aceh Selatan.

“Tudingan masyarakat Aceh Selatan mencaplok dan merusak hutan Suaka Margasatwa Rawa Singkil bukan hanya terdengar selama ini saja, barang kali sejak masa penjajahan Belanda sudah mulai muncul isu-isu murahan tersebut  karena ada kepentingan pihak-pihak tertentu,” kata Amiruddin kepada antaran, Sabtu (16/3/2024).

Baca Juga:  Sukseskan Pilkada 2024, Pemkab Aceh Selatan Gelontor Dana Rp 30 Milyar

Anehnya, segelintir orang memberi statement seolah-olah sangat memahami kondisi Aceh Selatan secara utuh.  Pemerintah seharusnya melindungi rakyat, bukan malah ikut-ikutan mendukung indikasi yang belum jelas duduk persoalannya. Ini sama halnya menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat yang sedang hidup damai dan rukun.

“Apabila ini terjadi, maka tidak tertutup kemungkinan masyarakat akan diusir dari tanah kelahiran dan tempat tinggal sendiri demi kepentingan pihak lain. Kami tegaskan, tidak ada petani Aceh Selatan yang mencaplok dan merusak Suaka Margasatwa Rawa Singkil,” tegas Amiruddin.

Baca Juga:  Proyek Jalan T Rumbia Rp 10 Miliar Aceh Singkil, Dimenangkan Perusahaan Penawar Urutan 10, Ada Apa?

Kalangan DPRK Aceh Selatan menyesali statemen-statemen yang tidak memihak rakyat dan seolah-olah menuduh masyarakat sudah bersalah hingga harus diterapkan penegakan hukum.

Mewakili masyarakat Aceh Selatan, khususnya Trumon Raya, ia menyatakan sikap bahwa tidak ada petani sawit menyerobot hutan Konservasi Rawa Singkil. Mohon saling menjaga kenyamanan dan kesejahteraan rakyat di segala sektor.

“Maunya, pihak eksekutif dan legislatif seiring sejalan, menyamai persepsi dan pro rakyat dalam menindaklanjuti kemaslahatan umat. Apalagi sempat tergiring isu, seakan-akan hutan Suaka Margasatwa Rawa Singkil sudah habis digarap masyarakat untuk bertani,” papar Ketua Dewan.

Baca Juga:  Curah Hujan Tinggi, Ibukota Aceh Singkil Dikepung Banjir

Untuk itu, ia berharap semua pihak dapat memahami permasalahan dan tidak larut dalam persoalan saling tuding. Mudah-mudahan rakyat tidak menjadi korban atas kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang mengatas nama inilah, itulah dan sebagainya.

Sebaliknya, tambah Amiruddin, jajaran DPRK Aceh Selatan menghimbau kepada masyarakat yang berada di areal berintensitas tinggi atau berbatasan langsung dengan Kawasan Hutan Konservasi Rawa Singkil untuk menjaga pelestarian dan tidak merusak ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan manusia.

“Sejak awal pemerintah Kabupaten Aceh Selatan telah menyampaikan larangan untuk tidak mengganggu dan merusak hutan lindung TNGL dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Mohon ditindaklanjuti dan jangan coba-coba dilanggar,” imbuh Amiruddin.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.