Keuchik Ie Meudama: Tudingan Pesta Miras dan Berdansa Adalah Politisasi Serta Pencemaran Nama Baik

Keuchik Ie Meudama, Kecamatan Trumon bersama istri tercinta usai dikonfirmasi awak media terkait Mosi Tidak Percaya. ANTARAN/Sudirman Hamid.
Bagikan:

“Sebejat-bejatnya seorang selaki, tidak mungkin menenggak minuman keras dan berjoget dengan wanita lain dihadapan istri dan anak sendiri, apalagi di bumi Aceh,” kata Ajun.

 Jurnalis : Sudirman Hamid

 ANTARAN|TAPAKTUAN – Informasi salah seorang Keuchik (kepala desa) di Aceh Selatan di mosi tidak percaya oleh warga karena diduga berjoget dengan wanita penghibur dan pesta minuman keras (miras) menjadi trending topik dan memantik perhatian masyarakat luas.

Menelusuri informasi disinyalir masih simpang siur, antaran mengkonfirmasi langsung Keuchik Ie Meudama, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Ajun untuk menggali keakuratan isi dari surat mosi tidak percaya yang menyebar ke ruang publik.

Berikut pernyataan yang disampaikan Ajun dihadapan sejumlah warga Ie Meudama kepada awak media. Katanya, ketika enam warga datang ke rumahnya pada Jumat malam tanggal 26 Januari 2024 atau yang disebut menggerebek, satu orangpun diantara mereka tidak ada yang masuk ke rumahnya.

Saat warga datang, tambah Ajun, di rumahnya ada istri, anak dan istri adik (adik ipar). Selain itu, posisi rumahnya dengan rumah tangga anak perempuannya hanya berjarak lebih kurang 30 meter. Jadi, apabila dituding ada musik disco, berdansa dengan perempuan penghibur dan ditemukan minuman beralkohor di kamar khusus, sangatlah tidak masuk akal.

 “Apa yang dituduhkan dalam surat mosi tidak percaya tersebut adalah politisasi dan menuai pencemaran nama baik. Begitu pula terhadap dukungan tanda tangan juga dinilai sarat pemalsuan serta mengarah unsur paksaan,” beber Ajun.

Menurut Ajun, tanda tangan dukungan tersebut diperoleh oknum tertentu dengan cara penggalangan teorganisir dan disebut-sebut kepada warga untuk dukungan politik calon anggota DPRK.

Diantara deretan tanda tangan dukungan, terdapat warga yang masih dibawah umur atau belum bisa memilih. Ada masyarakat yang sampai saat ini masih berada di luar daerah tetapi sudah lahir tanda tangan. Sebagian warga menyatakan tanda tangan tidak sesuai aslinya.

“Kami punya bukti dan saksi-saksi serta rekaman pengakuan warga terhadap penggalangan tanda tangan. Artinya, apa yang ditulis dalam narasi surat mosi tidak percaya itu sama sekali tidak benar dan sarat kebohongan,” papar Ajun.

Karenanya ia menegaskan bahwa tidak ada jenis minuman keras yang mereka tuding ditemukan di dalam rumahnya, sebab saat itu mereka tidak masuk ke rumahnya. Fakta ini kata Ajun juga ada saksi-saksinya.

“Botol minuman dan kemasan yang dipegang oleh oknum tertentu itu bukanlah milik saya. Kami juga tidak tahu dari mana asal muasalnya. Di rumah saya juga tidak ada lampu disco layaknya diskotik, kecuali lampu hias jenis spiral. Ini aneh dan bin Ajaib, tega-teganya mempolitisir saya sembarangan,” imbuhnya.

Kepada media juga diakui Keuchik Ie Meudama, bahwa sejak kecil hingga menjabat kepala desa, pihaknya belum pernah terlibat perjudian, mabuk-mabukan dan wanita malam, karena ketiga perbuatan itu menghabiskan uang sia-sia.

Dalam penyampaian, Ajun turut menyinggung, jika masyarakat Gampong Ie Meudama yang berjumlah lebih kurang 300 jiwa penduduk dan terdiri 95 Kepala Keluarga (KK) sudah tidak suka dia memimpin, maka Ajun bersedia mundur teratur. Namun jangan dengan cara-cara tidak terhormat dan mengarah penzaliman.

“Sebaliknya, jika warga masih menginginkan, pihaknya tetap bertahan sebagai konsekuensi dan bentuk tanggung jawab. Sejauh ini, selaku pemimpin gampong saya belum mengambil sikap terhadap tudingan tersebut. Namun arahnya akan mempertimbangkan sesuai kesepakatan kerabat dan tokoh masyarakat,” ulasnya.

Sementara itu, salah seorang warga Dedi mengakui mosi tidak percaya yang dilayangkan itu tidak sesuai fakta sebenarnya. “Saya mengetahui hal sebenarnya dan mau jadi saksi. Narasi dalam surat mosi tidak percaya itu tidak benar dan merugikan nama baik keuchik,” ungkapnya.

Perihal senada juga diutarakan Jul Aidil, malam itu ia membeli pulsa/paket di kios anak kandung Pak Keuchik Ajun yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah ayahnya. Informasi ia peroleh sudah melenceng dari yang sebenarnya, sehingga timbul tanda tanya dan keretakan di tengah-tengah masyarakat.

“Selaku warga biasa yang tidak berpendidikan tinggi, saya berpendapat, mungkinkah ada pesta miras dan berjoget dengan tiga wanita bersama lelaki asing, sementara di rumah ada anak dan istri. Lebih janggal lagi, rumah keuchik tidak jauh dari rumah tangga anak kandungnya. Agaknya informasi ini sangat mustahil,” sergah Jul Aidil.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media, Tuha Peut, Tuha Lapan, mantan Teungku Imum Chiek disertai dukungan tanda tangan masyarakat Gampong (desa) Ie Meudama, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh melayang mosi tidak percaya kepada Keuchik (kepala desa) setempat disebut-sebut pasca peristiwa penggerebekan pada Jumat, 26 Januari 2023 sekira pukul 02.30 WIB.

Narasi Surat Mosi Tidak Percaya
Surat Mosi tidak percaya terhadap Keuchik Ie Meudama, Trumon Aceh Selatan yang beredar luas. ANTARAN/Istimewa.

Informasi beredar di kalangan masyarakat luas dan media massa, mosi tidak percaya terhadap Keuchik Gampong Ie Meudama tertuang dalam surat tertanggal 29 Januari 2023 yang ditandatangani dan distempel Ketua Tuha Peut Hendri Sahputra, Ketua Tuha Lapan Arifin Sembiring dan mantan Imum Chiek Tgk Baharun, SE.

Surat mosi tidak percaya tersebut turut melampirkan sejumlah tanda tangan masyarakat dan ditujukan kepada Penjabat (Pj) Bupati Aceh Selatan untuk mencopot jabatan keuchik berinisial AJ sebagai bentuk kekecewaan masyarakat.

Ketua Tuha Peut Gampong Ie Meudama Hendri Sahputra kepada media yang telah melansir berita ini menyebutkan, bahwa yang bersangkutan (AJ) telah melanggar adat istiadat Gampong Ie Meudama, etika, norma-norma seorang pemimpin serta diduga melanggar Syariat Islam, sebagaimana ditulis dalam narasi  surat.

Turut disampaikan, selain dialamatkan kepada Pj Bupati Aceh Selatan, surat mosi tidak percaya kepada keuchik Ie Meudama juga disampaikan kepada Ketua DPRK Aceh Selatan, Kapolres Aceh Selatan, Kejaksaan Negeri Aceh Selatan, DPMG Aceh Selatan, Camat Trumon, Kapolsek Trumon, Danramil Trumon serta Imum Mukim Trumon, beber Hendri Sahputra sebagaimana dilansir media.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.