Kontroversi Pedagang di Pasar Harian Singkil, Dipicu Persoalan Lapak dan Kesemrawutan

Kepala Disperindagkop UKM Malim Dewa didampingi Sekretaris Safrizal, Kabid Perdagangan Ali Hasmi Pohan, saat dikonfirmasi Antaran di Kantor Disperindagkop Singkil, Rabu (31/5/2023) kemarin. ANTARAN / Helmi
Bagikan:

“Daya beli pun menurun, karena biasanya ibu-ibu kalau ke pekan, yang dicari lebih dulu ikan, baru sayur mayur dan kebutuhan lainnya. Karena tidak ada pedagang ikan mereka enggan ke Pekan Harian di Desa Pasar Singkil,” terang salah seorang warga. 

Jurnalis : Helmi

ANTARAN|SINGKIL – Sekitar hampir sebulan, pedagang di Pasar Harian (pajak/pekan) di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil mulai berpindah lapak ke lokasi Pasar Desa Siti Ambia, Kecamatan Singkil.

Kontroversi perpindahan lokasi berjualan pedagang sayur-mayur maupun pedagang ikan ini, diduga disebabkan karena kurangnya pengelolaan yang baik, oleh pihak pengelola maupun dinas terkait.

Informasi yang dihimpun antaran, sebagian pedagang tidak lagi berjualan di Pasar Harian tersebut, lantaran kurangnya tata kelola lapak berjualan yang baik dan memicu perseteruan antar pedagang.

Persoalan dipicu karena adanya penyerobotan lapak berjualan oleh pedagang. Sehingga sejumlah pedagang ikan disebutkan, lebih memilih pindah lapak di Pekan Siti Ambia Singkil.

Baca Juga:  350 Ha Persawahan Terancam Kering, Dandim Aceh Selatan Operasikan Pompa Air di Labuhanhaji Barat

Pedagang ikan pertama kali memutuskan untuk pindah karena merasa tidak nyaman dengan adanya penyerobotan lapak oleh pedagang lain, yang membuat mereka tak leluasa berdagang. Lantas mereka berjualan di pasar mingguan di lapak Pasar Desa Siti Ambia.

Sementara itu pedagang yang tinggal mengaku dagangannya menjadi sepi. Karena pedagang yang berjualan minim, akibat pindahnya pedagang ikan sebagai kebutuhan utama lauk-pauk rumah tangga.

“Daya beli pun menurun, karena biasanya ibu-ibu kalau ke pekan, yang dicari lebih dulu ikan, baru sayur mayur dan kebutuhan lainnya. Karena tidak ada pedagang ikan mereka enggan ke Pekan Harian di Desa Pasar Singkil,” terang salah seorang warga.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Aceh Singkil, Malim Dewa, yang dimintai tanggapannya terkait kontroversi perpindahan pedagang tersebut, Rabu, (31/5/2023) mengatakan, pihaknya bersama Satpol PP telah melakukan penertiban di Pasar tersebut.

Baca Juga:  Zulkarnaini : Penanganan Abrasi Palak Kerambil Tetap Diprioritaskan

Disamping persoalan lapak jualan, lokasi Pekan Harian sebelumnya juga terlihat sangat semrawut. Hal itu disebabkan pemilik tanah yang menyediakan lapak-lapak pedagang disekitaran lokasi sehingga memicu kepadatan di lintasan jalan memasuki pekan.

Meski pihak penyedia layanan pasar telah melakukan pembayaran sesuai dengan peraturan yang berlaku. “Ini yang menyebabkan kendala dalam penertiban pasar dan juga menghambat kelancaran arus transportasi,” ucap Malim.

Malim mengimbau pedagang di pasar untuk menjaga kebersihan lapak mereka dan tidak memberikan lahan kepada masyarakat secara sembarangan, yang menyebabkan pedagang lainnya merasa tidak nyaman.

Ia mengakui bahwa awalnya pedagang ikan yang memutuskan untuk pindah. Sehingga berdampak terhadap menurunnya daya beli masyarakat di lokasi pekan Desa Pasar Singkil.

Baca Juga:  Peringati Hari Sumpah Pemuda, Kapolres Aceh Selatan : Pemuda Sekarang Menjadi Penentu Kemajuan Bangsa

Selama ini, pasar harian di Desa Pasar dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), namun sepertinya pengelolaannya tidak efektif. Oleh karena itu, dalam waktu dekat, proses pengelolaan pasar tersebut akan dilakukan melalui lelang pada pihak ketiga.

Pemerintah berharap agar pasar tersebut dapat kembali beroperasi karena memiliki dampak positif terhadap perekonomian masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pihak terkait telah menghubungi pedagang dan melakukan rapat dengan pengelola pekan tersebut.

“Kita sudah himbau, lapak-lapak tersebut harus difungsikan dengan baik. Pendapatan dari hasil retribusi pasar tersebut hanya sekitar 10 juta pertahun. Namun untuk revitalisasi pasar di Singkil sudah diusulkan namun belum tertampung,” terang Malim.

Malim juga mengatakan bahwa pihaknya akan menyelesaikan persoalan pedagang tersebut. Dan akan membuat kesepakatan dengan pedagang mencari solusi yang terbaik agar mereka bisa berjualan seperti semula.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.