Lantai Jembatan Gantung Lhok Keutapang Abdya Memprihatinkan

Foto: Lantai Jembatan Gantung Lhok Keutapang, Desa Padang Kecamatan Manggeng Kabupaten Abdya sedang direnovasi beberapa waktu lalu. ANTARAN / Rizal
Bagikan:

“Ketinggian jembatan dari permukaan air sungai mencapai 15 meter. Kalau saja ada warga yang melintas dan tiba-tiba putus, pasti akan mengancam nyawa,” kata Budi.

Jurnalis : Rizal

ANTARAN| BLANGPIDIE – Lantai jembatan gantung di Dusun Lhok Batee Intan atau lebih akrab disapa Lhok Keutapang, Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memprihatinkan.

Meski masih bisa dilalui kendaraan roda dua, namun kondisinya sudah layak untuk direnovasi kembali. Pasalnya, lantai jembatan yang sudah diganti dengan plat sepuluh tahun lalu itu, sudah rusak dan keropos.

Sebelumnya, jembatan penghubung antara Desa Suka Damai, Kecamatan Lembah Sabil dan Dusun Lhok Batee Intan, Desa Padang, Kecamatan Manggeng itu, lantainya terbuat dari bahan kayu jenis Meranti sekira tahun 1996 silam.

Baca Juga:  Memperbaiki Bacaan Alquran Harus Dengan Bimbingan Guru

Dengan usia jembatan yang tak lagi muda itu, membuat besi-besi pagar jembatan juga terlihat mulai karatan. Bahkan warga setempat merasa kwartir kalau jembatan yang berada di atas Sungai Krueng Manggeng itu akan ambruk.

“Ketinggian jembatan dari permukaan air sungai mencapai 15 meter. Kalau saja ada warga yang melintas dan tiba-tiba putus, pasti akan mengancam nyawa,” kata Budi, Rabu (15/11/2023) salah satu warga yang tengah melintas sambil membawa buah durian di motornya.

Hal senada juga dikatakan Syarial, pemilik kebun durian di Lhok Keutapang ini membenarkan bahwa lantai jembatan sudah keropos.

“Demi kelancaran penyebrangan, ada beberapa kali dilakukan penambalan lantai jembatan yang mulai berlobang itu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pj Bupati Abdya Tinjau Lokasi Banjir, Ajak Masyarakat Bergotong Royong

Menurut info yang didapat Syarial, jembatan tersebut sudah pernah beberapa kali diusulkan perbaikan. Bahkan wacananya, akan diganti dengan bangunan baru. Akan tetapi, mimpi itu juga belum terwujud.

“Besar harapan kami agar jembatan ini bisa diperbaiki demi kelancaran arus lalulintas 70 kepala keluarga (KK) yang berdomisili di Lhok Batee Intan,” tuturnya.

Bukan hanya warga Dusun Lhok Batee Intan saja, para pekebun dari berbagai desa lainnya juga menggunakan jembatan tergantung ini sebagai sarana penghubung angkutan hasil panen.

“Saat ini sedang musim panen durian, banyak warga yang melintas baik siang maupun malam. Kami rasa sudah selayaknya diusulkan perbaikan,” lanjutnya.

Baca Juga:  Pererat Hubungan Dengan Masyarakat, Kapolres Simeulue Gelar Jumat Curhat

Didampingi Hendri warga lainnya, Syarial berharap pihak terkait dapat meninjau kelayakan jembatan yang lantainya mulai keropos itu. Dibagian pinggir-pinggir atau lening lantai sudah berlubang tidak menyatu lagi dengan dinding jembatan.

“Kalaupun tidak diganti dengan yang baru, paling direnovasi saja demi kelancaran penyebrangan warga,” demikian tandasnya.

Secara singkat, Keuchik Desa Padang, Mutalimin, mengaku sempat mengucurkan dana desa untuk memperbaiki jembatan yang dibangun tahun 90 an itu.

“Kita sediakan dana kemaren tahap pertama Rp.5 juta dan tahap berikutnya Rp.2 juta agar lantai yang sudah rusak bisa ditambal. Bahkan kemaren pak Pj Bupati Abdya sudah meminta kita untuk memasukkan jembatan itu dalam program lanjutan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.