Malangnya Nasib Petani Sawit, Kini Berubah Status Jadi Buruh Tani

Seorang petani sawit di Kuala Batee, Abdya, sedang mengumpulkan TBS hasil panen dari kebunnya. Para petani kini terpaksa memanen sendiri sawitnya karena tak sanggup lagi membayar pekerja. Lantaran harga terus anjlok dan saat ini sekitar Rp 700/kg. ANTARAN/SUPRIJAL YUSUF
Bagikan:

Jurnalis: Suprijal Yusuf

BULAN madu petani sawit di Indonesia dengan harga tinggi berakhir sudah. Menyusul, terus anjloknya harga Tanda Buah Segar (TBS) kepala sawit.

Bahkan, pekan ini, harga TBS di tingkat petani sudah berada di posisi yang sangat mengkhawatirkan, hanya sekitar Rp 700/kg. Tergelincirnya harga TBS ini mulai terjadi persis pasca lebaran.

Menyusul, pemberlakukan larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya oleh pemerintah selama hampir satu bulan (dari 28 April 2022 sampai dengan 23 Mei 2022).

Langkah pemerintah ini saat itu masih bisa ditolerir, guna menstabilkan harga minyak makan. Karena saat itu, mengalami kelangkaan di pasaran.

Kondisi ini, membuat harga salah satu bahan kebutuhan pokok tersebut, melambung tinggi hingga mencapai kisaran Rp 26.000/kg sampai Rp 2.700/kg minyak makan curah di tingkat pedagang eceran. Buntutnya, masyarakat jadi ribut.

Langkah larangan eskpor CPO dan turunannya oleh pemerintah pada awalnya belum mampu menekan harga minyak makan curah, meskipun pasokannya di pasaran berangsur stabil.

Baru awal Juni 2022 lalu, harga minyak makan mampu berada pada HET (Harga Enceran Tertinggi) yang ditentukan pemerintah Rp 14.000/kg.

Sementara, harga TBS sawit akibat kebijakan larangan eskpor tersebut, sudah keburu bergerak turun. Persisnya, terjadi pasca lebaran tren pergerakan turun harga sawit terus terjadi.

Diakhir bulan puasa (ramadhan) harga TBS di Aceh masih bertahan pada level Rp 3.000/kg. Saat itu, petani sawit tersenyum manis ketika menyambut lebaran.

Namun, pasca lebaran harga TBS mulai bergerak turun secara perlahan tapi pasti. Bahkan, saat ini harga sawit sudah tergelincir cukup dalam rata-rata mencapai Rp 2.300/kg atau anjlok sekitar 76,7 persen dari harga akhir ramadhan.

Padahal, pemerintah sudah membuka larangan eskpor CPO dan turunannya terhitung mulai 23 Mei 2022. Dibuka larangan eskpor ini, ternyata tidak serta merta langsung berdampak membaiknya harga pemasaran TBS di tingkat petani.

Baca Juga:  Pj. Bupati Bener Meriah Promosikan Kopi Gayo di Arab Saudi

Malah, saat ini sudah berada dititik mengkhawatirkan dengan harga Rp 700/kg. Pasang surutnya nasib petani sawit di negeri ini memang acap kali terjadi, terutama terkait harga pemasaran TBS yang terus menjadi dilema bagi mereka.

Bahkan, sebelum harga sawit membaik dalam 2,5 tahun terakhir. Namun, petani sawit sempat merasakan suramnya nasib mereka selama dua tahun (2018 – 2019). Dalam dua tahun tersebut, harga sawit sempat berada dikisaran Rp 450/kg hingga 6.000/kg.

Akibatnya, banyak kebun sawit milik petani sempat ditelantarkan, karena tak mampu dirawat lagi. Lantaran ongkos perawatan yang dikeluarkan dengan penghasilan yang diperoleh tidak sebanding.

“Bayangkan saja ongkos panen yang rata-rata mencapai Rp 200/kg – Rp 300/kg, sementara harga cuma Rp 450/kg. Nyaris kami tidak memperoleh hasil yang bisa menutupi biaya hidup.

Karena produksi sawit terhadap kebun yang tidak terawat tentu paling tinggi hanya 800 kilogram per hektar,” ungkap Yudi, salah seorang petani sawit di Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya kepada antarannews.com, Senin (27/06/2022).

Ketika itu, para petani sawit banyak yang berangkat mencari kerja di luar kampungnya menjadi buruh bangunan. “Kalau kami bertahan dengan mengurus terus sawit saat itu, jelas tidak cukup untuk mengasapi dapur.

Maka saya harus pergi merantau ke Meulaboh dan Banda Aceh untuk menjadi buruh bangunan,” kenang Cek Baka, salah seorang petani sawit di Babahrot, Aceh Barat Daya.

Meskipun begitu, ada sebagian dari mereka yang tetap bertahan untuk mengurus kebun, namun tetap bukan sebagai petani tetapi berubah status sebagai buruh tani di kebun sendiri.

Semua urusan perawatan kebun dikerjakan sendiri tanpa memperkerjakan orang lain, dari mulai pembersihan, panen hingga pemupukan.

Baca Juga:  40 Desa di Nagan Raya Akan Lakukan Pilchiksung 

“Hitung-hitung sekedar lepas makan, meskipun harus juga mencari pekerjaan tambahan. Karena kala harga Rp 450/kg saat itu, kalau mengandalkan dari hasil panen sawit tidak akan mencukupi mengasapi dapur dan biaya sekolah anak,” ujar Ali, seorang petani lainnya di Meulaboh, Aceh Barat.

Belakangan, harga sawit mulai membaik di awal tahun 2020 dan terus bergerak naik dari Rp 450/kg menjadi Rp 1.000/kg, katanya, baru kembali pulang mengurus kebun yang sudah rusak karena lama ditinggalkan.

Meskipun harga sawit berada dikisaran Rp 1.000/kg kala itu, namun petani tetap bergairah mengurus kebunnya. Karena biaya yang dikeluarkan untuk perawatan kebun masih mampu ditanggulangi. Sebab harga pupuk nonsubsidi seperti, Kcl Jerman Rp 320.000/sak (isi 50 kg), NPK Rusia sekitar Rp 420.000/sak.

Pelan, namun pasti harga sawit saat itu terus bergerak naik hingga mencapai Rp 3.000/kg ketika masuki bulan puasa. Harga itu tercatat merupakan nilai jual TBS petani yang paling tinggi selama sejarah sawit ada di wilayah itu.

“Kami saat itu betul-betul tidak membayangkan harga sawit bisa mencapai Rp 3.000/kg. Karena tahun-tahun sebelumnya meskipun harga sawit ada terjadi naik turun, namun paling tinggi harganya sekitar Rp 1.800/kg,” ungkap M Isa, seorang petani Alue Rumpun, Nagan Raya.

Masa indah itu, dengan harga di atas Rp 2.000/kg hingga mencapai Rp 3.000/kg hanya dinikmati petani sawit Aceh, cuma setahun lebih. Memasuki, awal Mei masa indah berbulan madu dengan harga sawit yang lumayan mahal mulai berakhir.

“Entah kapan harga sawit mulai membaik lagi di atas Rp 2.000 rupiah perkilogram, kami tidak tahu. Yang jelas dalam bulan-bulan ini harganya terus bergerak turun,” ujar Karmika, petani asal Kuala Batee.

Harga sawit yang berlaku saat ini jelas, katanya, sangat memukul para petani. Lantaran harga pukuk non subsidi mengalami kenaikan mencapai rata-rata 300 persen. Yang jelas, para petani sawit saat ini kembali menjadi buruh di kebun sendiri. Statusnya berubah dari petani sawit menjadi buruh tani.

Baca Juga:  Personel Brimobda Polda Aceh Sterilisasi Tribun MTQ di Simeulue

“Kami harus merawat sendiri kebun seperti, tahun 2018 dulu. Kalau memakai tenaga kerja tambahan tak akan sanggup membiayainya lagi, ditengah harga pukul dan obat-obatan pertanian semakin mahal dan harga sawit terpuruk,” katanya.

Dampak dari memburuknya harga sawit belakangan ini, membuat para pekerja dodos (pemanen sawit), dan tukang babat banyak yang sudah kehilangan lapangan kerja.

“Saya sudah dua pekan tidak ada pekerjaan. Karena tidak ada lagi pemilik kebun yang mengajak saya untuk memanen. Sebab rata-rata yang memiliki kebun 2-4 hektar mereka memanen sendiri kebunnya.

Karena tak sanggup membayar upah orang panen, lantaran harga sudah sangat murah,” ujar Adi yang selama ini berprofesi sebagai tukang dodos sawit di Aceh Barat Daya.

Kalau harga sawit tidak akan membaik, jelas ribuan pekerja yang selama ini menggeluti sebagai tukang dodos sawit dan membabat rumput akan kehilangan lapangan kerja di Aceh.

“Saya biasanya mampu menghasilkan uang dari bekerja sebagai tukang dodos sekitar Rp 200.000 hingga Rp 250.000 per hari. Tapi dalam dua pekan ini sudah tidak ada pekerjaan dan menganggur,” keluh Dollah, pekerja lepas pendodos sawit di Nagan Raya.

Semoga pemerintah cepat mengatasi persoalan harga sawit yang kini semakin terpuruk itu, kembali pada posisi harga normal. Yang pada akhirnya industry sawit di Aceh akan kembali bergairah.

Pekerja lepas tukang dodos sawit, dan tukang babat akan kembali mendapat orderan pekerjaan. Begitu, juga petani sawit akan kembali menjadi berubah status dari butuh tani menjadi petani.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.