Migas Barsela, Betulkah ini Kabar Gembira?

Sumber ilustrasi : Ditjen Migas
Bagikan:

Kolumnis : Affan Ramli

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Conrad Asia Energy Ltd sebagai pemenang lelang dua wilayah kerja Migas di Meulaboh dan Singkil. Dengan komitmen pasti 3 tahun pertama mencapai 30 juta dolar Amerika atau setara dengan 470,4 miliar rupiah.

Itu bisa jadi berita gembira untuk penduduk kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela). Tapi bisa juga, jadi berita duka. Bergantung bagaimana orang-orang Barsela menyiapkan diri mereka. Sumberdaya manusianya, kebudayaannya, dan model distribusi sumberdaya ekonomi yang mungkin dikembangkan di masa depan yang terdongkrak akibat hadirnya industri minyak dan gas (migas) di kampung mereka nantinya.

Blok Meulaboh diestimasikan memiliki sumber daya minyak mencapai 800 juta barel minyak dan gas sekitar 4,8 triliun kaki kubik. Potensi sumber daya minyak untuk Blok Singkil berada di kisaran 1,4 miliar barel minyak dan gas sebesar 8,6 triliun kaki kubik. Jumlah ini lebih besar dari potensi yang diperkiran untuk masing-masing blok Migas Andaman rata-rata 6 triliun kaki kubik.

Tentu saja, ini masih tahap eksplorasi. Belum produksi. Tahapan eksplorasi dimaksudkan untuk mencari dan menemukan lokasi persisnya kandungan cadangan minyak dan gas bumi. Mengikut berbagai rujukan, pada tahap ini terdapat empat studi yang akan dilakukan Conrad Asia Energy Ltd di Barsela. Dimulai dari studi geologi, geofisika, survey seismik, hingga pengeboran eksplorasi. Jika terbukti sesuai perkiraan, akan dilanjutkan dengan tahapan produksi.

Pengalaman pertama Aceh berurusan dengan produksi industri migas terjadi pada 1976 di Aceh Utara. Setelah hampir 50 tahun industri migas itu beroperasi di sana, ribuan triliun uang telah dihasilkan dari sana, masyarakat sekitarnya tetap hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya, cadangan milyaran barel minyak dan triliunan kaki kubik kandungan gas dalam isi perut bumi Barsela tidak menjanjikan apa-apa.

Baca Juga:  Sambut Datangnya Bulan Ramadhan, Pemkab Agara Gelar Zikir Dan Doa Bersama¬†

Saya telah secara sengaja keliling ke gampong-gampong sekitar lokasi industri migas Exxon Mobile di Aceh Utara dan menemukan tingkat kemiskinan ekstrim masyarakatnya tersebar meluas. Semua janji kesejahteraan dengan kehadiran industri migas di sana hanya menjangkau secara terbatas pada keluarga kelas elit belaka.

Saat yang sama, masyarakat jelata sekitarnya terkadang mendapat efek-efek buruk dari aktifitas bisnis perusahaan Amerika itu. Seperti dampak limbah, kebocoran pipa gas, dan kekerasan militer yang didanai Exxon Mobile, pihak pengeruk keuntungan terbesar dari migas Aceh itu.

Penemuan dan produksi migas Barsela nantinya tidak lansung bermakna kawasan itu akan berubah menjadi gemerlap dengan kemakmuran meluas seperti Dubai, Doha, Abu Dhabi, Riyadh dan kota-kota penghasil migas lainnya di Timur Tengah.

Belajar dari kegagalan Aceh pada kasus industri migas Aceh Utara yang menyayat hati, masyarakat Barsela di semua lapisan harusnya perlu berbenah dan mempersiapkan diri. Bukanlah sikap yang bijak, jika dalam proses eksplorasi ini, orang-orang terdidik mereka hanya berdiam diri, menonton proses studi berjalan tiga tahun, menunggu pengumuman berikutnya dari pemerintah pusat terkait rencana produksi migas di Meulaboh dan Singkil.

Mungkin terhitung dungu, jika rakyat Barsela berpikir pemerintah pusat dan pemerintah Aceh sudah belajar dari pengalaman pahit di Aceh Utara dan memperbaiki kebijakan tatakelola migas menjadi lebih pro-rakyat.

Faktanya, pemerintah Indonesia era reformasi berjalan ke arah doktrin ekonomi liberalisme atau neo-liberalisme. Dalam doktrin ini, negara harus mengabdi pada kepentingan kompeni-kompeni, para pemodal besar, kapitalis lokal atau imperialis lintas negara.

Dengan berpijak pada suatu ilusi, jika perusahaan-perusahaan besar dilayani semewah-mewahnya, mereka dapat melipatgandakan keuntungan, dengan itu maka industri sektor swasta dapat melakukan ekspansi besar-besaran, untuk menyerap tenaga kerja seluas-luasnya.

Biasanya, ide ini disebut juga dengan ekonomi sistem menetes. Satu persen penduduk sebagai pemilik modal besar akan meneteskan air kemakmuran dari keran-keran mereka kepada rakyat yang 99 persennya. Keyakinan seperti ini sama sekali tidak terbukti pada kasus industri migas Aceh Utara. Jika pun kemakmuran menetes, pasti dengan keran saluran yang amat sangat kecil, nyaris terkunci mati.

Baca Juga:  FPMPA Apresiasi Kebijakan Gubernur Terkait Penambahan Libur Hari Raya Idul Adha

Andaian seperti itu menjadi benar hanya di negara-negara sosial demokrasi (Sosdem) kawasan Eropa Utara. Itupun karena pemerintah negara-negara kawasan Skandinavia itu membuat kebijakan pajak progresif dan perlindungan hak-hak pekerja secara ketat dan meyakinkan.

Pajak perusahaan industri migas di negara-negara Eropa Utara bisa mencapai 60-70 persen dari keuntungan. Dana besar itu dikelola pemerintah untuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan dengan kualitas terbaik. Menyediakan perumahan layak huni untuk semua warga tak mampu. Mensubsidi besar-besaran harga energi. Juga digunakan untuk memberi gaji rakyat mereka yang pengangguran, agar setiap warga dapat hidup layak.

Tapi doktrin ekonomi sistem menetes itu, dalam wajah liberalisme klasik atau neo-liberalisme, tidak pernah sahih di negara yang dikelola dengan mental irlander dan korup seperti Indonesia. Liberalisme ekonomi pemerintah kita menjadi lebih buruk dengan kondisi mental pengelola negara tak berdaulat dan tak berharga diri di hadapan kompeni-kompeni antarabangsa (transnasional).

Di tambah budaya korup, yang memungkinkan para pejabat negara kita mampu bersimpuh di hadapan para penguasa modal demi akumulasi keuntungan untuk diri mereka sendiri. Berapa milyar uang bisa mengalir ke kantong-kantong pejabat negara dari para pemilik modal besar? Pertanyaan ini akan selalu lebih penting bagi mereka.

Ala kulli hal, masih ada waktu tiga tahun lagi menunggu fase produksi migas Barsela, bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghindari pengalaman buruk Aceh Utara terulangi di Barsela. Ada dua jalan yang bisa dipikirkan sejak sekarang.

Baca Juga:  Sempat Mangkir Selama 438 Hari Bertugas di PBB, Kepala BKPSDM Aceh Singkil Dicopot Dari Jabatannya

Pertama, jalan politik Sosdem. Ini jalan terbaik mencari keadilan ekonomi dan keadilan sosial bagi masyarakat luas di Barsela berhadapan dengan kekuatan kompeni pemodal raksasa industri migas lintas negara ke depan.

Partai-partai politik lokal, jika masih mungkin, bisa diharapkan untuk mengkonsolidasikan gagasan dan kekuatan politik membangun jalan Sosdem itu, dengan berbagai kebijakan lokal. Contoh praktek terbaiknya ada di negara-negara Nordik atau Eropa Utara, seperti Finlandia, Norwegia, Swedia, Denmark, dan Islandia.

Meskipun parlok-parlok tidak punya kekuasaan menyusun kebijakan pajak progresif, setidaknya jalan politik Sosdem dapat memandu cara penggunaan 70 persen hak Aceh dari pembagian hasil migas nantinya.

Kedua, jalan ekonomi MBS. Istilah MBS ini saya ambil dari nama Muhammad Bin Salman, putra mahkota Saudi yang sedang giat-giatnya mengubah ekonomi negaranya dari sistem ekonomi bertumpu pada industri migas digeser pada tumpuan sektor real dan industri kreatif seperti parawisata.

MBS lebih telat menyadari, migas akan segera berakhir dan ekonomi harus mengandalkan produksi barang-barang lebih bervariasi dan jasa kreatif dunia prawisata yang kompetitif. Intinya, sebelum cadangan migas habis, ketergantungan ekonomi pada migas harus digantikan dengan menyiapkan infrastruktur ekonomi baru yang bertumpu pada jenis industri lainnya. Migas harus dijadikan sebagai batu loncatan menuju industrialisasi besar-besaran pada sektor lain.

Pilihan jalan MBS ini adalah opsi terburuk, tapi masih mending dibandingkan kelalaian dalam waktu lama Aceh Utara dan Lhoksemawe. Selama 44 tahun terpana dengan migas dan tersentak dari tidur panjang ketika Exxon Mibile angkat kaki dari tanah mereka. Perusahaan migas pergi, masyarakat masih belum punya infrastruktur ekonomi baru yang menjanjikan.

Apakah Barsela ingin mengulangi kutukan sumberdaya alam seperti itu? Semoga putra-putri Barsela mulai memikirkan ini, sejak dari sekarang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.