Muara Dangkal, Nasib Nelayan Abdya Terombang-Ambing

Muara Ujung Serangga mulai dari kawasan hulu Baharu hingga kawasan hilir Desa Kedai Susoh Abdya dalam beberapa tahun terakhir mengalami pendangkalan, Rabu (08/11/2023). ANTARAN/Agus
Bagikan:

“Tidak hanya aliran muara yang mengalami pendangkalan, mulut muara pun kerap tersumbat karena muara semakin dangkal,” ujarnya.

Jurnalis: Agus

ANTARAN|BLANGPIDIE – Muara Ujung Serangga dari kawasan hulu Baharu hingga kawasan hilir Desa Kedai Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam beberapa tahun terakhir mengalami pendangkalan.

Akibatnya, nasib nelayan setempat terombang-ambing lantaran puluhan unit perahu milik mereka tidak bisa keluar dan masuk untuk beraktivitas mencari nafkah di laut.

Amran kepada wartawan, Rabu (08/11/2023) mengatakan, dangkalnya muara yang dijadikan tempat untuk menambatkan perahu agar aman dari hantaman ombak telah berlangsung sejak lama, bahkan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir tidak ada upaya normalisasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

Baca Juga:  Turun Lagi, Berikut Harga Cabai Rabai Rawit di Bener Meriah Hari Ini

“Tidak hanya aliran muara yang mengalami pendangkalan, mulut muara pun kerap tersumbat karena muara semakin dangkal,” ujarnya.

Kondisi mulut muara yang tertutup oleh sedimen berupa pasir yang terbawa oleh ombak dan menumpuk di mulut muara dimaksud memang kerap terjadi. Bahkan kondisi tersebut telah membuat para nelayan merugi, lantaran perahu mereka kerap dihantam ombak saat bergotong royong mengeluarkan perahu dari muara, begitu juga sebaliknya.

Bekal untuk menangkap ikan serta hasil tangkapan sering berhamburan pasca badan perahu dihantam ombak besar. Tidak hanya itu, perlengkapan perahu seperti mesin, lampu penerang, jaring, aki dan perlengkapan lainnya acap hilang setelah perahu terbalik.

Baca Juga:  Abu H Muhammad Ja'far Amja Apresiasi Wisuda Perdana Santri Ma'had Aly Syekh Muda Waly Al-Khalidy

“Kami harus bergotong royong untuk menarik perahu, baik ketika hendak keluar dari muara untuk melaut maupun hendak masuk muara setelah selesai melaut. Disaat itulah ombak besar kerap menghantam perahu yang masih berada di bibir pantai. Jika mulut muara tidak dangkal begitu juga dengan aliran muara, tentu para nelayan bisa dengan nyaman saat beraktivitas,” terangnya.

Untuk mengatasi mulut muara yang tersumbat itu, pihaknya terpaksa harus melakukan pengerukan dengan alat seadanya. Sayangnya, meski telah berulang kali dilakukan pengerukan secara manual, mulut muara tetap saja kembali tertutup oleh sedimen yang panjangnya mencapai 50 meter hingga ke bibir pantai dengan ketebalan sedimen dari dasar muara mencapai 1 meter lebih. Begitu juga dengan kondisi aliran muaran yang saat ini sudah terlalu dangkal.

Baca Juga:  Terkait Kasus SPPD Fiktif DPRK Simeulue, KoPAM Desak Kejati Aceh Segera Memproses Tersangka Baru

Tidak sedikit nelayan yang gagal melaut lantaran tidak bisa keluar dari muara, dan tidak sedikit pula nelayan yang harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperbaiki perahu yang rusak termasuk perlengkapan melaut lainnya setelah dihantam ombak.

Terkait kondisi itu, pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait, namun hingga saat ini belum tanda-tanda dilakukan penanggulangan berupa pengerukan muara.

“Kami berharap pemerintah tidak menutup mata terkait kondisi yang dialami nelayan kecil ini. Jika dilakukan normalisasi, tentu kami akan lebih leluasa dalam mengais rezeki,” harapnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.