Musim Penghujan, Tanaman Cabai Petani di Bener Meriah Digerogoti Antraknosa

Tanaman cabai petani di Bener Meriah terserang penyakit Antraknosa. ANTARAN / Aman Ipak
Bagikan:

“Dua hari lalu panen, hasil panen berkurang sampai tiga puluh persen dibanding panen sebelumnya. Padahal baru panen ke enam. Antraknosa penyakit menyeramkan,” ucapnya.

Jurnalis : Aman Apak

ANTARAN|BENER MERIAH – Memasuki musim penghujan, tanaman cabai rawit petani di Bener Meriah mulai diserang by penyakit Antraknosa atau patek. Antraknosa merupakan momok bagi petani cabai karena dapat menyebabkan gagal panen.

“Setiap tahun begitu. Saat hujan mulai lebat, disitulah serangan antraknosa membabi buta. Penyakit satu ini selalu membuat petani cabai kerepotan,” kata Mahirdi, petani cabai rawit di Kampung Kenawat Redelong, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Selasa (31/10/2023).

Baca Juga:  50 Penari Tari Akan Ramaikan Pembukaan MTQ Aceh ke- XXXV

Serangan antraknosa kata Mahir sangat sulit diatasi. Berbagai cara dilakukannya untuk mengobati penyakit tanaman tersebut. Diantaranya melakukan pemetikan buah yang telah terinfeksi antraknosa kemudian dibakar. Atau melakukan penyemprotan berbagai macam fungisida untuk mencegah atau mengobati penyakit tersebut, namun tidak efektif.

Menurutnya, penyakit antraknosa sangat cepat menyebar kemudian menginfeksi tanaman cabai. Awalnya buah-buah cabai yang siap panen akan terinfeksi. Setelah itu buah-buah kecil atau sedang ikut digerogoti.

Baca Juga:  Pecah Rekor, Harga Kopi Arabica Tembus Rp 85.000/Kg

Lama kelamaan batang dan daun pun akan mengalami penurunan kualitas yang berimbas pada berkurangnya produktifitas hasil panen petani.

Lebih lanjut ungkap Mahir, penyakit antraknosa yang disebabkan jamur patogen jenis Colletotrichum Capsici tersebut membutuhkan air dan tempat lembab dalam penyebarannya. Sehingga saat penghujan merupakan momen yang ideal untuk berkembang biak dan merusak tanaman petani cabai.

“Dua hari lalu panen, hasil panen berkurang sampai tiga puluh persen dibanding panen sebelumnya. Padahal baru panen ke enam. Antraknosa penyakit menyeramkan,” ucapnya.

Baca Juga:  Nelayan yang Hilang Berhasil Ditemukan di Perairan Ujung Mangki Aceh Selatan

Dirinya berharap, dalam waktu dekat bisa menemukan obat atau racikan yang mampu membasmi penyakit tersebut. Dengan demikian, dapat mengoptimalkan kembali hasil panen cabai rawitnya seperti panen perdana lalu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.