Nomor Punggung 13

Manchester United's Wayne Rooney celebrates scoring his sides second goal of the game with teammate Ji-Sung Park (left)
Bagikan:

Oleh : Monte Cristo

Perlahan, bola di kakinya menggelinding. Semakin cepat dan semakin cepat. Dia menggunakan bagian luar sepatu kanan untuk menggiring bola, sedangkan kaki kirinya bertugas sebagai fondasi untuk mengendalikan semuanya. Di sebelah kanan lapangan, dia menembak seperti peluru yang terbang rendah.

Tetapi, sekelebat bayangan datang dan melompat, menghalangi laju sang pemain. Ternyata itu adalah O’Neilson. Pemain bernomor punggung 13 itu terlihat terdesak.

Mereka sekarang saling berhadapan. O’neilson berdiri di hadapannya, seolah-olah dia adalah benteng besar yang kokoh mengadang siapa saja yang ingin mencoba peruntungan.

“Aku tidak akan melepaskannya,” O’neilson tersenyum. Tatapannya terasa sangat merendahkan dan mengancam lawan, dan sekarang dia mulai merentangkan tangannya.

“Tahan dia!” teriak seorang penonton dari barisan paling atas tribun. Teriakannya disambut dengan sorak-sorai.

“Jangan biarkan dia lolos, O’neilson!” teriak yang lain.

Tribun pun bergemuruh.

Namun, entah mengapa, mendengar sorak-sorai dan teriakan dari atas sana, pemain bernomor punggung 13 malah tersenyum.

“Mengapa kau tersenyum?” tanya O’neilson, merasa diremehkan dan dia tidak bisa menerimanya. Itu adalah sebuah penghinaan.

Namun, lawannya tidak menjawab sama sekali. Dia malah terkesan sedang menganalisis peluang yang akan diambil.

Di sana, di tengah lapangan, temannya memberi isyarat. Dia melihat kembali ke O’neilson, tetapi menjaga jarak untuk menjaga bola tetap berada di bawah penguasaan kakinya.

Baca Juga:  Afridawati Kembali Pimpin PMI Simeulue

O’neilson hanya diberi ruang untuk memantapkan pertahanan dari jarak sekitar setengah meter. Selain itu, mereka berdua hanya bolak-balik, bersama dengan gerakan gertakan pemain nomor 13 yang dibalas oleh gertakan menerkam O’neilson.

Di satu sisi, O’neilson juga belum berani mengambil keputusan. Dia tahu dengan siapa dia sedang berurusan. Lawannya tidak bisa diremehkan.

Sekali lagi, teman dari pemain nomor 13 itu melambai untuk memberi segera mengoper bola. Namun, itu tidak mungkin dilakukan segera karena ada pemain lawan yang membayangi.

Selain itu, apabila ia mengoper ke depan, peluang offside sangat tinggi. Peluang terbesar ada di sepak pojok, tapi saat ini dia harus menghadapi O’neilson.

“Kamu terlalu banyak berpikir, bro,” nada bicara O’neilson mengejek. Namun, sekali lagi pemain nomor 13 hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.

“—di sini!” tiba-tiba ada teman pemain nomor 13 yang sudah menunggu di pojok lapangan.

Ini kesempatan yang bagus. Pemain nomor 13 mulai menarik kembali bola yang ada di kakinya. Dia ingin mengoper. Targetnya ke sudut lapangan.

“Kau takut melewatiku, bro?

O’neilson kembali mencoba memprovokasi tetapi tetap diabaikan.

“Kenapa kau tidak mencoba?”

Waktu mungkin berjalan lambat bagi mereka berdua, tetapi bagi penonton semuanya bergerak sangat cepat. Hal yang sama berlaku untuk O’Neilson. Dia mulai bosan. Sesuatu harus dilakukan.

Baca Juga:  Lepas Kendali, Mobil Toyota Vios Terjun ke Jurang

Dia pun segera mengambil tindakan. O’Neilson menarik lalu menghujamkan tumit kanannya ke rerumputan dengan sekuat tenaga sebagai gaya pegas. Ia pun menerjang ke depan lawannya dengan tubuh terlentang.

O’neilson merasa telah merebut bola dari kaki nomor 13, sampai dia melihat sendiri bagaimana pemain itu melompat dan melewatinya dan mendarat dengan cara yang sangat lembut sekitar 30 sentimeter dari mahkota O’neilson.

“Berengsek?!”

Satu stadion bergemuruh untuk melihat aksi yang menakjubkan itu.

O’neilson hanya melongo, seperti orang kekenyangan. Sebelum meninggalkan lawannya dalam posisi seperti itu, pemain nomor 13 menyeringai.

“Jangan terlalu yakin, bro,” dia berlari ke depan, meninggalkan nomor 13-nya untuk ditatap O’neilson yang bengong.

Ini benar-benar tidak dapat diterima. O’neilson pun bangkit kembali lalu mengejar jersey nomor 13 dengan sekuat tenaga. Kali ini dia ingin melakukannya dengan seluruh sisa kekuatan yang dia miliki.

Sepertinya jersey nomor 13 tidak menyadari ada sesuatu yang mendekat dari belakangnya. Dia masih terus menggiring bola dan bergerak menyeberang ke tengah lapangan, dan kini menuju ke kotak penalti.

Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia bahkan mengecoh dua pemain lawan dengan mudah. Saat melihat peluang terbuka di mana posisi bertahan kiper lawan fokus ke kanan, maka pemain muda itu pun bersiap-siap menendang.

Baca Juga:  Harimau Berkeliaran di Jalan Abdya - Blangkejeren Resahkan Masyarakat, Pihak Terkait Diminta Turun 

Ia berhenti selama sepersekian detik untuk menstabilkan posisi tendangan bola, lalu menarik kaki ke belakang dengan keras sebelum ditendangkan dengan kekuatan penuh.

Namun, saat melepaskan tendangannya, tiba-tiba sebuah kaki datang dan menekan pergelangan kaki pemain nomor 13 ke arah yang sebaliknya.

Pemain nomor 13 kehilangan kendali, pada saat yang sama ia baru saja melepaskan seluruh kekuatannya melalui tendangan tadi saat kaki O’neilson terjatuh dari sisi kiri, sehingga ia melayang ke udara.

Angka 13 menutup matanya, tidak berani melihat ke bawah saat tubuhnya menabrak rumput. Penonton pun bersorak. Suara kemarahan dan kegembiraan bercampur dari setiap sisi seantero tribun.

Pemain nomor 13 membuka matanya. Langit-langit stadion dan lampu sorot terasa menyilaukan. Punggungnya terasa sakit, tiba-tiba muka khas O’neilson menutupi wajahnya.

“Kamu terlalu sombong, bung. Ini adalah permainan 11 orang, bukan pertunjukan satu orang,” goda O’neilson.

Sebelum bergerak membawa bola yang baru saja dimenangkannya, O’neilson sempat mengedipkan mata.

Pemain itu tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ejekan O’neilson, tetapi dia masih bisa melihat saat lawannya berlari membelakangi sebelum menghilang ke tengah lapangan dengan nomor punggung yang persis sama seperti miliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.