Pabrik Mulai Batasi Pembelian, Harga TBS Kelapa Sawit di Barsela Anjlok

harga sawit sampai kebun hari ini anjlok menjadi Rp 1.400/kg atau sudah mengalami penurunan mencapai Rp 1.600 /kg dari harga sebelumnya Rp 3,000/kg, Sabtu (15/05/2022). IST
Bagikan:

Akibatnya puluhan ribu hektar tananaman kelapa sawit milik petani kecil menghentikan panen sementara, sambil menunggu ada agen pengumpul yang akan membeli TBS mereka.

ANTARANNEWS.COM,BLANGPIDIE-Pabrik Pengolahan Sawit (PKS) di kaswasan Barsela (Barat Selatan Aceh) mulai membatasi pembelian tandan buah sawit (TBS) milik petani setempat, sejak Sabtu (15/5/2022).

Malah ada pabrik yang sudah menghentikan sementara pembelian TBS. Akibatnya puluhan ribu hektar tananaman kelapa sawit milik petani kecil menghentikan panen sementara, sambil menunggu ada agen pengumpul yang akan membeli TBS mereka.

Sementara, harga sawit sampai kebun hari ini anjlok menjadi Rp 1.400/kg atau sudah mengalami penurunan mencapai Rp 1.600 /kg dari harga sebelumnya Rp 3,000/kg. Bila keadaan seperti akan berlangsung selama satu pekan kedepan.

Maka dapat dipastikan puluhan ribu hektar areal kebun tanaman kelapa sawit milik petani kecil yang ada di wilayah itu akan membusuk di batang.

Sementara, harga TBS ditingkat agen pengumpul yang dibeli dari petani sampai hari ini sudah mengalami penurunan mencapai Rp 1.600/kg, atau dari harga Rp 3.000/kg anjlok menjadi Rp 1.400/kg.

Baca Juga:  40 Desa di Nagan Raya Akan Lakukan Pilchiksung 

Sedangkan harga pembelian di pabrik saat ini tidak stabil dan bervariasi, bahkan ada pabrik yang membuka harga Rp 1.650/kg, dan ada juga pabrik yang membeli dengan harga Rp 1.870/kg.

Zaman Akli salah seorang agen TBS di Kemukiman Krueng Batee yang dkonfirmasi Antarannews, tadi siang, mengakui ada PKS yang sudah menghentikan sementara pembelian TBS seperti, PKS PT Mon Jambee di Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya.

“Penghentian sementara pembelian TBS di pabrik ini sudah dberitahu kepada seluruh agennya, Sabtu (14/5) siang melalui pesan singkat yang dikirim kepada kami,” ungkap Akli.

Menurut Yusran seorang agen sawit partai besar di Pantee Ceremen, Kecamatan Babahrot, Abdya kepada Antarannews, kemarin, mengatakan, penghentian pembelian TBS di pabrik PKS PT Mon Jambee ini, karena jumlah truk yang antrik untuk melakukan pembongkaran dipabrik tersebut sudah mencapai sekitar 400 unit lebih.

Baca Juga:  Ihsan Jufri : Petani Sawit Terpuruk, Pemerintah Kok Diam Saja

“Yang panjang antriannya sudah mencapai 2,5 kilometer lebih. Kalau antrian pembongkaran sudah normal, mungkin pihak pabrik akan menampung dan membeli lagi TBS,” jelasnya. Peristiwa antrian panjang truk yang hendak membongkar TBS di pabrik sawit PT Mon Jambee ini sudah berlangsung selama tiga hari terakhir.

Yusran maupun Akli secara terpisah mengakui, sampai sejauh ini pabrik PKS termasuk masih yang tertinggi membuka harga pembelian TBS milik petani mencapai Rp 1.870/kg.

Sedangkan, beberapa PKS lainnya seperti, Raja Marga, Astra, Emsen membuka harga pembelian di pabrik Rp 1.650/kg. Meskipun, sejumlah pabrik tersebut membuka harga agak sedikit murah tidak juga menampung pembelian TBS dalam jumlah partai besar.

“Tiga pabrik tersebut memang masih membeli buat, tetapi pemasokan buah sawit dari agen ke pabrik dibatasi hanya dua truk persatu agen perhari. Kalau sebelumnya berapapun sawit yang kita bawa ditampung semua.

Baca Juga:  Ekspor CPO Dibuka Kembali, Harga Sawit Mulai Bergerak Naik

Kondisi ini juga membuat kami membatasi pembelian di petani. Malah satu hari ini menghentikan sementara pembelian. Kalau pun saya beli, itu merupakan sawit yang sudah ada janji beberapa hari lalu,” ujar Yusran.

Sedangkan pabrik PKS di Subulussalam juga masih membuka harga pembelian Rp 1.850/kg. “Harga pembelian pabrik saat ini memang bervariasi dengan sortiran yang cukup ketat,” kata Yusran.

Kondisi ini, katanya, disamping faktor membludaknya buah sawit yang dipanen petani pasca lebaran, juga adanya penghentian ekspos CPO oleh pemerintah, karena pengaruh mahalnya minyak makan.

Sebab, saat ini rata-rata tangki penampung CPO di pabrik sudah penuh, katanya, sementara daya beli dipasaran terbatas.

“Saya dapat informasi hanya 60 ton CPO per pabrik per hari yang ada kuota pembelian di Medan.Sementara produksi CPO per pabrik perhari mencapai 200 ton perhari. Yang lebihnya kemana dibawa. Saya kira regulasi laranngan ekspor harus dicabut, itu solusi satu-satunya,” pinta Yusran.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.