Parah, Harga Sawit Sudah Ambruk 82,7 Persen

Seorang pekerja sedang memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke truk Di Alessandra Jalan 30, Lama Tuha, Kuala Batee, Abdya, untuk diangkut ke pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS) setempat. Harga sawit saat ini, sudah anjlok rata-rata mencapai 82,7 persen. ANTARAN/SUPRIJAL YUSUF
Bagikan:

Jurnalis: Suprijal Yusuf

ANTARANNEWS.COM|BLANGPIDIE – Pasaran harga tandan buah segar (TBS) kepala sawit pada tingkat petani di wilayah Barat-Selatan Aceh (Barsela) semakin parah. Bahkan, harganya sudah ambruk mencapai 82,7 persen atau saat ini berada pada level Rp 520/kg.

Berdasarkan catatan antarannews.com, harga TBS kelapa sawit pada April 2022 lalu sempat mencapai puncaknya dikisaran Rp 3.000/kg. Namun, memasuki bulan Mei 2022, harga TBS kelapa sawit terus terjadi tren penurunan.

Pengaruh turunnya harga sawit kala itu, karena dampak larangan eskpor minyak kelapa sawit (crude palm oli/CPO) dan turunannya, yang mulai diberlakukan pemerintah per 28 April 2022.

Baca Juga:  Pjs Kadin Aceh Terima Investor Singapura, Rencana Investasi 20 Juta Dollar

Setelah sebulan pemberlakukan larangan ekspor itu, kemudian pemerintah membuka kembali kran ekspor CPO dan turunannya pada 23 Mei 2022.

Meskipun, larangan ekspor tersebut sudah dicabut. Namun, laju penurunan harga TBS kelapa sawit di tingkat petani tidak juga tertahan. Bahkan, per 07 Juli 2022, harga sawit petani sudah anjlok cukup dalam dan saat ini hanya tersisa sekitar Rp 520/kg.

Harga tersebut telah terkoreksi mencapai 82,7 persen atau turun rata-rata hingga sekitar Rp 2.480/kg dari harga April lalu mencapai Rp 3.000/kg.

Baca Juga:  Transaksi Sabu, Seorang Sopir di Aceh Selatan Dibekuk Polisi

Sejumlah petani kepada antarannews.com, Kamis (07/07/2022) mengakui, hari ini (Kamis-red) harga sawit kembali anjlok mencapai rata-rata Rp 120/kg atau turun dari Rp 640/kg menjadi Rp 520/kg.

“Bahkan, saat ini kebanyakan para agen hanya bersedia membeli dengan harga di bawah tersebut, yaitu sekitar Rp 500/kg,” ujar Dollah petani asal Kuta Jeumpa, Abdya.

Dengan kondisi harga saat ini, petani hanya bisa membawa pulang penghasilan sawit ke rumah setelah dipotong ongkos panen dan angkut hanya sekitar Rp 200 hingga Rp 300/kg.

Baca Juga:  Terobos Banjir Tinjau Jalan Kayu Menang-Kuba-Asel, Pj Gubernur Tidak Ingin Hanya Janji-Janji

“Sudah cukup menyedihkan nasib kami petani kecil ini. Jangankan untuk menutupi biaya pendidikan anak-anak, untuk belanja kebutuhan dapur saja sudah tidak mencukupi lagi,” keluh Martunis petani sawit asal Aceh Selatan.

Anjloknya harga sawit menjelang memasuki Hari Raya Idul Adha memang sudah sangat membuat petani terpukul. “Jangan kan untuk membeli baju anak-anak, untuk beli daging meugang saja kami tak tahu cari kemana.

Saya hari ini hanya membawa pulang duit 200 ribu rupiah,” ungkap Sabirin petani asal Nagan Raya sembari mengakui dirinya hanya memiliki satu hektar sawit.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.