Penanganan Virus PMK Ala Keuchik Tar

Muktar Daud alias Keuchik Tar
Bagikan:

VIRUS Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sejak dua bulan lalu telah menyerang ternak di Aceh dan sampai saat ini dilaporkan belum reda. Bahkan, menurut amatan Muktar Daud, bulan Juni 2022 ini merupakan puncak penyerangan virus tersebut.

“Juni ini saya kirang puncaknya,” kata Muktar Daud alias Keuchik Tar yang juga Sarjana Kedokteran Hewan (SKH) itu, kepada antarannwes, Senin (6/6/2022) siang, dalam bincang-bincang ringan di Koipi Darat kawasan Jalan Nyak Makam, Banda Aceh.

Berdasarkan pengalaman yang dihadapinya ketika menangani 68 ekor sapinya di Bireuen yang sempat terinveksi virus PMK itu, tidak kurang 66 ekor berhasil disembuhkan dan saat ini kembali sehat bugar. Namun, dua ekor lainnya harus berakhir dipisau penjagal, karena kondisinya sudah sangat parah.

Ciri-ciri sapi atau ternak lain yang terinveksi virus PMK , awalnya ketika pagi terlihat sapi sehat saat berkumpul dengan kawanannya. Namun, tiba-tiba ternak itu mulai terlihat mengigit gigi yang disertai dengan napsu makan berkurang. “Itu sudah ciri-ciri gejala awalnya,” kata Keuchik Tar.

Baca Juga:  Pandawa 5 Desak Panwaslih Aceh Selatan Usut Perusakan Baliho Prabowo-Gibran

Kalau ada terlihat ternak seperti itu, lanjutnya, kemudian keesokan hari bisa dipastikan ternak akan mengalami demam panas dan dimulutnya akan keluar air liur sangat banyak alias ngences. “Kalau semua ciri-ciri itu sudah terlihat jelas. Maka didapat dipastikan alias positif ternak tersebut sudah terinveksi virus PMK,” ungkapnya.

Karena ternak yang terjangkiti virus tersebut langsung napsu makan hilang, lantaran mulutnya dan tenggorakan terserang radang. Bahkan, bagian mulut dan tenggorokan mengalami luka parah. Akibatnya, ternak tidak bisa makan lantaran susah mengunyah. Kemudian, bagian kuku ternak juga ikut terserang sehingga mengalami luka, dan membuat ternak jadi pincang dan nyaris tidak bisa jalan.

Untuk penanganan awalnya, sehingga serangan virus tidak meluas. Maka ternak yang masih sehat harus segera diberi vitamin dan antibiotik. Berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan Keuchik Tar, vitamin yang diberikan dalah Injectamin, sedangkan antibiotik adalah Medoxy-LA atau Vetoxy-LA. Kemudian untuk radang diberikan Sulpidon atau Mediparon.

Baca Juga:  Kadisdik Aceh Dorong Kepala Sekolah untuk Memperkuat Pendidikan di Aceh

“Soalnya sampai sejauh ini belum ada obat khusus untuk mengobati virus PMK ini. Tetapi saya memberikan obat tersebut berhasil menyelamatkan nyawa 66 ekor sapi yang terjangkiti virus tersebut,” katanya.

Dalam pengobatan atau penanganan ternak yang terjangkiti virus tersebut dianjurkan untuk bekerja secara serius. “Tidak boleh kita tangani setengah-tengah hati dan harus secara serius dan khusus penanganannya, kalau tidak akan gagal. Sebab harus terus dilakukan pemantauan setiap saat kondisi ternak. Karena penyebarannya sangat cepat,” anjurnya.

Kemudian, ternak yang sudah terinveksi virus tersebut tidak boleh dibiarkan berada dalam suhu panas dibawah terik matahari. Ternak tersebut harus ditempatkan dibawah lindungan matahari alias ditempat yang teduh atau dingin. Bahkan, dianjurkan ternak tersebut harus dimandikan atau disiram sebanyak 1-3 kali dalam satu hari.

Baca Juga:  Kodim 0107/Aceh Selatan Ikut Ambil Bagian Membantu Ketersediaan Stok Darah di Kabupaten Aceh Selatan

Karena dengan adanya penyiraman ini, akan membuat ternak terangsang napsu makannya. Karena kondisi radang pada mulut dan tenggorakan yang diderita ternak, maka pakan yang diberikan harus lunak seperti, rumput mudah atau dedak yang dicampur air. Pakan semacam ini akan memudahkan ternak untuk makan.

Sedangkan, kuku yang mengalami luka karena terserang virus tersebut juga harus diobati dengan menyemprot Gustanex. Boleh juga dengan obat racikan sendiri yang bahannya berupa spertus 0,5 liter dicampur dengan bensin atau pertalite sebanyak satu liter.

“Obat racikan dengan dosis sebanyak itu bisa digunakan untuk 30 ekor sapi,” jelas Keuchik Tar yang kini juga duduk sebagai Anggota DPRA dair Fraksi Partai Nasional Aceh (PNA) itu.(Suprijal Yusuf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.