Pendangkalan Kuala Gabi, Jeritan Nelayan Aceh Singkil Yang tak Kunjung Tertangani

Kondisi boat nelayan yang karam akibat dihantam gelombang, saat berusaha melewati muara sungai Kuala Gabi di Desa Pulo Sarok Singkil, baru-baru ini. DOK. ANTARAN / Helmi
Bagikan:

“Jika dihitung per kilogram ikan segar dijual ke pedagang dengan harga Rp 15 ribu saja, maka rata-rata setiap harinya uang yang terparkir di Singkil nilainya mencapai Rp 1.214.745.000. Luar biasakan hasil laut Aceh Singkil,” ucap Ismail.

Bertahun-tahun jeritan nelayan di Kabupaten Aceh Singkil mengeluhkan kondisi muara sungai Kuala Gabi, yang setiap saat dapat mengancam jiwa mereka, namun tak kunjung tertangani.

Lintasan yang menjadi akses vital keluar masuk nelayan dari dermaga tradisional menuju laut itu dibiarkan mengalami pendangkalan berkepanjangan.

Bertahun-tahun pula, boat nelayan maupun penumpang kesulitan menurunkan muatannya, yang menyebabkan ekonomi masyarakat pun terhambat.

Bahkan sudah beberapakali boat nelayan sempat karam akibat dihempas ombak saat melintasi muara tersebut. Hingga sejak 3 hari terakhir nelayan terpaksa membongkar muatan di dermaga Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Anak Laut Kecamatan Singkil Utara.

“Untuk menghindari kecelakaan laut yang dikhawatirkan bakal memakan korban lagi, seluruh kapal perikanan sementara berpangkalan ke PPI Anak Laut Desa Suka Damai, Kecamatan Singkil,” kata Kadis Perikanan Aceh Singkil, Saiful Umar.

Hal itu dikatakan Saiful Umar menanggapi kondisi Kuala Gabi, saat menggelar silaturahmi dengan wartawan bersama Pj Bupati Drs Azmi, Jumat (01/09/2023) kemarin.

Ironisnya, beberapa kali anggaran yang dikucurkan untuk menangani pendangkalan tersebut belum juga memberikan penanganan yang tepat.

Tahun ini, anggaran yang dikucurkan senilai Rp 150 juta juga terkesan mubazir dan dipaksakan pekerjaannya. Lantas hasilnya muara tak juga bisa dilalui boat nelayan.

Selain akses vital nelayan yang hendak keluar masuk menuju laut, muara ini juga menjadi pintu masuk masyarakat kepulauan, yang ada di 2 kecamatan, yakni Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat (PBB) yang berada di wilayah perbatasan perairan dengan Sumatera Utara (Sumut).

Sebab, muara Kuala Gabi yang pernah menjadi lintas jalur perdagangan internasional, di wilayah pesisir kawasan Pantai Barat Aceh, juga merupakan salah satu mata rantai untuk meningkatkan ekonomi melalui potensi laut, dan kolam di sekitar pelabuhan Kuala Gabi di Kecamatan Singkil.

Sehingga, sudah selayaknya Kuala Gabi harus segera mendapat penanganan prioritas oleh pemerintah, baik pemerintah kabupaten, Provinsi Aceh maupun Pusat, untuk mengembalikan kejayaan di masa keemasan Bumi Sekata Sepekat itu.

H Ismail Saleh Lubis mantan Kapten Kapal pelayaran, yang juga salah satu tokoh pemekaran kabupaten Aceh Singkil. ANTARAN / Helmi

Berdasarkan analisa sederhana yang dilakukan salah satu tokoh pemekaran Kabupaten Aceh Singkil, H Ismail Saleh Lubis saat berbincang dengan antarannews.com, Jumat (01/09/2023) mengungkapkan, alur serta kolam pelabuhan muara sungai Kuala Gabi cukup strategis.

Sehingga Muara Gabi ini dapat melayani kapal-kapal nelayan, maupun kapal barang dan kapal penumpang dengan draft minimal 4 meter.

Dengan potensi laut Aceh Singkil yang luar biasa ini, Kuala Gabi menjadi tempat bongkar muat ikan setiap harinya, yang diperkirakan mencapai 80.983 kg per hari, atau sekitar mencapai 29.154 ton per tahun. Dan belum termasuk ikan super yang akan di eskpor.

“Jika dihitung per kilogram ikan segar dijual ke pedagang dengan harga Rp 15 ribu saja, maka rata-rata setiap harinya uang yang terparkir di Singkil nilainya mencapai Rp 1.214.745.000. Luar biasakan hasil laut Aceh Singkil,” ucap Ismail. 

Lantas ikan-ikan tersebut diimpor ke Medan Sumut, sebagai pusat industri dan menjadi kiblat perdagangan setidaknya kawasan bagian tengah Pulau Sumatera.

Sehingga Aceh memiliki posisi strategis dalam melengkapi pelayanan berupa mata rantai transportasi di kepulauan ini, katanya.

Setidaknya ada 6 kabupaten kota di kepulauan yang membutuhkan keberadaan Pelabuhan Singkil selain Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat.

Meliputi, Pulau Simeulue serta 5 kabupaten di Kepulauan Nias lainnya. Masing-masing, Kabupaten Nias (Kabupaten Induk).

Kemudian Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kota Gunung Sitoli.

Jika mereka hendak menuju pusat industri dan perdagangan terbesar di Medan, wajib melalui Pelabuhan Singkil Kabupaten Aceh Singkil sebagai pilihan transit dan menjadi jarak tempuh terpendek dan ternyaman yang akan dilalui.

Dirincikannya, untuk jarak tempuh Gunung Sitoli-Kota Sibolga diperkirakan sekitar 82 mil, dengan kondisi melalui lintasan 8 garis putar haluan.

Sedangkan melewati rute Gunung Sitoli-Singkil hanya sekitar 59 mil. Dan terdapat selisih jarak tempuh sekitar 23 mil lebih dekat jika melalui jalur Penyeberangan Singkil dan hanya 1 garis haluan, seperti antara gawang ke gawang lintasan penyeberangan yang dilalui.

Sementara jika melewati jalur darat dari Sibolga menuju Medan Sumut memiliki jarak tempuh sekitar 343 km, dengan lintasan tikungan-tikungan yang cukup tajam.

Sedangkan lintasan Singkil-Medan hanya sekitar 274 km. Dan terdapat selisih jarak tempuh lebih dekat ke Singkil sekitar 69 km, terangnya.

Ironisnya, ada apa dengan Aceh Singkil? Mengapa peluang ini tidak dimanfaatkan sejak diterbitkannya UU Nomor.14 tahun 1999, cetus mantan Kapten Kapal yang kerap berlayar ke antar negara pada masa silam itu.

Dan sudah saatnya Aceh Singkil menjawab pertanyaan ini. Kesempatan untuk memanfaatkan pelabuhan Singkil harus bisa direbut, sebagai penyedia pelayanan yang representatif dan maksimal, beber Ismail

Semoga kita semua peduli terhadap Negeri Batuah Bumi Leluhur Ulama Besar dan Kharismatik Syekh Abdurrauf As-Singkili yang sedang terhina ini.

“Semoga Aceh Singkil menjadi Negeri Baldatun Thayyibattun wa Rabbun Ghafur yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang,” pungkas Ismail mantan mantan Kepala Desa Pasar Kecamatan Singkil ini.(Helmi)

Baca Juga:  Pangdam IM dan Pengurus PWI Aceh Tinjau Pameran Alutsista Milik TNI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.