Pertemuan Cinta Dr Nurdin dan Mareu, Anak Tunggal di Pedalaman

Mareu, satu-satunya desa terpencil dan terisolir di Aceh Jaya, warganya harus menyeberangi dua sungai setiap kali harus pergi ke rumah sakit, puskesmas, pasar, dan sekolah. Dengan rakit kayu, berkapasitas maksimal menampung 5 orang dan dua sepeda motor setiap kali jalan. ANTARAN / AFFAN RAMLI
Bagikan:

Mareu, satu-satunya desa terpencil dan terisolir di Aceh Jaya, warganya harus menyeberangi dua sungai setiap kali harus pergi ke rumah sakit, puskesmas, pasar, dan sekolah. Dengan rakit kayu, berkapasitas maksimal menampung 5 orang dan dua sepeda motor setiap kali jalan. 

Jurnalis : Affan Ramli

Akhirnya rombongan Dr Nurdin terhenti di tengah jalan. Hasrat menggebu-gebu, untuk sampai ke Gampong Mareu, kandas sudah, terhadang hamparan indah sungai jernih, Krueng Inong. Sungai berbatu itu lumayan dalam, pada titik tertentu mencapai satu meter, atau sepinggang orang dewasa. Dengan luasan tidak kurang dari 40 meter.

Meski sudah melalui selusin kubangan licin sepanjang jalan dan melintasi Krueng Kaleung seluas 70 meter sejak perjalanan rumit dimulai dari jalan Gampong Sabet, rombongan kerja Pj Bupati Aceh Jaya itu harus berpuas diri hanya mencapai batas terluar Gampong Mareu.

“Mareu, satu-satunya desa terpencil dan terisolir di Aceh Jaya, warganya harus menyeberangi dua sungai setiap kali harus pergi ke rumah sakit, puskesmas, pasar, dan sekolah. Dengan rakit kayu, berkapasitas maksimal menampung 5 orang dan dua sepeda motor setiap kali jalan.

Krueng Kaleung dan Krueng Inong, mengisolir Mareu dari gampong-gampong tetangga. Desa itu terletak di pedalaman Kecamatan Jaya, 12 kilometer dari Lamno,” ulas Hazami, salah seorang anggota DPRK Aceh Jaya kepada Pj Bupati Nurdin, tepat di hari pelantikannnya seminggu lalu, Senin (18/07/2022).

Baca Juga:  Menjelang Buka Puasa, Tiga Unit Rumah Warga di Abdya Dilalap Sijago Merah

Sontak saja, informasi itu mengganggu pikiran pemimpin baru kabupaten ber-ibu kota Calang itu. Tanpa pikir panjang, Dr Nurdin menetapkan Mareu harus menjadi gampong pertama yang akan ia kunjungi. Menantang medan perjalanan berbahaya dan sulit, rombongan kerja Pj Bupati menggunakan 5 unit mobil Hardtop tua edisi seri 40. Seorang sopir yang membawa rombongan ke pedalaman Mareu memberi keterangan, Hardtop andalan mereka diperkirakan keluaran tahun 82.

“Kami sebenarnya ingin Pak Nurdin sampai ke Mareu, 3 kilometer lagi dari sini,” kata Sudirman, salah seorang warga Mareu, yang dipercayakan mewakili masyarakatnya menyampaikan keluhan-keluhan, persoalan-persoalan, dan suka duka warga Mareu kepada Bupati baru Aceh Jaya di acara silaturahmi itu.

Tetapi warga khawatir, suasana agak mendung. Jika hujan, air Krueng Inong akan meluap lebih tinggi. Tenda-tenda milik gampong yang sudah disiapkan warga untuk menyambut Pj Bupati Nurdin dan rombongan, akan dibawa air. Warga Mareu memutuskan menggelar tenda dan penyambutan di seberang sungai, di perbatasan Gampong Sabet.

“Meskipun Pak Nurdin dan rombongan tidak sampai ke Gampong Mareu, tetapi kami sangat senang, Bapak adalah bupati pertama yang berkunjung ke gampong kami, belum ada pejabat yang mau ke sini, sejak kabupaten ini terbentuk,” ungkap Sudirman dengan nada bersemangat diiringi tepuk tangan masyarakat.

Baca Juga:  Terkait Alsintan, Kejari Abdya Tetapkan Manager UPJA Tersangka

“Itu karena jumlah masyarakat Mareu tidak banyak, penduduknya tercatat 40 kepala keluarga (KK), sehingga jalan dan jembatan ke Gampong Mareu tidak dibangun pemerintah kabupaten. Jalan yang bapak-ibu injak ini adalah jalan yang kami bangun dengan dana desa,” timpal Keuchik Mareu saat diminta tanggapannya mengapa setelah berusia 20 tahun Kabupaten Aceh Jaya, Pemkabnya membiarkan Mareu jadi desa terpencil dan terisolir.

Pj Bupati Nurdin memimpin satu rombongan lengkap melakukan kunjungan kerja pada Sabtu (23/07/2022) ke Gampong pedalaman Mareu, Kecamatan Jaya. Didalamnya ikut serta Komandan Kodim (Dandim), Kapolres, dan sejumlah Kepala Dinas Kabupaten Aceh Jaya.

“Apabila masyarakat di Mareu sudah sering mengusulkan pembangunan jalan dan jembatan, tetapi belum terealisasi, janganlah berkecil hati. Mulai saat ini Mareu menjadi prioritas saya. Kalaupun Pemkab kekurangan dana pembangunan, kita akan mencari dukungan anggaran dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Kebutuhan Mareu pasti kita respon,” tegas Pj Bupati Aceh Jaya yang juga sedang meniti karir sebagai Kepala Pusat Data dan System Informasi (Kapusdatin) di Kemendagri itu.

Baca Juga:  Jumlah Kasus di Simeulue Tahun 2023 Meningkat, Ini Kata Kapolres

“Saya ajak Bapak Dandim, Bapak Kapolres, dan sejumlah kepala dinas ke sini, untuk melihat lansung kondisi Gampong Mareu. Sehingga Bapak-Ibu bisa membuat catatan-catatan dan perencanaan apa yang bisa kita lakukan segera, untuk membebaskan Mareu dari gampong terisolir,” tambah Dr Nurdin.

Dalam perjalanan menuju gampong pedalaman Mareu, Dr Nurdin menyempatkan singgah di Dayah Madrasah Ulumul Diniah Islamiah (MUDI) Lamno untuk bersilaturahmi dan dipeusijuk oleh Abah Sabri, ulama terkemuka setempat.

Juga bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh masyarakat Lamno di Kantor Camat Kecamatan Jaya, sembari mendiskusikan pokok-pokok pikiran pembangunan koridor ekonomi Barat Selatan Aceh (Barsela).

Sebagaimana diketahui, prioritas pembangunan pemerintah kabupaten biasanya ditentukan berdasarkan hitung-hitungan tertentu seperti banyaknya jumlah penduduk di sebuah gampong. Sehingga gampong-gampong dengan jumlah penduduk sangat kecil, seperti Mareu sering terabaikan.

Tetapi kali ini, kekuatan apa yang membawa Pj Bupati Aceh Jaya menembus pedalaman Mareu dengan penduduk 40 Kk? Kunjungan kerja itu hanya bisa dimengerti, bila didorong oleh rasa ingin tahu, kepedulian, dan cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya. Angka-angka statistik tak banyak bermakna.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.