Peunurah, Peralatan Tradisional Aceh Selatan Pendulang Minyak Kelapa

Peunurah, alat tradisional pemeras minyak kelapa yang di pemerkan di Anjungan PKA-8 Aceh Selatan. ANTARAN/Sudirman Hamid
Bagikan:

“Sederetan peralatan tradisional karya nenek monyang Aceh dipamerkan di Anjungan PKA-8 Aceh Selatan. Diantaranya Peunurah yang berfungsi untuk memeras kelapa jadi minyak,” kata H Lahmuddin.

Jurnalis: Sudirman Hamid

ANTARAN | BANDA ACEH – Sejumlah peralatan tradisional berusia tua dan melegenda dipamerkan di Anjungan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)-8, Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, sejak tanggal 4-12 November 2023.

Aceh Selatan salah satu kabupaten tertua dibelahan pantai Barat-Selatan, mayoritas berpenghasilan tani dan nelayan. Sejak dulu kala, masyarakat di sana produktif bercocok tanam, rempah-rempah dan palawija.

Baca Juga:  Malam Pertama, Anjungan PKA Aceh Selatan Diserbu Gelombang Masa

Tokoh masyarakat, sekaligus panitia kontingen PKA Aceh Selatan, H Lahmuddin memaparkan, melalui event terakbar ini kami membawa dan memamerkan peralatan tradisional yang sering digunakan masyarakat sejak masa lampau sampai sekarang.

“Sederetan peralatan tradisional karya nenek monyang Aceh dipamerkan di Anjungan PKA-8 Aceh Selatan. Diantaranya Peunurah yang berfungsi untuk memeras kelapa jadi minyak,” kata H Lahmuddin kepada antaran, Selasa (7/11/2023).

Dijabarkan Lahmuddin, kelapa terlebih dahulu dikukur menggunakan alat tradisional. Kemudian diendapkan dalam ember, sebelum di jemur untuk mengeluarkan zat minyak.

Baca Juga:  Buka Tusa Fair SMAN Unggul Tunas Bangsa, Ini Pesan Pj Bupati Abdya

Usai dijemur, terang Lahmuddin, kelapa yang mulai berbentuk Priek U (fatarana-red) dimasukan dalam Kerah (anyaman-red) terbuat dari rotan. Lalu dimasukan ke ruas bagian tengah Peunurah agar terhimpit atau terperas. Untuk memperketat perasan dipasang baji dan di pukul dari bagian atas.

“Perlahan-lahan, tetes demi tetes minyak mulai mengalir dari celah Peunurah yang ditampung menggunakan ember kecil. Hasilnya disimpan dalam botol atau guci. Begitulah prosesnya hingga minyak terperas habis dan tersisa Priek U kering,” jelasnya.

Disebutkan Lahmuddin, selain Peunurah, Aceh Selatan juga menampilkan peralatan kuno lainya, seperti; Geuneeku (kukuran), Weeng Teubee (perasan tebu), Jeungki top padee (penumbuk padi), Langai (alat membajak yang ditarik kerbau), Ambong rotan dan aneka peralatan tradisional lain.

Baca Juga:  Mengutip Kata-kata Bijak Syekh Abdul Qadir Jailani Sebagai Pelita Hati

Keberadaan peralatan tradisional di Anjungan Aceh Selatan, dilengkapi penjelasan dari panitia. Semoga kita tidak buta sejarah.

“Peralatan-peralatan tradisional ini menunjuk dan membuktikan Aceh Selatan salah satu kabupaten yang eksis bercocok tanam rempah-rempah dan produksi tani lainnya. Iya, peralatan ini berkaitan dengan tema PKA-8,” pungkas Lahmuddin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.