Piala Dunia Kebencian

sumber ilustrasi: republika.co.id
Bagikan:

Kolumnis : Affan Ramli

Piala Dunia Kebencian, judul ini saya ambil dari sebuah artikel di media Israel, Yedioth Ahronoth. Koran itu menurunkan sebuah laporan tak mengenakan, bahwa para wartawan berbagai media massa asal Israel dihadang banyak kesulitan selama meliput berita Piala Dunia di Qatar.

Pasalnya, masyarakat dari negara-negara Arab, Iran, sebagian Afrika, dan sebagian Amerika Latin yang datang ke Qatar untuk Piala Dunia menolak wawancara yang ditawarkan media-media Israel. Setiap usaha mewawancarai Publik Arab disambut dengan teriakan dukungan mereka kepada Palestina. Slogan-slogan “Pelestine” atau “Free Palestine” (kemerdekaan palestina) disuarakan keras-keras di depan awak media Israel.

Dalam banyak kasus, saat masyarakat di sekitaran Stadion Piala Dunia Qatar dimintai pernyataan opini oleh sejumlah reporter TV, masyarakatnya pergi begitu saja meninggalkan reporter berdiri terpaku dengan microphone di tangan, setelah masyarakat tahu yang sedang mewawancarai mereka adalah saluran TV dari Israel. Karena Israel itu tidak ada, kata publik Arab di Doha. Hanya Palestina saja yang ada.

Penolakan masyarakat atas keberadaan negara Israel ini mengagetkan. Terutama, karena dalam beberapa tahun terakhir, media-media massa dunia membentuk opini publik Timur Tengah bahwa situasi telah berubah. Negara-negara Arab telah melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Sudah terjadi penandatanganan perjanjian damai Arab-Israel.

Perhelatan akbar piala dunia di Qatar menyediakan cara bagi Isarel untuk menguji ulang apakah propaganda mereka beberapa tahun terakhir tentang normalisasi Arab-Israel sudah berhasil. Terbukti, hasil lapangan mengecewakan rezim zionis itu. Pemerintah beberapa negara Arab memang sudah menandatangani perdamaian dengan Israel, tapi hati rakyat mereka masih bersama perjuangan rakyat Palestina.

Baca Juga:  Akhiri Era Balai, PWI Pidie Jaya Naik Status

Maroko misalnya, pemerintahnya sudah menandatangani perjanjian damai dengan Israel baru-baru ini, mengikut jejak Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, dan Turki yang sudah lebih duluan. Tapi Timnas bola Maroko yang membanggakan itu mengibarkan bendera Palestina dalam banyak momen perayaan kemenangan mereka. Penanda timnas Maroko mewakili rakyat mereka memihak Palestina, sekalipun pemerintah mereka mulai mendukung Israel.

Jangan lupa, Timnas Maroko saat ini jadi kebanggaan 22 negara Arab di Asia Barat dan Afrika Utara. Juga, keberhasilan mereka mencapai semifinal setelah menaklukan Spanyol dan Portugal menjadi kebanggaan masyarakat muslim seluruh dunia. Israel, tentu tidak nyaman dengan kampanye Timnas Maroko mendukung kemerdekaan Palestina di tengah keberhasilan tim Singa Atlas itu mengambil tempat di hati rakyat Arab dan muslim dunia.

Kenyataan ini terlalu pahit untuk Israel. Mereka ingin memanfaatkan piala dunia di Qatar sebagai momen berbaurnya Arab-Israel secara kebudayaan di tingkat masyarakat. Malah mendapatkan diri mereka terisolir dan dibenci masyarakat Arab. Dengan kata lain, perhelatan piala dunia di Qatar, meskipun pada aslinya ajang kompetisi olahraga dunia, tapi telah dijadikan tempat kondolisasi kampanye publik Timteng melawan kebengisan rezim zionis Israel.

Baca Juga:  8 Penambang Tertimbun, Polres Aceh Selatan Dalami TKP

Penolakan masyarakat Arab berinteraksi dengan orang-orang Israel dan media massa asal Israel dalam momen pergelaran piala dunia ini terlalu transparan. Tidak bisa ditutup-tutupi oleh rezim Arab manapun. Suara mereka yang selama ini dibungkam di negara masing-masing, kini mendapat panggungnya untuk bersuara bebas.

Untungnya, Pemerintah Qatar sendiri belum ikutan gila. Mereka belum tertarik untuk menormalkan hubungan dengan Israel. Sehingga tidak perlu mengusahakan apapun untuk melarang para pengunjung atau supporter dari berbagai belahan dunia mengangkat bendera Palestina tinggi-tinggi dan mengkampanyekan permusuhan kepada Israel.

Dalam peta geopolitik Timur Tengah, Kerajaan Qatar memilih lebih mandiri dan otonom dalam mengambil posisi politik. Tidak tunduk pada pengarahan rezim Arab Saudi dan UEA yang pro-Israel, saat yang sama Qatar tidak tertarik bergabung dalam kubu poros resistensi dan jaringan proksi Iran.

Dalam pandangan banyak orang, Qatar dilihat bagian dari kubu jaringan politik Ikhwanul Muslimin (IM) internasional. Tapi tentu, bukan IM pragmatis gaya Turki, yang berpidato berapi-api membela Palestina suatu hari, lalu memamerkan hubungan mesra dengan Israel di hari berikutnya.

Dulu, Qatar aktif dalam persaingan geopolitik Timteng. Kerajaan kecil teluk itu pernah bermain agresif seperti Uni Emirat Arab saat ini. Dimana Qatar telah mengambil bagian dalam kubu Turki, Yordania, dan Mesir (sebelum kudeta militer). Mereka kompak merongrong Pemerintahan Assad di Suriah dan terlibat perang militer di Yaman dalam aliansi Arab Saudi.

Baca Juga:  Distanpan Abdya Salurkan 79.700 Bibit Jengkol

Belakangan, Qatar memilih kalem. Menarik diri dari aliansi Arab Saudi dan menjaga hubungan baik dengan semua para pemain penting kawasan itu. Pada tingkat tertentu, Qatar terlihat seperti belajar dari sikap politik netralitas tetangganya, Kerajaan Oman. Dengan doktrin politik zero enemy (tidak punya musuh). Satu-satunya pengecualian yang membedakan kedua kerajaan itu saat ini, Qatar masih menfasilitasi Hamas Palestina bekantor di Doha.

Dengan posisi politik yang dipilih Qatar saat ini, kerajaan itu tidak perlu mengembangkan retorika permusuhan kepada Israel, tapi juga tidak perlu menghambat masyarakatnya dan masyarakat Timur Tengah berkampanye melawan Israel sepanjang pergelaran piala dunia.

Itu artinya, kampanye semesta melawan kejahatan Israel yang seharusnya terjadi di Mekah pada setiap musim haji, kini mendapat panggung pengganti di momen piala dunia di Qatar.

Jutaan manusia yang berkumpul di musim haji menjadi lembek, tidak punya efek politik apapun dalam pembelaan hak-hak Palestina karena kerajaan keluarga Saudi tidak mungkin membiarkan peristiwa seperti itu terjadi. Kini, rakyat dari seluruh penjuru bumi bebas menyuarakan keberpihakan mereka pada penderitaan rakyat Palestina di Qatar. Disaksikan miliaran mata umat manusia.

Semoga luka hati rakyat tertindas Palestina dengan kelakukan rezim-rezim Arab, dapat tertebus dan terpulihkan setelah mereka menyaksikan solidaritas umat manusia seluruh penjuru bumi yang berkumpul di Doha.

Berkah Piala Dunia, segerakanlah kemerdekaan Palestina!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.