Pilkada Abdya dan Bahaya Oligarki Politik

Wakil Ketua DPRK Abdya, Kader Partai Aceh, Hendra Fadli, SH, MH.
Bagikan:

Mungkin bagi mereka, tak penting Partai itu berwarna Merah, Kuning, Biru, ataupun Putih. Asalkan ketika musim Pemilu tiba, barang bagus bisa masuk ke dalam arena pertarungan, dan menang.

Oleh : Hendra Fadli, SH, MH.
Penulis adalah Wakil Ketua DPRK Abdya, Kader Partai Aceh


Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung oleh rakyat seyogyanya berfungsi sebagai mekanisme demokrasi yang semakin bermutu, untuk melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dari masa ke masa. Namun, bila Pilkada hanya menghasilkan kekuasaan yang berasal dari lingkaran kerabat atau keluarga yang itu-itu saja. Sekalipun kekuasaan tersebut minim prestasi, apalagi legacy. Itu pertanda oligarki politik sedang mencengkeram.

Oligarki secara sederhana adalah struktur pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh sekelompok orang, dan di tempat kita biasanya terdiri dari kerabat dekat atau saudara biologis, yang selalu berupaya mengendalikan kekuasaan untuk mewujudkan keinginan mereka.

Sekelompok orang sebagaimana tersebut di atas bukanlah kumpulan manusia klas bawah. Tetapi terdiri dari Politisi Tajir, para bohir dan birokrat yang aktif mengintervensi suksesi politik. Mereka menggunakan segala daya upaya. Baik keuangan yang berlimpah, maupun pengaruhnya yang kuat untuk memenangkan jagoannya dalam setiap pertarungan politik perebutan kekuasan. Lalu mempertahankan kekuasaan tersebut di fase berikutnya dengan tokoh lain yang juga berasal dari kaumnya.

Baca Juga:  Bisakah Perang Ukraina Berubah Manjadi Perang Dunia-III?

Pemerintahan Oligarki memiliki tipe-tipe yang berbeda, tapi memiliki ciri umum yang sama, yaitu pemanfaatan dan pengendalian kekuasaan oleh sekelompok orang untuk memperoleh sumber-sumber keuangan dari kegiatan proyek-proyek pembangunan. Termasuk penguasaan atas tanah, mineral, dan sumber daya alam lainnya.

Untuk mencapai tujuannya seperti tersebut di atas, dalam skala nasional para oligarki ikut membangun dan mendanai Partai Politik sebagai jembatan menguasai tahta. Namun, pada tataran tertentu, terutama dalam skala lokal, terdapat juga kaum oligarki yang tak ambil pusing melibatkan diri dalam hiruk-pikuk kepengurusan Partai Politik, apalagi harus menghambakan diri pada manivesto dan garis-garis perjuangan politik Partai tertentu.

Mungkin bagi mereka, tak penting Partai itu berwarna Merah, Kuning, Biru, ataupun Putih. Asalkan ketika musim Pemilu tiba, barang bagus bisa masuk ke dalam arena pertarungan, dan menang.

Baca Juga:  Cara Khusus, Mikirin Duit Otsus

Dalam iklim demokrasi indonesia, praktek politik oligarki itu sah-sah saja terjadi. Demikian juga secara legal formal, tak ada satu pasal pun dalam Undang-undang negara yang dilanggar oleh kelompok oligarki tersebut. Mengingat, ikhtiar pelanggengan kekuasaan oleh mereka itu berjalan dalam demokrasi prosedural berupa pemilihan umum yang bebas, jujur, adil, dan rahasia.

Hanya saja para ahli mengkhawatirkan adanya sejumlah dampak buruk dari pemerintahan berjenis oligarki itu. Diantaranya yaitu, terpusatnya kekayaan dan kesejahteraan hanya pada segelintir orang yang berada dalam sirkel inti oligarki. Sementara kemakmuran rakyat, kalaupun ada, hanya berupa serpihan-serpihan pembangunan saja.

Seperti yang disampaikan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul 21 Pelajaran untuk abad Ke-21. Dengan mengambil contoh Rusia sebagai negara dengan sistem Pemerintahan oligarki, Ia menyebutkan; “Menurut beberapa ukuran, Rusia termasuk negara dengan ketimpangan tertinggi di duni; 87% kekayaan terkonsentrasi di tangan 10% orang terkaya”.

Selain itu, Aristoteles menjelaskan oligarki sebagai manifestasi dari pemerintahan yang buruk. Alasannya karena oligarki cenderung bersifat elitis, eksklusif, beranggotakan kaum kaya, dan tidak memperdulikan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  Suntik Dosis Moral di Dunia Kesehatan, Perlukah?

Terkait dengan perkembangan mutakhir politik Pilkada di Abdya, lalu muncul pertanyaan, benarkan bahaya politik oligarki itu sedang mencengkeram bumoe breuh Sigupai yang kita cintai ini?. Ups, tunggu dulu, bagi anda para perintis politik atau dalam bahasa Bambang Pacul disebut sebagai Korea-korea yang hendak melenting ke atas, saran saya agar tidak berburuk sangka sebelum anda mengamati secara mendalam lingkungan sosial, ekonomi, dan politik di sekitar anda. Lalu duduk merenung sembari mengolah daya fikir anda dengan rileks sambil menyeruput segelas Kopi.

Kalaupun menurut anda ancaman politik oligarki itu nyata adanya, maka para pendukung kekuasaan oligarki mungkin punya segudang argumen untuk mematahkan opini ringkas ini. Namun yang pasti, seperti yang disampaikan Abraham Lincoln “anda bisa mengelabui semua orang untuk beberapa lama dan sebagian orang untuk selamanya, tetapi anda tidak bisa mengelabui semua orang untuk selamanya”.(*) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.