Profesor IPB : Bawang Merah Biangkerok Inflasi

Konsorsium Bawang Merah Aceh menggelar seminar sehari di Hotel Garuda Syariah, Banda Aceh, Rabu (14/12/2022). Foto Dokumen Panitia
Bagikan:

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Varietas itu, swasembada bawang merah kita hanya 60 persen. Artinya 40 persennya lagi harus ditopang lewat mekanisme impor.

Jurnalis : Sahidal Andriadi

ANTARANNEWS.COM|BANDA ACEH –
Guna mendorong peningkatan produksi bawang merah dalam rangka penguatan ketahanan pangan, Konsorsium Bawang Merah Aceh menggelar seminar sehari di Hotel Garuda Syariah, Banda Aceh, Rabu (14/12/2022).

Seminar yang dilaksanakan secara kolaboratif bersama Universitas Syiah Kuala (USK) dalam skema program patriot pangan tersebut menghadirkan narasumber dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si.

Peserta seminar terdiri-dari kelompok petani bawang yang dibina Konsorsium dari Aceh Besar dan Pidie, serta mahasiswa USK.

Baca Juga:  Pj Gubernur Aceh Sambut Kedatangan Ketum PB NU

Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc, dalam pembukaan acara menyebutkan, bahwa kegiatan seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam teknik budidaya dan penanganan paska panen bawang merah.

“Mulai dari penyiapan lahan yang baik, penanggulangan penyakit, perbaikan varietas, hilirisasi, dan smart farming,” papar Prof Samadi.

Disebutkannya, upaya ini dilakukan secara pentahelix melalui kolaborasi 5 (lima) unsur yaitu Academician (Akademisi), Business (Bisnis), Community (Komunitas), Government (Pemerintah) dan Media (Publikasi Media).

Sementara itu, dalam materi seminarnya Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si menuding bawang merah sebagai salah satu biangkerok terjadinya inflasi di Indonesia. Kebutuhan bawang merah dalam negeri yang tinggi tidak diikuti oleh kemampuan produksi.

Baca Juga:  IPAR Gandeng PWI Aceh Besar Gelar Pelatihan Jurnalistik

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Varietas itu, swasembada bawang merah kita hanya 60 persen. Artinya 40 persennya lagi harus ditopang lewat mekanisme impor.

Sobir juga membeberkan data bahwa produktivitas bawang merah nasional saat ini hanya 10 ton/ha, padahal produktivitas dunia sudah mencapai 15 ton/ha.

“Dan Aceh, produktivitasnya masih di bawah nasional yakni 8,52 ton/ha. Kemampuan produksi Aceh hanya 10.136 ton sementara kebutuhan konsumsi mencapai 15.531 ton,” paparnya.

Tentunya ini menurutnya harus ditangkap sebagai peluang oleh petani Aceh. Terdapat 30 varietas bawang merah yang saat ini dibudidayakan di Indonesia.

Baca Juga:  Pj Bupati Aceh Jaya Salurkan Bansos Untuk Masyarakat Aceh Jaya

“Perlu diujicoba, varietas mana yang paling sesuai untuk di Aceh dan kita bisa buat penangkarannya sendiri,” ujar Sobir.

Seminar yang dipandu oleh moderator Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc tersebut turut dihadiri oleh Dewan Pembina Yayasan Pionir Nusantara mewakili Konsorsium Bawang Merah Aceh, Dr. Anas M. Adam.

Selain itu juga hadir Kabag Umum Baitulmal Aceh, Didi Setiadi, S.Sos, Tim Perah Bank Indonesia, Leli Novita, Ketua Pokja Bawang Merah USK, Prof. Dr. Rina Sriwati, M.Si, dan Sekretaris Prodi Agrotek USK, Dr. Siti Hafsah, SP., M.Si.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.