Revolusi Kedai Kopi, Mungkinkah?

Bagikan:

Oleh : Masri Pribumi

Aceh, negeri bergelar seribu kedai kopi. Dikenal sebagai penghasil kopi terbaik di Indonesia, dengan kopi Gayonya. Kopi dan orang Aceh terpaut cinta tak terpisahkan, melebihi kisah Laila Majnun.  Keberadaan kedai kopi mulai dari pelosok kampung sampai ke Kutaraja, memberi kontribusi besar. Bukan saja pada ekonomi, juga menampilkan wajah kebudayaan unik, gaya hidup orang Aceh. Secangkir kopi adalah pemberi tenaga kehidupan.

Namun, bisakah kedai kopi Aceh berperan seperti kedai kopi di Prancis, Amerika dan sudut bumi lainnya pada suatu masa, menjadi basis-basis perputaran gagasan-gagasan perubahan sosial bagi kaula mudanya? Itulah inti diskusi tulisan ini.

Konon, telah diketahui luas bahwa kedai kopi Le Procope, merupakan tempat langganan ngopinya Voltaire sang pelopor revolusi Prancis. Di kedai kopi itu, Voltaire tidak sendirian, ia duduk memutar otak bersama teman-temannya seperjuangan, dari para seniman dan intelektual lainnya seperti Rousseau, Diderot, dan Pirot.

Revolusi Prancis (1798-1799) menjadi salah satu revolusi besar yang mengubah tatanan kehidupan dunia. Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi, kerajaan, aristokrat, dan gereja katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru; Liberté (kebebasan), égalité (persamaan), dan fraternité (persaudaraan).

Cerita senada ini juga mencatat di benua Merah. Kedai kopi Green Dragon Tavern, yang terletak di Boston, Massachusetts tercatat sebagai  markas besar revolusi Amerika. Di kedai kopi inilah para tokoh revolusi berkumpul, berdialektika politik saat menjelang dan selama revolusi Amerika 18 tahun, 1765- 1783.  Jauh sebelum itu, Raja Charles II  dari Inggris pernah menutup seluruh kedai kopi di London dengan tuduhan menjadi tempat pemufakatan makar pada tahun 1675. (https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_kopi).

Baca Juga:  Terkait Jembatan Padang Kawa Penyebab Banjir, Ini Pernjelasan Kadis PUPR Abdya

Dari beberapa fakta besar di atas, kelihatan hubungan kedai kopi dan revolusi begitu erat, seirama dengan denting gelas yang memantik api perubahan.

Fadh Fahdepie sebagai penulis, pengusaha sekaligus aktivis.telah mengusung flatform diskusi bertajuk Revolusi Kedai Kopi (RKK) sejak  tahun 2018. RKK  terus menarasikan imajinasi Indonesia masa depan dengan bergerilya ke beberapa kota termasuk Aceh. Saat ini dibawah Amanah Instititute, RKK lebih fokus pada Revolusi Diri.

Berbalik dari cerita-cerita di atas, para akademisi dan pemerintah cenderung melihat kedai kopi sebagai tempat bermalas-malasan. Pemuda Aceh terlalu lama menghabiskan waktu santai di kedai kopi yang sama sekali sangat tidak produktif.

Kedai kopi kita, semata dilihat sebagai usaha yang menjanjikan dengan beragam sajian varian kopi robusta atau arabika. Desain kedai kopi, ketersediaan Wifi dan room meeting serta live music sebagai fasilitas pemberi nilai tambah, murni bisnis. Suasana kedai kopi seperti itu umumnya lebih kepada menawarkan privasi. Orang orang duduk satu meja namun sibuk dengan gawainya.

Sisi Pahit Kopi

Kebanyakan para penikmat kopi kita, hanya pelanggan apatis, tidak mau tahu tentang filosofi kopi ‘ada sisi pahit yang tak mungkin kita sembunyikan’. Sisi pahit itu adalah keresahan sosial yang harus dibincangkan. Wajah pahit tatanan kehidupan kita yang harus diletakan di atas meja kedai kopi, untuk dibahas dan didiskusikan sebagai dasar penyusunan aksi-aksi.

Baca Juga:  Aduh Gawat, Diperkirakan Setiap Hari 17 Pasutri Bercerai di Aceh

Kedai kopi dalam dimensi sosial sejatinya adalah tempat menyuarakan keresahan, melahirkan diskusi dan berujung pada aksi.  Bukan melulu tempat rehat, tapi juga tempat curhat. Fakta tentang kafein sebagai stimulan alami terabaikan dalam secangkir kopi. Kafein yang terserap dalam darah dan sampai ke otak akan memicu hormon dan neurotransmitters.

Kafein memicu norepinephrine/ noradrenalin yang meningkatkan gairah dan kewaspadaan, meningkatkan pembentukan dan pengembalian kembali memori, serta memfokuskan perhatian. Bahkan memicu  hormon dopamine yang meningkatkan suasana hati, sehingga orang akan merasa lebih senang dan bahagia. Alhasil, otak bisa bekerja maksimal dalam berbagai ranah diskusi.

Di Aceh, sangat jarang kita temukan kedai kopi yang menyediakan tempat khusus untuk diskusi serius. Jikapun ada itu hanya inisiatif beberapa orang untuk menggelar diskusi di pojok pojok sempit. Acara diskusi yang digelar di kedai kopi pun terkesan formalitas, insidensial, dan mengangkat polemik terbaru, tanpa melahirkan sebuah aksi berkelanjutan.

Revolusi kedai kopi bisa mengarah pada banyak hal, revolusi budaya, politik bahkan revolusi keummatan. Contoh paling konkrit adalah revolusi keummatan dari salah satu kedai kopi, Kopi Nanggroe, di kawasan Batoh, Banda Aceh. Mengambil tajuk “Ngopi juga Ngaji” mereka menggelar  pengajian rutin terbuka untuk umum yang disampaikan oleh para ulama Aceh dengan interaksi tanya jawab.

Baca Juga:  Buka Kontingen PORA XIV/2022 Pidie untuk TC, Ini Pesan Bupati Amran

Pengajian ini bisa kita hadiri langsung atau kita nikmati dari berbagai flatform media sosial secara langsung. Ngopi juga ngaji telah menjadi sarana dakwah yang sangat kreatif dan efektif. Kopi Nanggroe juga menjadi kedai kopi yang mendukung Gerakan Kemashatan Ummat (GKU) yang mengumpulkan donasi untuk dayah dan fakir miskin.

Revolusi kedai kopi hanya bisa terjadi bila mampu merombak mindset para penikmat kopi. Menjadi  pelanggan karena kebutuhan aktualisasi diri, tersedia  ruang publik  yang representatif sebagai tempat belajar dan mengajar dalam dua arah.

Revolusi kedai kopi Aceh akan segera dimulai jika para pegiat antar komunitas mampu membangun ikatan bersama melahirkan ide dan gagasan untuk aksi aksi positif. Kolaborasi intelektual, pengusaha dan aktivis adalah kunci untuk mengusung konsep panggung  keresahan. Panggung yang menjadi altar agung menyuarakan  pandangan perubahan dan pendapat kritis tentang berbagai fenomena sosial dan kebijakan.

Keresahan yang tersampaikan dari kedai kopi secara rutin  lebih mengena dan to the point. Biarkan dia mengalir, merasuk akal dan pemikiran. Potensi perubahan dari keresahan yang tersampaikan secara eksponensial akan memunculkan sebuah perubahan yang bisa menjadi sebuah revolusi.

Semoga kedepan revolusi kedai kopi semakin tumbuh di berbagai pelosok Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.