Rusia Mulai Dominasi Dunia?

Sumber ilustrasi : irancartoon.com
Bagikan:

Pihak Rusia pun seolah-olah membenarkan apa yang dikhawatirkan Barat tersebut, beberapa persiapan dan unjuk kekuatan dipublikasikan baik secara terang-terangan maupun semi terang (Imperfect Information) sebagai bagian dari upaya Psychological War.

Oleh : Burhan El-Anshary
Analis Politik Kawasan (Geopolitik)


Eropa akan segera memasuki puncak musim dingin, di Ukraina khususnya di Ibukota biasanya puncak musim dingin terjadi pada pertengahan Bulan Januari hingga pertengahan Februari, suhu saat ini berkisar minus 1-5 derajat Celcius dan akan terus bergerak naik hingga akhir Januari mencapai minus 7-11 derajat Celcius. Tahun lalu suhu terendah di beberapa tempat di Ukraina mencapai minus 11 – 20 derajat Celcius.

Sejumlah pihak sangat khawatir dengan cuaca ekstrem di Ukraina, hal ini karena dalam beberapa bulan terakhir militer Rusia mengintensifkan serangan terhadap fasilitas sumber energi di Ukraina yang berarti Ukraina akan mengalami kesulitan dalam menghadapi musim dingin yang akan segera datang.

Kantor Presiden Ukraina menyebutkan serangan sengit Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina telah menyebabkan putusnya aliran listrik yang parah di beberapa kota. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggunakan cuaca dingin, salju dan es untuk keuntungannya, “Putin kini mencoba menggunakan musim dingin sebagai senjata perang melawan Ukraina, dan ini mengerikan” ujarnya dalam pertemuan di Bucharest, Rumania.

Baca Juga:  FKPPA Sebut Wacana Undang Tiga Tokoh Nasional di HUT Abdya Langkah Cerdas dan Tepat

Pernyataan Stoltenberg itu dibenarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly. Hal ini kemudian membuat Amerika dan Eropa terpaksa kembali merogoh kocek lebih dalam untuk mempersiapkan kemungkinan serangan skala besar Rusia pada musim dingin ini.

Selain peralatan militer dan kecanggihan teknologi yang memang sejak awal perang telah di adu di Ukraina, kali ini solidaritas yang luar biasa dari negara-negara Barat juga akhirnya mempersiapkan bantuan suplai listrik dan pemanas ruangan untuk upaya bertahan hidup di Ukraina, karena tanpa adanya suplai tersebut orang-orang di Ukraina baik sipil maupun militer bisa mati membeku kedinginan.

Pihak Rusia pun seolah-olah membenarkan apa yang dikhawatirkan Barat tersebut, beberapa persiapan dan unjuk kekuatan dipublikasikan baik secara terang-terangan maupun semi terang (Imperfect Information) sebagai bagian dari upaya Psychological War.

Dunia mengetahui bahwa Rusia telah mengambil resiko yang sangat tinggi dengan kejatuhan ekonomi akibat sanksi-sanksi Barat, namun laporan terakhir menunjukan bahwa mata uang Rubel Rusia justru telah menjelma menjadi salah satu mata uang terkuat di dunia, hal ini terjadi karena Putin berhasil menekan negara-negara Eropa pengimpor gas Rusia tidak punya pilihan selain terpaksa membayar suplai energi Rusia tersebut dengan mata uang Rubel.

Baca Juga:  Insan Bumi Mandiri Kembali Menggelar Kegiatan Buka Bersama di Pedalaman

Presiden Rusia bahkan sempat menawarkan perdamaian “Kami siap untuk menegosiasikan beberapa persetujuan dengan seluruh pihak yang terlibat, tapi terserah mereka, bukan kami yang menolak bicara, tapi merekalah yang menolak berunding” ujar Putin seperti dikutip npr.org.

Ucapan presiden Putin tersebut seakan-akan mengatakan bahwa jika kedepan terjadi sesuatu yang mengerikan, maka Rusia tidak ingin dipersalahkan karena telah menawarkan upaya perundingan dengan Barat. Tampaknya Putin telah siap menghadapi segala resiko yang jika gagal Rusia akan hancur, namun jika usaha ini berhasil Rusia akan berubah menjadi negara adidaya baru yang akan mendominasi Barat.

Kesimpulan itu agaknya mendekati kebenaran jika kita melihat track record kebijakan Rusia untuk mendominasi dunia dimana Rusia tidak mengabaikan peran Umat Islam dalam kancah global, kebalikan dengan kebijakan Barat yang identik menyudutkan umat Islam dan menahan negara-negara mayoritas muslim tetap berada pada posisi negara berkembang.

Disaat Barat gencar mempropagandakan perang melawan terorisme yang meningkatkan sentimen anti muslim dan Arab di seluruh dunia, Rusia justru meresmikan secara besar-besaran masjid pertama di ibukota negaranya dengan mengundang Presiden Erdogan dari Turki dan Mahmoud Abbas dari Palestina. Disaat Barat gencar mempropagandakan prilaku brutal dan menyimpang ISIS (konon didanai oleh Barat) yang dikonotasikan sebagai prilaku muslim, Uskup Agung Rusia justru menegaskan masa depan Rusia adalah milik kaum muslim Rusia karena akhlak dan prilaku kasihnya terhadap sesama. Islam telah menjadi agama terbesar kedua di Rusia dengan populasi terbesar untuk skala Eropa setelah Kristen Ortodoks.

Baca Juga:  DPMGP4 Gelar Rakor Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten 2023

Maka tidak heran jika Rusia dalam banyak hal berupaya menggalang negara-negara yang bersebrangan dengan Barat khususnya muslim baik yang frontal seperti Suriah dan Iran, maupun yang secara bathini menolak Barat seperti negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim lainnya. Hal ini jelas karena Rusia beranggapan keinginan untuk mendominasi dunia tidak dapat dilakukan tanpa dukungan dari umat Islam.

Kembali ke konflik Rusia-Ukraina, saat ini baik Rusia maupun Barat sendiri telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi di Ukraina, perang kecanggihan teknologi, keakuratan menghancurkan target, kecepatan dan keampuhan senjata, akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari konflik tersebut jika konflik tersebut benar-benar meluas seperti yang kita khawatirkan. Sudah siapkah kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.