Safaruddin, Akankah Menggunakan Mesin Ganda atau Tunggal.?

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Dr Safaruddin S.Sos.,M.S.P. ANTARAN / Foto Istimewa
Bagikan:

Tak bisa dipungkiri, sosok Safaruddin sebagai salah seorang politisi mudah asal bumi Aceh Barat Daya (Abdya) adalah figur yang cukup layak untuk maju sebagai calon bupati.

Penulis : Suprijal Yusuf

MALAM itu jam menunjukkan sekitar pukul 21.15 WIB. Suasana Kota Jakarta semakin riuh, lalu lalang kendaraan di jalanan memasuki pucak. Bersama beberapa teman lainnya, penulis memasuki sebuah Cafee yang berada di kawasan pusat pembelanjaan terkenal di Ibukota Negara.

Saat memasuki cafee tersebut, tidak sengaja bertemu dengan Dr. Safaruddin, S.Sos.,M.S.P (Wakil Ketua DPRA) yang sedang ngopi dengan beberapa temannya. Ia langsung bangkit dari tempat duduk. “Pajan troh bang (kapan sampai bang),” sapa Safaruddin sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Beuno leuho (tadi siang),” jawab penulis. “Lon maju bupati Abdya kali nyo bang (Saya maju bupati kali ini bang),” ungkapnya secara spontan. “Alhamdulillah doa cukop jroh dari kamoe (Alhamdulillah doa cukup baik dari kami),” sahut penulis usai dialog singkat itu, penulis minta permisi beranjak dari itu.

Itu pernyataan pertama Safaruddin yang keluar dari mulutnya sendiri terkait keinginannya maju sebagai calon Bupati Abdya dalam Pilkada 2024. Secuil kisah itu terjadi pada 12 Maret 2024 lalu.

Waktu itu, kami beserta beberapa tokoh Aceh berada di Jakarta untuk menghadiri pelantikan, H Bustami Hamzah sebagai Pj Gubernur Aceh menggantikan Achmad Marzuki, 13 Maret 2024.

Tak bisa dipungkiri, sosok Safaruddin sebagai salah seorang politisi mudah asal bumi Aceh Barat Daya (Abdya) adalah figur yang cukup layak untuk maju sebagai calon bupati.

Soal pengalaman dan sepak terjangnya dalam dunia politik, putra kelahiran Susoh, 17 Maret 1983 ini tak diragukan lagi. Banyak kalangan memberi predikat untuk Safaruddin sebagai politis muda yang memiliki talenta petarung.

Apalagi, ia kini menduduki posisi penting di lembaga legislatif Aceh dengan jabatan sebagai Wakil Ketua DPRA periode (2019-2024) dari Partai Gerindra.

Di partai besutan Prabowo Subianto (Presiden terpilih 2024-2029) itu, Safaruddin dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPD Aceh periode (2022- sekarang).

Bahkan, sebelumnya ia sempat menjadi orang nomor dua (Sekretaris DPD Gerindra Aceh) di partai yang telah membesarkan namanya itu.

Baca Juga:  TMMD Reguler ke 118 Kodim 0107/Aceh Selatan Resmi Dimulai, Ini Kata Sekda

Pada Pemilu Februari 2024 lalu, ia kembali sukses meraih kursi DPRA dari Dapil 9 sebagai calon legislatif (Caleg) Partai Gerindra. Ini keterpilihan yang kedua kali di parlemen provinsi. Dalam Pemilu Februari lalu, ia bahkan mampu mendulang 28.684 suara.

Dari total jumlah suara tersebut sekitar 80 persen atau sebanyak 22 ribu lebih suara merupakan sumbangan pemilih masyarakat Abdya. Selebihnya, tersebar di tiga kabupaten/kota lainnya, meliputi Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil. Perlu juga dicatat, ia merupakan peraih suara terbanyak di Abdya untuk Caleg DPRA Dapil 9.

Kalau melihat dari hasil Pemilu legislatif (Pileg) 2024 lalu. Safaruddin sangat layak maju ke gelanggang Pilkada Abdya kali ini. Karena, ia sudah teruji dalam dua kali Pemilu legislatif dengan raihan suara terus meningkat di Abdya. Diakui atau tidak, itu menjadi modal besar baginya.

Keberhasilan Safaruddin dalam Pileg lima bulan lalu itu, bukan sebuah raihan instan. Tentu lewat proses perjuangan panjang dan karya nyata selama empat tahun menjadi wakil rakyat.

Berbagai hasil perjuangannya untuk membangun Abdya sudah ditorehkan seperti, membangun Gelanggang Olahraga (GOR) di Kemukiman Guhang, Blangpidie, dengan nilai anggaran puluhan miliyar, merehab jalan Provinsi lintas Cot Manee, Jeumpa – Krueng Beukah, Blangpidie dan berbagai proyek pembangunan lainnya yang dibiayai APBA yang setiap tahun diluncurkan ke Abdya.

Untuk maju ke gelanggang Pilkada pada 27 November 2024 mendatang, tentu tidak begitu sulit bagi seorang Safaruddin sebagai kader Partai Gerindra. Torehan prestasi dan juga dukungan Gerindra kepadanya semakin kuat.

Karena, ia sudah mengantongi tiket sendiri dari partainya. Sebab, dalam Pileg 2024 lalu, Partai Gerindra berhasil menoreh sejarah dengan meraih 4 kursi di DPRK Abdya. Dengan 4 kursi dimiliki partainya, membuat Partai Gerindra bisa mengusung sendiri pasangan calon bupati dalam pesta demokrasi lokal kali ini.

Keberhasilan tersebut, sekaligus membuat partai berlambang burung garuda itu, menjadi salah satu penguasa di parlemen lokal setempat. Karena posisi Ketua DPRK Abdya sudah pasti berada ditangan Gerindra.

Ini tentu menjadi modal dasar yang kuat baginya untuk turun bertarung merebut kursi empuk Bupati Abdya periode (2024-2029). Tetapi, apakah modal itu sudah cukup? Tunggu dulu!.

Baca Juga:  Jajaran Polres Simeulue Kembali Patroli Petasan dan Penyakit Masyarakat

Sebab, ini dua arena tanding yang berbeda. Yang satu arena tanding untuk merebut kursi legislatif di parlemen. Sementara, arena tanding yang satu lagi menggapai kursi empuk eksekutif (Bupati) ‘sang raja’. Kursi yang diperebutkan eksekutif cuma satu, bukan seperti parlemen yang jumlahnya mencapai puluhan.

Maka antara Pileg dengan Pilkada aroma permainan jelas berbeda. Lagi pula, jumlah calon yang maju tidak terlalu banyak mungkin hanya tiga atau dua pasang saja. Apalagi kualitas para pesaing atau calon lainnya yang maju agak berimbang.

Karena semua calon memiliki pengaruh yang sama ditengah masyarakat pemilih. Tentu disini, para calon dituntut memiliki strategi dan taktik guna mendapat dukungan dan simpatisan dari pemilih.

Kalau Safaruddin hanya menggunakan Partai Gerindra sebagai kendaraan tunggal dan tidak tanpa berkoalisi dengan partai lain untuk terjun ke gelanggang Pilkada. Ini jelas, ia mempertontonkan ego dan sekaligus menjadi bumerang baginya. Karena akan memudahkan lawan menyerang dirinya dengan amunisi cuma satu partai.

Bukan Safaruddin namanya kalau ia melakukan tindakan konyol itu. Bukitnya, politisi muda itu, sekarang sedang bergerilya melobi sejumlah partai lain guna mendukung cita-citanya menjadi oran nomor satu di Kota Dagang (julukan lain untuk Abdya).

Berkat kegigihannya dalam melakukan pendekatan dengan sejumlah partai lain. Telah membuat Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) mengeluarkan pernyataan terbuka. Bahwa partai yang memiliki pemilih fanatik dari kalangan eks kombatan GAM itu, akan berkoalisi dengan Partai Gerindra untuk Pilkada Abdya.

Tidak hanya itu saja, statemen Muzakir Manaf terkait calon Bupati Abdya telah disampaikan secara terbuka ke publik yang dikutip sejumlah media lokal beberapa waktu lalu. Bahkan, Mualem sempat menyebutkan sosok nama calon Bupati Abdya yang akan diusung PA di Pilkada Abdya adalah, Safaruddin.

Artinya, jika koalisi ini mulus, maka Safaruddin memiliki kekuatan besar dengan jumlah dukungan 7 kursi di DPRK. Karena, PA dalam Pileg lalu meraih 3 kursi di DPRK setempat. Tidak itu saja, bahkan kekuatan lapangan dari kader dan pemilih simpatisan PA kemungkinan besar akan menjadi pendukung Safaruddin.

Meskipun, tidak seratus persen simpatisan partai lokal ini akan beralih ke Safaruddin –karena Jufri Hasanuddin kader PA juga akan maju – tetapi setidaknya akan terjadi penambahan amunisi pemilih yang membuat rivalnya nanti harus menekan angka kalkulator yang lebih teliti.

Baca Juga:  Dr Safaruddin Secara Resmi Mendaftar ke Golkar

Ini adalah politik. Perubahannya sangat dinamis dan cepat, bahkan ada orang bijak mengatakan, politik itu akan berubah dalam hitungan menit. Apakah, koalisi manis yang sudah dirintis Safaruddin dengan PA ini akan berjalan mulus hingga final saat pendaftaran di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Abdya?.

Pertanyaan ini tentu belum dapat di jawab dengan pasti. Karena kembali lagi ini sebuah permainan politik perubahannya cukup dinamis. Apalagi prosesnya masih panjang.

Sebab, disisi lain Jufri Hasanuddin kader PA yang juga mantan bupati Abdya, dan saat ini ia juga sedang bergerilya mendapatkan tandatangan Mualem. Apakah, PA itu arahnya ke Safaruddin atau Jufri Hasanuddin? Ini masih dalam tanda tanya besar.

Seandainya, Safaruddin tidak mampu mempertahankan ucapan Mualem itu dan PA lepas dari genggamnya. Maka permainan akan berbicara lain lagi. Bahkan, banyak pihak memperkirakan, Safaruddin akan mengalami goncangan yang tidak sedikit.

Karena kalau hanya mengandalkan Gerindra sebagai mesin serang di lapangan, jelas akan sangat berat. Ibarat balapan, orang menggunakan mesin ganda, sementara kita menggunakan mesin tunggal. Jelas kecepatannya tidak akan sebanding. Tapi, lagi-lagi ini politik bukan balapan.

Permainan politik dibutuhkan taktik bukan kekuatan. Karena tak jarang kekuatan besar bisa dikalahkan oleh permainan taktik yang jitu. Tetapi, bila kedua hal itu kita milik, tentu jalan mulus untuk memenangkan pertandingan politik sudah didepan mata.

Meskipun, saat ini disebut-sebut ia memiliki kekuatan pendukung dari kalangan muda yang lumayan bagus, ditambah basis dukungan wilayah Blangpidie-Susoh. Tetapi untuk wilayah Kuala Batee – Babahrot, sejauh ini dukungannya belum begitu signifikan termasuk wilayah Tangan – Tangan dan Manggeng.

Berbicara, Suak Setia dan Jeumpa, semua calon yang akan berlaga sedang melakukan pemetaan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat. Sekali lagi ini politik semuanya tak bisa diprediksi dan akan terjawab pada waktunya.

Ada satu hal yang perlu diingat Safaruddin. Karena isu itu kini kian kencang berembus di masyarakat. Isu itu entah siapa yang menghembus kita tak tau, tetapi sudah menjadi perbincangan di setiap sudut kampung dan warung kopi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.