Salju Terakhir

Sumber foto: pixabay/8moments
Bagikan:

Oleh Monte Cristo

Lelaki tua itu masih berdiri di sana, membeku di depan lukisan Burlaki na Volge—menonton sebelas pria penarik tongkang yang terlihat sekarat di bawah terik matahari menuju titik kehancuran di tepi sungai—sampai penjaga museum membangunkannya dari lamunan. Penjaga museum memberi tahu kepada lelaki tua bernama Andrey Dmitrov itu bahwa museum akan segera ditutup.

Andrey pun segera keluar dari dan menemukan bahwa salju telah memenuhi kap mobil jipnya. Pada akhir tahun ini, salju turun lebih sering dari biasanya. Sesaat kemudian mobil Andrey melaju menelusuri jalanan kota yang tampak membeku.

Hari mulai gelap ketika memasuki kompleks perumahan tempat tinggalnya. Salju juga terlihat menutupi atap-atap rumah warga di kawasan tersebut, sementara lolongan anjing terdengar dari ujung salah satu gang.

Sesaat kemudian, dia telah sampai di depan rumah dan membelokkan jip tua ke samping. Karena rumahnya tidak memiliki garasi, jika turun salju Andrey hanya menutupi mobilnya dengan terpal berukuran 10×25 meter.

Ia pun berjalan menuju pintu. Langkahnya lambat, meninggalkan jejak yang agak dalam di halaman bersalju. Sepertinya badai salju memang akan segera datang, persis yang disiarkan di radio lokal.

Dia tidak segera menggantung jasnya, melainkan menuju ke perapian terlebih dahulu agar badannya terasa lebih hangat. Hari benar-benar telah gelap ketika dirinya mulai duduk di sofanya, memegang segelas vodka, sementara pandangannya jatuh pada deretan matryoshka yang ditata di atas bufet di bawah pohon maple yang tergantung rendah.

Baca Juga:  Badan Mahasiswa dan Mental Guru Mereka

Tiba-tiba telepon berdering, lalu sebuah suara terdengar sangat familiar di telinganya.

“Halo, Andrey,” sapa orang dari seberang telepon.

“Sergey—? Apakah itu kamu?” tanya Andre langsung mengenal suara orang yang sedang menelponnya.

“Ya, tentu saja ini aku, kamerad. Bagaimana kabarmu?” pria di ujung telepon bertanya.

“Ya, ya, tentu saja aku baik-baik saja,” jawab Andrey dengan semringah.

“Suaramu terdengar sangat tua dan berat, kamerad,” kata pria bernama Sergey.

“Ha-ha, kamu juga, teman,” jawab Andrey, “—bagaimana kabar Mischa, apakah dia baik-baik saja?” lanjut Andre.

“Ya, dia baik-baik saja, meskipun dia kini terlalu tua untuk memanggang sepotong roti untukku. Dia baik-baik saja. Um, bagaimana denganmu? Maaf—” Sergey terdengar ragu.

“—ya, aku baik-baik saja, tentu saja. Polina telah menemukan tempat terbaik di sisi Tuhan. Kau tahu itu, kan?” Andrey terdengar bijak.

“—ya, kita semua menginginkan hal yang sama. Maaf aku tidak bisa datang pada hari pemakamannya,” kata Sergey.

“Tidak apa-apa, aku mengerti, rumahmu jauh di seberang lautan. Aku malah bersyukur kau mau menelepon,” kata Andrey.

Baca Juga:  Di Bawah Cahaya Bulan

“Ya, akhir-akhir ini Mischa agak susah berjalan, punggungnya sering kram. Kami tidak bisa jauh-jauh dari rumah. Beruntung Anthony dan istrinya saat ini ada di rumah, kami merasa sangat terbantu,” kata Sergey.

“Oh—. Oh, ya, bagaimana dengan Ivanka dan Mila?” tanya Andre.

“Oh, Ha-ha-ha, mereka cucu yang nakal. Ivanka suka mengejekku dengan sebutan kakek botak, sementara Mila, dia bahkan menjatuhkan pot bunga favorit Mischa dan membuat neneknya ribut sepanjang hari. Ha-ha-ha, kau tahu, aku yakin kau juga akan tertawa saat melihat ekspresi bersalah dari wajah Mila di depan neneknya,” kata Sergey.

“Oh, ha-ha-ha,” Andrey terdengar ikut senang.

“Aku serius, ha-ha-ha. Kapan pun aku punya kesempatan, aku akan membawa mereka ke tempatmu. Aku janji,” kata Sergey.

“Oh,—senang mendengarnya, Sergey, aku akan menunggu kabar baik itu,” kata Andrey.

“—um, kau baik-baik saja, Andrey?—Maaf, aku terlalu bersemangat untuk memberitahumu tentang cucu-cucuku,” Sergey terdengar menyesal.

“Hei, jangan khawatir, aku baik-baik saja dengan semua itu,” jawab Andrey.

“Aku merasa tidak enak. Tapi, oh kau tahu, jika kau butuh sesuatu yang bisa kubantu, katakan saja, jangan ragu, teman,” Sergey menawarkan.

“—terima kasih, tapi, untuk saat ini, kurasa aku tidak butuh apa-apa. Tetapi, terima kasih atas tawaranmu, kamerad,” jawab Andrey.

Baca Juga:  Berdering

“—um, oke, Andrey, aku akan meneleponmu lagi kapan-kapan. Istirahatlah, teman, kau membutuhkannya,” Sergey ingin mengakhiri percakapan.

“Ya, saya kira begitu. kau tahu, cuaca saat ini tidak kondusif bagi orang tua seperti aku untuk berada di luar rumah. Tetapi, terlepas dari itu, sekali lagi terima kasih telah menelepon, Sergey,” pungkas Andrey.

Telepon pun terputus. Suasana terasa hening kembali. Bahkan lebih hening dari biasanya.

Andre menghela napas. Dia terdiam sejenak, mengintip keluar dari balik jendela. Beberapa sudut jendela tertutup salju. Dia bisa melihat kepingan salju jatuh ke halaman rumahnya.

Sementara itu, lampu jalan di sisi lain memantulkan cahaya ke halaman seluas 20×30 meter persegi penuh salju tebal itu. Di sudut sana terdapat kursi yang sengaja dibuat oleh Andrey atas permintaan istrinya, Polina. Waktu terasa begitu singkat, pikirnya.

Setelah memperbaiki api perapian, lelaki tua itu kembali duduk di sofa dengan segelas vodka di tangannya. Ia melihat kembali koleksi matryoshka di bawah lukisan maple lalu menetap agak lama pada pandangannya itu.

Sepertinya malam akan begitu lama, sementara badai akan segera tiba, membawa kembali salju untuk yang kesekian kalinya. Terutama bagi Andrey.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.