Salman Alfarisi, Birokrasi Tulen Coba Menghadang Ombak Pilkada

Bakal calon Bupati Aceh Barat Daya, H Salman Alfarisi ST. ANTARAN / Foto Ist
Bagikan:

Salman termasuk salah satu kandidat yang banyak diperbincangkan masyarakat Abdya saat ini. Arus dukungan yang secara terbuka mulai mengalir kepadanya, termasuk dukungan kalangan ulama setempat.

Penulis : Suprijal Yusuf

SOSOK yang satu ini, memang tak dikenal dipanggung politik, karena dia birokrasi tulen. Namun, belakangan dia mulai menggeluti bisnis kecil-kecilan dengan membuka usaha swalayan (retail) di Kota Blangpidie. Bisnis retail yang digelutinya kini tergolong sukses dan berkembang pesat.

Anak mantan pegawai rendahan di era Presiden Soeharto ini, sebagai birokrasi namanya baru mulai mencuat ke publik sejak dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) pada tanggal 6 Januari 2022.

Meskipun awalnya, banyak pihak yang memprotes langkah Akmal mengangkat Salman Alfarisi sebagai Sekda yang notabene adik kandungnya sendiri. Karena dinilai sebagai tindakan kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN).

Namun, berjalannya waktu Salam Alfarisi mampu mengemban amanah yang diberikan padanya dengan baik. Bahkan, beberapa pihak yang sebelumnya berseberangan, mulai melunak dan memberi dukungan. Ini tak lain karena Salman Alfarisi mampu menjaga amanah tersebut.

Pria kelahiran Kuala Batee, 23 Desember 1971 ini merupakan anak pasangan almarhum Tgk H Ibrahim Yasni dan almarhumah Hj Ramlah, dikenal kalem dan santun. Sebelum menjadi Sekda, ia sempat menjadi Asisten Bidang Pembangunan Setdakab Abdya, dan Kepala Badan Keuangan Daerah Kabupaten Abdya.

Langkah Salman Alfarisi menyatakan maju dalam gelanggang politik dengan mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Bupati Abdya dalam Pilkada 2024, memang membuat terkejut banyak pihak.

Betapa tidak, ditengah posisi karir puncaknya sebagai orang nomor satu pengendali birokrasi di Abdya yang baru diembannya selama dua tahun lebih. Tiba-tiba ia menyatakan dirinya maju ke arena Pilkada sebagai calon bupati.

Baca Juga:  Warga Abdya Keluhkan Sulitnya Memperoleh BBM, Ini Kata Ketua DPC Organda Abdya

Langkah yang diambilnya ini, bukan tanpa resiko. Pertama, harus mundur dari jabatan sebagai Sekda, kedua sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) juga harus pensiun dini. Karena itu, merupakan syarat mutlak dilakukan.

“Saya maju dalam pilkada kali ini. Dan saya sudah siap untuk mundur dari Sekda serta pensiun dini,” kata Salman Alfarisi pada awal April 2024 lalu kepada penulis di salah satu tempat tertutup di Abdya berapa waktu lalu.

Bagi sebagian orang melihat langkah yang dilakukan Salman ini tergolong nekat dan berani. Tapi, bukan Salman Alfarisi namanya kalau dia tak berani menghadang ombak dan badai. Tentu semua sudah diperhitungkan secara matang oleh suami dari drh Hj Cut Hasanah Nur ini.

Lihat saja, usai ayah empat anak (dua putra dan dua putri) ini menyatakan secara terbuka maju dalam arena Pilkada 2024 sekitar dua bulan lalu. Langsung, arus dukungan dari berbagai kalangan bermunculan, terutama arus bawah sebagai pemilih.

Bahkan, beberapa partai politik peraih kursi di DPRK Abdya dalam Pemilu Pebruari 2024 lalu, sudah meliriknya dengan memberi rekomendasi seperti, Partai Amanah Nasional (PAN) memiliki dua kursi, Partai Nanggroe Aceh (PNA) satu kursi, dan Partai Demokrat sebanyak tiga kursi.

Disamping Safaruddin, dan Jufri Hasanuddin. Salman termasuk salah satu kandidat yang banyak diperbincangkan masyarakat Abdya saat ini. Arus dukungan yang secara terbuka mulai mengalir kepadanya, termasuk dukungan kalangan ulama setempat.

Namun, harus diakui dukungan dari pemilih milenial terhadap putra Kuala Batee ini masih terbatas. Soal dukungan dari pemilih generasi muda ini, tim Salman Alfarisi harus mencari formula yang jitu guna mampu merebut hati mereka. Tetapi, dari kalangan birokrasi, petani dan pedagang tampaknya terlihat sebagai basis yang sudah agak membaik saat ini.

Baca Juga:  Harga Cabai Rawit di Banda Aceh Rp 65.000/Kg

Untuk mempertahankan arus dukungan yang telah mulai mengalir ini, juga tidak begitu mudah. Karena sedikit saja terjadi gesekan, bisa berbalik arah. Soalnya ini bermain di arena politik, yang situasinya sangat dinamis.

Bagaimana dengan kendaraan. Apakah, Salman sudah mendapatkannya, sebagai tunggangannya turun ke gelanggang Pilkada? Kalau melihat latar belakangnya yang lahir dari birokrasi tulen, tentu ini boleh dikatakan belum aman 100 persen. Konon lagi, selama ini dia memang nyaris tidak bersentuhan dengan dunia politik.

Kalau dilihat dari sepak terjangnya, pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana dan kalem ini. Bukan berarti tak melek poltik. Lihat saja, ia mampu memanfaatkan situasi. Buktinya, dengan arus dukungan yang ada, kemudian dibarengi dengan pendekatan ke sejumlah petinggi partai politik (parpol) peraih kursi di DPRK setempat. Setidaknya, sampai sejauh ini, ia sudah mengantongi tiga rekomendasi dari parpol yaitu, PAN, Demokrat dan PNA.

Kalau dilihat dari tiga parpol yang sudah memberi rekomendasi sebagai bentuk penugasan guna mencari partai koalisi. Maka kondisi satu tiket untuk Salman ke arena Pilkada 2024 sudah aman. Namun itu harus ditingkat, bila tiga parpol ini tetap solid dan kemudian dikeluarkan surat keputusan dukungan resmi saat menjelang pendaftaran ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Abdya.

Karena dengan tiga partai politik tersebut yang memiliki enam kursi seluruhnya, sudah melebih ketentuan quota yang ditentukan. Sebab persyaratan yang tentukan Undang-Undang Pemilu hanya 15 persen kursi yang ada di parlemen. Artinya, dengan total kursi DPRK Abdya hanya 25 kursi, untuk 15 persen cukup dengan empat kursi saja untuk mengusung satu pasangan kepala daerah.

Beberapa sumber menyebutkan, posisi Salman untuk sementara waktu boleh dikatakan sudah agak aman. Karena, bagi PNA dan Demokrat disebut-sebut sejauh ini tidak akan melirik calon lain, selain Salman.

Baca Juga:  Jelajahi Lintasan Ekstrem, Pasar Murah Disperindagkop Sasar Pelosok Aceh Singkil

Dua partai ini memiliki modal kuat bagi Salman kalau memang koalisinya mulus sampai saat pendaftaran ke KIP nantinya. Karena PNA dan Demokrat memiliki empat kursi di DPRK Abdya hasil Pemilu Februari 2024 lalu.

Sementara, bagi PAN sendiri sampai sejauh ini belum terlihat begitu serius memberikan dukungan final untuk Salman, karena ini terbukti partai berlambang matahari tersebut rekomendasi yang dikeluarkan tidak saja untuk Salman, tetapi ada tiga rekomendasi yang sama untuk tiga calon lainnya. Yaitu, Safaruddin, Jufri Hasanuddin dan Said Samsul Bahri (Ketua DPD PAN Abdya). Melihat kondisi tersebut, kemana PAN akan berlabuh untuk Pilkada Abdya belum dapat diterka.

Salman meskipun banyak pihak memprediksikan akan memperoleh tiket ke Pilkada. Tapi, langkah waspada tetap harus dilakukan. Karena ini permainan politik, letusan yang membuat koalisi partai yang sudah mulai dibangun dan dirajut, tak tertutup kemungkinan bisa akan buyar kembali.

Langkah antisipasi tetap harus dilakukan. Karena bila berpatokan pada dua partai yang kini sudah menyatakan tidak ke lain hati yaitu, Partai Demokrat dan PNA. Tentu ini, tak ada yang bisa menjaminnya. Karena eskalasi politik menjelang pendaftaran ke KIP akan semakin tinggi.

Bisa jadi tingkat kepengurusan kabupaten dan provinsi sudah final. Tetapi. Tingkat pusat yaitu, DPP tak setuju alias berbalik arah. Kalau ini yang terjadi akan celaka. Karena surat keputusan dukungan itu merupakan hak DPP yang mengeluarkannya, bukan kepengurusan dibawahnya. Kembali diingatkan ini politik bung, semua bisa saja terjadi. Tetapi tetap proses waktu yang akan menjawab semuanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.