Sebuah Pertarungan

Bagikan:

Musim dingin | Kyoto, 1713

Oleh : Monte Cristo

Di atas sebuah hamparan salju sedang terjadi pertarungan antara dua samurai. Salah satunya berasal dari klan Akawashi yang dikenal sebagai Chisako Shizui. Ia suka memakai zirah merah gelap berlogo bodhisattva atau dewi pelindung serta topeng iblis bertanduk tiga.

Itu adalah sebuah zirah yang membuatnya ditandai oleh hampir semua orang karena samurai dari Kyoto itu sering membantai musuh-musuhnya dengan zirah besinya yang khas. Tidak ada yang tak mengenal Chisako. Ia satu-satunya samurai yang telah menyempurnakan teknik pedang ciptaannya sendiri, yang ia namakan Akuma no hana no dansu (tarian bunga iblis).

Lelaki ini telah menciptakan sebuah teknik pedang mematikan dengan tebasan yang diawali sebuah tarian berupa gerakan berpola segienam menyerupai susunan kelopak bunga mawar. Kemampuan betarung Chisako berada di kelas yang berbeda di dalam sejarah tokoh samurai rata-rata.

Namanya berada di antara daftar nama-nama samurai terhebat sepanjang masa, bahkan disandingkan dengan Royco Masako, seorang samurai yang hanya terdapat di dalam legenda kuno Chosha, yang berhasil mengalahkan 10.000 orang musuh dalam sekali tebasan dengan katana-nya yang bernama Sōzō-ryoku (imajinasi).

Pendapat yang berbeda sebenarnya pernah dikemukakan oleh sejarawan cum budayawan asal Jepang mengenai rekor kemenangan Chisako. Dalam satu pertempuran melawan klan Kuroi chi (darah hitam), yang bertempur di pihak Shogun zalim Akigawa, rumornya Chisako sudah mampu menebas 10 orang musuh dalam satu hentakan napas karena ilmu pedangnya telah sempurna bahkan jauh di atas siapa pun ketika ia terjun ke dalam perang di era kekaisaran Zhiroichi tersebut.

Di puncak kejayaannya, Chisako sebenarnya memiliki satu petarungan yang tidak tercatat secara lengkap di dalam sejarah hidupnya. Itulah petarungan di tengah salju yang sedang terjadi saat ini, yaitu sebuah pertarungan untuk memenangkan gengsi, di mana Chisako tidak ingin mencatat kekalahan yang akan mencoreng rekornya.

Baginya, ini hanya pertarungan biasa seperti pertarungan-petarungan lain yang pernah dilaluinya. Sang samurai yang menjadi lawannya tidak mungkin bisa menang. Karena itu, ia merasa jemawa, bahkan yakin akan mengalahkan musuhnya dalam hitungan tidak lebih dari lima menit.

Baca Juga:  Pangdam IM Membuka Rapat Pimpinan Kodam Iskandar Muda

Chisako kini bersiap mengukur seberapa kuat musuhnya itu dapat menahan teknik andalannya. Ia mulai menyiapkan posisi, melebarkan kedua kaki, di mana kaki kanannya menganjur keluar sementara ujung katana bernama Shiroi yūrei (hantu putih) miliknya dihadapkan ke depan.

Shiroi yūrei ditempa dengan baja putih yang telah melewati ritual khusus. Di ujung katana tersebutlah para lawan Chisako meregang nyawa, dan kini giliran samurai yang ada di depannya untuk mengikuti jejak mereka.

Ketika Chisako mulai melakukan langkah menyerang, musuhnya terlihat bersiap dengan posisi perisai. Chisako menahan napasnya, karena ia akan menerjang dengan kecepatan penuh agar jurus Akuma no hana no dansu-nya efektif.

“—bersiaplah,” samurai dari klan Akawashi itu mulai menyerang.

Tangan Chisako menggenggam tsuka (gagang) katananya erat-erat sambil berlari mendekat, kemudian mengayunkannya dengan hentakan yang sangat keras, menargetkan bagian kepala lawannya. Katana tersebut membelah udara.

Saking kuatnya tebasan tadi, bisa didengar bahwa katana tersebut mengibas udara yang dilaluinya. Ini terasa amat cepat, sehingga tidak ada satu mata pun yang mampu melihat. Chisako yakin musuhnya tidak akan mampu mengelak. Mustahil.

Namun, tiba-tiba terdengar suara besi yang saling beradu dan mengeluarkan bunyi yang keras serta percikan api. Chisako terkejut, orang tersebut ternyata mampu menahan tebasannya dengan memanfaatkan bagian belakang katananya miliknya.

Itu posisi bertahan yang terasa asing bagi Chisako. Bagaimana mungkin samurai yang jadi lawannya tersebut tetap berada dalam posisi kaki yang sama sekali tidak bergeser, persis seperti saat Chisako belum memulai serangan. Seakan kakinya menancap ke dalam salju.

Tidak hanya itu, lawannya bukan cuma mampu menahan tebasan tersebut, tetapi juga baru saja mengalirkan energi yang begitu besar ke dalamnya sehingga Chisako bisa merasakan kekuatan yang sangat besar tengah menimpanya. Kekuatan itu terasa semakin besar dan bersifat menekan. Chisako mulai menyadari bahwa musuhnya kali ini berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya.

Selagi ia berpikir untuk membuat langkah selanjutnya, sang musuh rupanya telah melakukan sebuah gerakan yang mengejutkan. Ia menarik katananya dalam kecepatan kilat, lalu mengelak ke samping, membiarkan katana Chisako lepas, namun di saat yang hampir bersamaan, ia mulai mengibas ke arah dada.

Baca Juga:  Tolak Peserta Test Tersandung Kasus Kode Etik, BEM UGL Kutacane Gelar Demo

“—hampir saja,” itu benar-benar dekat, tetapi Chisako merupakan samurai terlatih sehingga ia mampu mengelak.

Chisako baru saja menghirup sedikit udara untuk bernapas ketika serangan kedua dilancarkan. Awalnya tebasan sang lawan menyilang seperti huruf X, namun kemudian mulai menuju ke tengah, kembali mengincar dada Chisako.

Gerakan itu terlihat begitu cepat, sehingga Chisako terpaksa menjatuhkan dirinya sendiri ke atas salju agar tidak tertebas. Ujung katana lawan melewati keningnya. Akan tetapi, dalam hitungan detik pula, sang lawan kembali mengibaskan katananya. Kali ini ia mengincar ke bagian perut karena perlindungan Chisako tampak terbuka di area tersebut.

“Apa?!!!” gerakan itu benar-benar di luar dugaan. Chisako hampir saja menyerah, namun ia melihat ada celah yang bisa membuatnya selamat dari serangan tersebut.

Ia langsung mengambil segenggam salju lalu melemparnya ke muka lawannya dengan tujuan agar samurai itu terkejut atau kehilangan fokus. Sisa salju yang dilemparnya pun betebaran di udara tetapi lelaki itu segera menebas lemparan salju tersebut dengan katananya.

Ini dianggap sebagai kesempatan satu-satunya bagi Chisako agar bisa keluar dari posisi berbahaya. Ia pun segera berguling ke kanan, kemudian segera meraih katananya. Sayangnya, kesempatan itu hilang itu karena sang lawan segera menghalaunya.

Musuhnya sendiri pun sengaja menebas kosong ke sebelah kanan setelah ia menebas salju yang dilempar oleh Chisako. Sebagai samurai berpengalaman, Chisako tidak mungkin kehabisan akal, karena itu ia langsung berguling ke arah sebaliknya. Ia juga berhasil mengambil kesempatan untuk meraih Shiroi yūrei yang tergeletak di sampingnya.

“—berhasil!” Chisako segera mundur beberapa langkah.

Ia tampak terengah-engah. Seluruh energinya baru saja terkuras habis untuk menghindari serangan sang musuh, sedangkan musuhnya itu masih terlihat santai. Seperti orang tidak melakukan apa-apa, energinya terkesan amat banyak, dan mungkin ia akan segera melakukannya lagi.

Baca Juga:  Warung Takjil dan Mercon Muncul di Kota Subulussalam

“! Dia datang,” hati Chisako memekik di dalam hati.

Sang musuh mulai mengangkat kembali katana-nya dengan gerakan yang sangat akrab di mata Chisako. Apakah itu Akuma no hana no dansu?

“Peniru! Aku tidak akan mengampunimu!” Chisako langsung melangkah ke depan untuk menyambut serangan itu, tetapi ia harusnya ingat, apabila itu benar teknik Akuma no hana no dansu maka serangannya akan sangat efektif apabila posisi target bergerak mendekat.

Memang benar, serangan samurai tidak dikenal itu benar-benar persis seperti dengan jurus Chisako. Tusukan katananya datang dengan kecepatan tinggi. Serangan itu bahkan tampak lebih sempurna karena permukaan salju mulai pecah serta berhamburan akibat desakan kekuatan magis yang keluar.

Chisako bahkan tidak sempat lagi berpikir. Semuanya terjadi begitu saja. Gedebuk!

“—sialan, apakah aku akan berakhir di sini?” Chisako telah jatuh di atas lututnya, sementara permukaan salju mulai berubah menjadi merah akibat terkena oleh cipratan darah. Ia tidak bisa bergerak, hanya matanya saja yang mampu berkedip.

“Aku akan mati—” pikir Chisako.

Samurai itu perlahan mendekat. Darah tampak menetes dari ujung katananya, membentuk titik-titik garis berwarna merah sejauh sentimeter. Dengan penglihatan yang mulai kabur, samar-samar Chisako dapat melihat bahwa samurai itu hanya berdiri sambil menatapnya. Sesaat kemudian ia tersenyum.

Chisako benar-benar tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Yang diingatnya hanya punggung samurai itu, yang perlahan menghilang di balik badai salju, menuju ke utara. Seseorang kemudian menemukan Chisako lalu segera membawanya ke dokter di desa terdekat. Chisako sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa selamat padahal tusukan tersebut telah menembus dadanya.

“Mungkin saja udara yang dingin membuat luka dan darahmu membeku. Kau beruntung,” ujar sang dokter.

Cerita mengenai pertarungan Chisako masih menjadi misteri di dalam sejarah para samurai. Siapa lawannya pada saat itu tidak ada yang tahu, akan tetapi beberapa versi meyakini bahwa lawan Chisako itu adalah dirinya sendiri. Karena, tidak mungkin ada yang mampu melawannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.