Sebutir Peluru Menuju Sorga

Foto Ilustrasi : Sumber foto https://pixabay.com
Bagikan:

Penulis : Monte Cristo

Tengku Saleh sangat kesal pada dirinya sendiri. Mengapa dia tidak menghitung setiap peluru yang dia tembakkan barusan? Betapa sialnya, sekarang dirinya hanya memiliki satu peluru yang tersisa.

Di dalam kepalanya pun mulai bermain segala bentuk rasa takut. Di samping takut mati, takut masuk neraka, dia juga takut ketiga istrinya menikah lagi seandainya dia tidak selamat dari tempat jahanam itu. Tengku Saleh tidak rela.

Tengku Saleh hanyalah sebuah nama sandi. Nama aslinya adalah Julius. Dia adalah panglima bagi gerakan pembebasan di wilayah tengah dan atas. Negara menyebut kelompoknya sebagai Kelompok Bersenjata Tukang Ganggu (KBTG).

Tetapi, Tengku Saleh lebih suka disebut pemberontak. Kesannya lebih maskulin dan sangar. Sialnya, setelah tujuh belas bulan bergerilya, lokasi persembunyian Tengku Saleh terdeteksi oleh pasukan khusus kiriman negara. Semua pasukannya pun tewas.

Tinggal dia seorang dengan hati yang tengah terombang-ambing. Maka, hanya Tuhanlah yang dapat menolongnya. Setelah diam di tempat persembunyiannya selama hampir setengah jam, Tengku Saleh mulai memperhatikan bahwa suasana telah hening.

Tembakan para tentara yang tadi menyerbu kini hanya menyisakan bau mesiu yang terbakar. Agaknya mereka telah berbalik arah, demikian pikir Tengku Saleh. Semoga saja anggapannya itu benar. Namun dirinya tetap harus waspada sebelum memastikan bahwa musuh benar-benar telah pergi agar dirinya bisa segera keluar dari tempat itu.

Dia pun mulai menganalisis. Saat ini tidak tampak ada pergerakan sama sekali. Tetapi, mungkin mereka masih di sana, bersembunyi di balik pepohonan, persis seperti dirinya. Dia pun mulai mendekap erat-erat satu-satunya senjata yang dimiliki.
Ah, lagi-lagi dia memaki dirinya sendiri.

Andai saja tadi dia tidak menembak seperti babi buta tanpa mengenai satu pun musuh, tentu pelurunya masih tersisa lumayan banyak saat ini. Sebenarnya, di belakang sana pasti ada barang satu atau dua senjata milik para prajuritnya yang bisa diambil.

Namun, di situlah letak masalahnya. Tengku Saleh tidak mau ambil risiko alias tidak berani, maka lebih baik dia bertahan di sini. Sampai semuanya terasa aman.

Karena itu, sekarang dia mulai meminimalkan setiap gerakan yang berpotensi memancing perhatian musuh. Dia mengembuskan napas dengan amat pelan dan halus. Secara instan, Tengku Saleh pun mulai berlatih untuk menyamarkan suara napas dengan cara berlindung di balik suara jangkrik. Perlahan, dia mulai bisa mengikuti irama suara serangga-serangga itu.

Beberapa saat kemudian, mulai matanya menjadi liar. Dia melihat sekeliling, mencoba menangkap atau mencari apa pun yang tampak berbeda dari biasanya. Dia bahkan menghitung setiap pokok batang pohon yang ada, sejauh penglihatannya bisa menjangkau dalam kegelapan malam bahkan mulai menghafal lekukan batang pohon-pohon tersebut.

Dengan begitu, jika ada gerakan sekecil apa pun dari balik pepohonan, dia bisa dengan mudah dapat menangkapnya. Namun, ketika dirinya sedang berpikir keras, tiba-tiba terdengar suara seperti benda padat terjatuh menghantam tanah.

“Cukimai!” Tengku Saleh hampir melompat saking terkejutnya, tetapi dia segera sadar serta menutup mulutnya dengan cepat dan erat.

Menyadari bahwa tindakan refleksnya bisa berakibat fatal, dia pun segera menahan napas dan mencoba menangkap suara jatuh tadi. Napasnya tertahan di cengkeraman dan tenggorokannya sendiri. Namun, setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata yang jatuh tadi adalah durian. Kebetulan sekarang memang musim durian.

”Tahi anjing! Dasar, bikin orang terkejut saja,” Tengku Saleh memaki dalam hati. Setelah kejadian tadi, Dia pun mulai mempertajam pendengarannya.

Sesaat kemudian, Tengku Saleh mulai sadar bahwa dirinya tidak sendiri. Seseorang tergeletak di sela-sela batang pohon sekitar dua meter di sebelah kanan. Cahaya bulan yang menyelinap masuk dari celah-celah rimbunan pepohonan tampak menimpa wajah orang tersebut. Wajah yang terasa tidak asing. Anak muda itu tampak menengadah ke langit, melihat apa yang terbentang di atas sana dengan mata kosong. Mata orang yang sudah mati.

Tengku Saleh sepertinya kenal, namun dia ragu. Yang pasti, itu adalah salah satu prajuritnya. Tengku Saleh ikut mengangkat kepalanya, seolah ingin tahu apa yang dilihat oleh prajurit itu. Tapi tentu saja tidak ada apa-apa di sana. Dia dan anak muda yang tidak lagi bernafas itu hanya sedang menatap langit malam yang sama. Langit yang sunyi.

Kesunyian tentu bisa menjadi pertanda bahwa bahaya sedang mengintai, menyelinap di kegelapan yang bisa menerkam setiap saat. Dia sebenarnya sangat ingin bangun dari tempatnya bersandar saat ini, tetapi dia merasa bahwa tubuhnya terasa amat lelah. Dia lelah dengan semua ini, terutama dengan ketakutannya.

Di saat yang sama, samar-samar ingatan Tengku Saleh menyambar wajah seseorang yang tidak asing. Bukan wajah para istrinya, tetapi wajah anak muda tadi. Wajah yang amat tenang, gumamnya. Dia pun mulai berpikir, tidak ada salahnya jika satu butir peluru yang tersisa dalam pistol yang tengah digenggamnya itu digunakan untuk mengakhiri hidupnya. Dia ingin memperoleh ketenangan seperti anak muda tersebut. Apa salahnya mencoba?

Namun, sebelum meledakkan kepalanya sendiri, Tengku Saleh berdoa dalam hati agar keempat istrinya tidak bisa menikah lagi setelah dirinya tiada. Dia tetap tidak rela kendati dia sendiri berharap bisa segera bertemu bidadari di surga sebagai hadiah dari Tuhan kepada jihadis seperti dirinya.

Baca Juga:  Gubernur Kukuhkan Tiga Plt Kadis Jadi Definitif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.