Sering tak Dapat Tiket Menyeberang ke Nias, Supir Angkutan di Pelabuhan Singkil Minta Keadilan

KMP Wira Mutiara Sibolga, kapal yang melayani penyeberangan rute Singkil-Nias dan sebaliknya saat bersandar di Pelabuhan Penyeberangan Singkil. ANTARAN / Helmi.
Bagikan:

“Beli tiket secara online, sehingga susah di akses. Sebab kita gak tahu kapan dibuka jadwal pembelian tiket. Kita pesan belum buka, saat sudah dibuka katanya tiket sudah habis,” keluh para supir tersebut.

Jurnalis : Helmi

ANTARAN|SINGKIL – Para supir angkutan barang yang membawa Sembako, dedak maupun bahan kelontong lainnya mengeluh karena sering tidak mendapat tiket saat hendak menyeberang ke Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara.

Pasalnya, pasca diberlakukannya pembelian tiket secara online menyebabkan kendaraan angkutan barang dagangan khususnya dari Wilayah Aceh menuju Pulau Nias, sering gagal menyeberang di Pelabuhan Penyeberangan Singkil.

Tak jarang, akibat gagal menyeberang sering timbul perdebatan antara supir angkutan badang dari Aceh dengan Petugas di Pelabuhan Singkil tersebut.

Para supir yang enggan menyebutkan namanya, kepada AntaranNews, Jumat (5/5/2023) malam di Pelabuhan Singkil mengaku, sering batal berangkat karena tidak dapat tiket kapal yang menyeberang dengan armada KMP Wira Mutiara Sibolga.

Padahal sudah mereka boking sejak seminggu sebelumnya. Namun tetap tidak juga mendapat tiket tersebut.

“Beli tiket secara online, sehingga susah di akses. Sebab kita gak tahu kapan dibuka jadwal pembelian tiket. Kita pesan belum buka, saat sudah dibuka katanya tiket sudah habis,” keluh para supir tersebut.

Baca Juga:  Korban Lakalantas di Labuhanhaji Masih Jalani Perawatan

Katanya, malam ini mereka akan diberangkatkan, herannya truk dari Aceh hanya bisa berangkat setiap hari Jumat, disaat kendaraan barang dari Sumut sepi. “Tapi herannya, kendaraan dari Sumut setiap hari terus masuk dan lancar-lancar saja saat menyeberang,” sambungnya.

Ia juga mengaku, kalau hari lain mereka juga tidak pernah kebagian tiket. Padahal sebelum diberlakukan online mereka bisa menyeberang 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Namun sekarang dalam satu minggu hanya sekali, itu pun harus ada perdebatan dulu.

“Kami berharap agar pembelian tiket sebaiknya bisa manual seperti sebelumnya. Karena di Pelabuhan Singkil ini belum siap pemberlakuan tiket online, yang menyebabkan kami semakin sulit berusaha,” harap mereka.

Wakil Ketua DPW Partai NasDem Aceh yang juga Wakil Sekjen Persaudaraan Barat Selatan Aceh (PBSA), Fadhli Ali, SE MSi. ANTARAN / Istimewa

“Dan hal ini terjadi karena pemesanan tiket truk sangat susah di akses oleh pemilik mobil atau pedagang dari Aceh karena secara online,” ungkap Fadhli Ali. 

Terkait persoalan tersebut, Wakil Ketua DPW Partai NasDem Aceh yang juga Wakil Sekjen Persaudaraan Barat Selatan Aceh (PBSA), Fadhli Ali, SE MSi, yang menghubungi AntaranNews, dari Banda Aceh, Sabtu (6/5/2023) mengaku sudah menerima laporan keluhan para supir tersebut.

Baca Juga:  Maju DPR-RI Dapil Aceh l, Tokoh Barsela Suprijal Yusuf Diusung NasDem 

Menurutnya, persoalan ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah Aceh. Karena dari informasi yang ia terima dari para supir, terkesan adanya diskriminasi terhadap mobil-mobil dari Aceh khususnya.

“Dan hal ini terjadi karena pemesanan tiket truk sangat susah di akses oleh pemilik mobil atau pedagang dari Aceh karena secara online,” ungkap Fadhli Ali.

Menurut Fadhli Ali, kemungkinan juga ada kaitannya, karena kapal yang melayani penyeberangan lintasan Singkil-Nias ini, milik swasta dan orang dari Sumatera Utara. Sehingga mereka lebih cenderung melayani angkutan-angkutan dari Sumut.

“Begitulah perkiraan opini para supir-supir dan pedagang tersebut,” ucap Fadhli yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPW Apkasindo Aceh itu.

Persoalan ini, lanjutnya, harus cepat diselesaikan, karena terindikasi adanya diskriminasi sehingga ke depan dikhawatirkan berpotensi terjadi kekerasan di sekitar pelabuhan itu.

Informasi yang ia terima, para pemilik truk/pedagang dari Aceh sering tidak mendapatkan tiket menyeberang diwaktu kendaraan yang hendak menyeberang lagi ramai. “Tapi kendaraan yang masuk dari Sumut diprioritaskan,” sebutnya.

Baca Juga:  Lantai Jembatan Krueng Beukah Abdya Mengkhawatirkan

Menyahuti persoalan ini, Fadhli Ali menyarankan agar ke depan jangan ada diskriminasi layanan di pelabuhan. Karena ini persoalan ekonomi masyarakat yang menjadi hak dasar manusia.

Kedua, mengingat perdagangan antara Aceh wilayah Barsela dengan Pulau Nias intensitasnya semakin tinggi, sehingga hendaknya dapat disikapi Pemerintah Aceh dengan menyediakan satu unit kapal penyebarangan untuk lintasan Singkil-Nias.

Untuk diketahui, akhir-akhir ini intensitas perdagangan antara Aceh dengan Nias cukup pesat. Dari Nias dibawa pisang kepok, pisang wak dan lain-lain hasil bumi seperti duku, kelapa.

Sementara dari Aceh truk barang membawa beras, dedak dan kadang juga bahan kelontong, minyak goreng dan lain-lain. Sehingga ini perlu menjadi perhatian kita semua, untuk meningkatkan perekonomian rakyat Aceh.

“Dan ini juga salah satu upaya kita untuk mengembalikan kejayaan Aceh di masa keemasan Aceh Singkil sebagai pintu masuk perdagangan terbesar dikawasan Pantai Barat Selatan,” papar Fadhli Ali.

Dimasa itu, lanjut Tokoh Barsela ini, negara-negara besar di dunia menjadikan Singkil sebagai poros perekonomian dan niaga di bagian Barat Selatan Aceh, sekitar abad ke-7 sampai abad ke-19.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.