Sifat Buruk Manusia, Menohok Kawan Seiring, Menggunting Dalam Lipatan

Ilustrasi. ANTARAN/sumber Metro
Bagikan:

“Sifat buruk pada manusia menjadi majemuk pada peribahasa menohok kawan seiring menggunting dalam lipatan.  Peribahasa tersebut menggambarkan sifat iri, dengki, khianat dan fitnah untuk mencelakai teman sendiri”

Jurnalis: Sudirman Hamid

ANTARAN l TAPAKTUAN-Makna peribahasa Menohok kawan seiring Menggunting dalam lipatan memiliki legitimasi khusus bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan, menyakiti, menjatuhkan, menganiaya bahkan memfitnah.

Perilaku mencelakai sahabat atau kerabat sendiri dengan akal busuk adalah sebuah sifat buruk yang dibumbui antusiasme untuk mewujudkan sesuatu keinginan yang sulit diperoleh secara profesional atau bersaing fair.

Pak tua yang diketahui memiliki nama Teungku Hasanuddin mengaku peribahasa menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan sering terjadi dalam persaingan kekuasaan, perdagangan, organisasi dan lembaga tertentu akibat dibelenggu kecemburuan sosial.

Baca Juga:  UGL Kutacane Universitas Swasta Terfavorit Kedua di Aceh

“Orang-orang seperti ini, tega membusukan, memfitnah bahkan mencelakai orang lain agar dia mendapat kepuasan dan berhasil mencapai keinginan. Ini bersumber dari sifat iri, dengki dan khianat,” ujar Pak tua kepada antaran saat bertemu pada Urou Meugang, Minggu (10/3.2023)

Menurut Pak tua, orang berkarakter Menohok kawan seiring menggunting dalam lipatan, tidak segan-segan mengorbankan dan menjatuhkan orang lain dengan cara-cara tertutup. Sekalipun korbannya kawan, atasan atau saudara sendiri.

Baca Juga:  Persit KCK Cab XXIX Dim 0107 Gelar Bhakti Sosial

Celakanya, tambah Pak tua, orang-orang berjiwa seperti itu sangat sulit mendapat peluang dan kepercayaan dari orang lain. Jikapun diberikepercayaan dan kesempatan, dipastikan kelakuannya lebih amburadul dari orang lain dan akan berakhir dengan kejatuhan pula.

“Jikapun mereka berkehidupan mapan dan bergelimpangan harta, namun kerap dihantui kesulitan dan tidak pernah menikmati ketenangan. Bila memperoleh kekuasaan, maka tidak akan pernah melekat dan akan cepat luntur disebabkan dosanya telah mengorbankan orang lain dengan cara-cara tidak baik,” ulas Hasanuddin.

Sebagai orang bijaksana, beriman dan bertaqwa, mari kita jauhi sifat-sifat iri dan dengki agar kita semua selamat di dunia hingga akhirat.

Baca Juga:  Soal Statemen Ketua DPRK Abdya, Awenk: Itu Pribadi Bukan Lembaga

Sebelum jatuh korban lebih banyak atau menyengsarakan banyak orang, melalui bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita bertaubat dan jangan mengulangi lagi sifat-sifat buruk itu. Jika kali ini kita belum berhasil, berjuanglah lagi sampai menemui keberkahan.

“Saya dan saudara-saudara semuanya, dapat merenungi kesalahan dan dosa apa yang telah diperbuat selama ini, baik buruknya tergambar dalam pikiran nyata. Insaf dan mohonlah ampunan, Allah SWT senantiasa memaafkan hamba-hambaNya di setiap sujud syukur dan nafas-nafas zikir,” pungkas Pak tua. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.