Sungai Mati Leubok Pusaka Tercemar, WALHI Aceh Minta Tanggung Jawab PT PEMA ENERGI

Ikan betutu, salah satu hewan yang wajib dilindungi, yang berdomisili dalam sungai Leubok Pusaka, Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, mati akibat limbah perusahaan migas PT PEMA ENERGY. Selasa (20/12). Foto : Ist
Bagikan:

“Sungai itu masuk wilayah konservasi ikan betutu. Kami minta PT PEMA ENERGI harus bertanggung jawab atas pencemaran yang diakibatkan dari aktivitas operasional perusahaan,” tegasnya.

Jurnalis : Alfiyah Zamzam

ANTARANNEWS.COM|BANDA ACEH – Dilaporkan, terjadi pencemaran serius di lingkungan sungai mati Leubok Pusaka, kawasan Desa Wahana Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang diakibatkan dari limbah PT PEMA ENERGI, perusahaan yang bergerak dibidang Minyak dan Gas (Migas), yang beroperasi di kawasan itu.

Pencemaran yang terjadi di sungai Leubok Pusaka tersebut, tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Akan tetapi, juga berdampak serius terhadap kesehatan manusia. Hal itu dikarenakan, sumber air bersih warga sekitar, diperoleh dari sungai dimaksud. Selain itu, kebutuhan air untuk pertanian dan perkebunan, juga berasal dari sungai yang tercemar limbah itu.

Menurut Directur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, Ahmad Salihin, dalam rilis diterima Selasa (20/12/2022), dampak serius lainnya akibat pencemaran tesebut, mengakibatkan ikan yang ada di sungai Leubok Pusaka mati.

Bahkan lebih parah lagi, di sungai itu termasuk wilayah konservasi ikan betutu yang wajib dilindungi. Jika sungai terus tercemar dan tanpa terkendali seperti saat ini, dipastikan ikan betutu tersebut juga terancam punah.

Baca Juga:  Pj Bupati dan Ketua DPRK Sambut Positif Terbentuknya PWI Aceh Besar

Om Sol, demikian Directur Eksekutif Walhi Aceh ini biasa disapa menambahakan, Betutu (Oxyeleotris marmorata), dalam bahasa inggris disebut sebagai marble goby atau marble sleeper, merujuk pada pola warna di tubuhnya, yang serupa batu pualam kemerahan.

Betutu juga mirip ikan gabus, jenis ikan air tawar yang diminati hingga pasar luar negeri. Ikan ini juga menjadi sumber ekonomi warga, yang tinggal di kawasan sungai Leubok Pusaka.

Atas nama WALHI Aceh, Om Sol meminta PT PEMA ENERGI bertanggung jawab atas pencemaran yang terjadi di sungai mati Leubok Pusaka, akibat limbah yang ditimbulkan dari operasional perusahaan migas itu.

Pihaknya juga meminta Pemerintah Aceh, agar tidak tutup mata dan segera mengambil langkah tegas. Mengingat, kondisi ini menyangkut dengan kehidupan warga, yang tinggal di sekitar sungai tersebut.

“Sungai itu masuk wilayah konservasi ikan betutu. Kami minta PT PEMA ENERGI harus bertanggung jawab atas pencemaran yang diakibatkan dari aktivitas operasional perusahaan,” tegasnya.

Baca Juga:  DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia Aceh Selatan Terima SK Kepengurusan

Dalam kesempatan itu, Om Sol juga menguraikan, dampak pencemaran tidak hanya terjadi di sungai mati Leubok Pusaka, tetapi juga berpengaruh luas terhadap kualitas air, yang mengalir hingga ke sungai Arakundo, yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambo Aye.

“Sungai Arakundo merupakan sumber air bersih masyarakat sekitar, juga menjadi sumber mata pencaharian warga setempat,” urainya.

Dikatakan, Desa Leubok Pusaka dan Buket Linteung, merupakan desa yang merasakan dampak langsung limbah tersebut. Karena kedua daerah ini berada sangat dekat dengan sungai. Bahkan jalur lintasan warga yang terdekat menuju ke kedua desa itu.

Catatan WALHI Aceh, pencemaran limbah di sungai tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Sebelum perusahaan migas yang sekarang dioperasikan oleh PT PEMA ENERGI, jauh sebelumnya dampak pencemaran juga dilakukan oleh beberapa perusahan lain, yaitu PT Mobil Oil, PT Exxon Mobil dan PT PHE.

“Artinya, pencemaran di sungai tersebut sudah lama terjadi, namun tidak ada upaya penanggulangan secara baik. Baik itu dari perusahaan, maupun dari pemerintah,” sebutnya.

Baca Juga:  Trumon Tengah Diterjang Banjir Bandang, Warga Butuh Air Bersih

Berdasarkan informasi yang diperoleh WALHI Aceh dari warga terdampak, dari sekian banyak perusahaan yang mengeruk minyak/gas alam di wilayah tersebut, masyarakat hanya merasakan dampak pencemaran lingkungan.

Alih-alih merasakan manfaat dari adanya perusahaan migas, yang ada setiap tahunnya jika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, maka luapan limbah migas akan mengakibatkan kerugian bagi masyarakat.

Pencemaran juga mengakibatkan tanaman pertanian gagal panen. Hal itu disebabkan karena air yang bercampur limbah, merendam tanaman warga.

“Bisa dibayangkan, dengan kondisi masyarakat miskin yang hanya mengandalkan bercocok tanam sebagai mata pencaharian, sungai tempat mencari ikan tercemar limbah, akibat kecerobohan perusahaan,” sesalnya.

Oleh karena itu, sekali lagi WALHI Aceh mendesak PT PEMA ENERGI, harus bertanggung jawab terhadap pencemaran lingkungan tersebut, dengan mengambil langkah segera dalam mengatasi masalah limbah.

Diantaranya, memperbaiki system pengelolaan limbah. Sehingga, keberadaan perusahaan, tidak menganggu dan merugikan masyarakat.

Demikian juga, Pemerintah Aceh diminta segera memberikan teguran keras, serta menghentikan sementara waktu operasional perusahaan, hingga proses evaluasi dampak buruk pencemaran selesai dilakukan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.