Suntik Dosis Moral di Dunia Kesehatan, Perlukah?

Sumber Ilustrasi: Idrus Bin Harun
Bagikan:

Kolumnis : Affan Ramli

Publik kita mendadak dikejutkan dengan berita obat sirup penyebab gagal ginjal akut bagi ratusan anak di Indonesia. Dinas Kesehatan Aceh mencatat sebanyak 20 anak meninggal dunia akibat gagal ginjal akut dalam empat bulan terakhir. Diduga, karena mengkonsumsi obat sirup.

Tapi, bukankah obat sirup itu sudah beredar puluhan tahun di Indonesia, kenapa data korban yang dipublikasi terhitung sejak Juli 2022 saja? Jika data korban dilacak hingga puluhan tahun lalu sejak obat sirup diedarkan untuk pasien anak, berapa angka korban yang akan keluar?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) rupanya baru bulan ini menemukan, lima jenis obat sirup yang mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) melebihi ambang batas yang sudah ditentukan. Industri farmasi, diperintahkan menarik dan memusnahkan kelima obat sirup itu dari peredaran di seluruh Indonesia.

Sehari setelah itu, Kementerian Kesehatan merilis daftar 91 obat sirup yang diduga menyebabkan kasus gagal ginjal akut pada anak. Obat itu sebagian besar merupakan obat batuk dan paracetamol.

Cerita itu membingungkan. Bukan hanya publik awam, bahkan Zullies Ikawati, Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gajah Mada. Menurutnya, penyebab gagal ginjal akut pada anak masih misteri. Belum ditemukan kepastian sebab-akibat antara gagal ginjal akut dengan konsumsi obat berbentuk sirup, terutama yang mengandung parasetamol.

Bukankah obat sirup sudah lama dikonsumsi di Indonesia?

Pertanyaan ini diajukan Prof. Zullies, mungkin mewakili rasa penasaran publik luas. Al-Jazeera, media internasional berbasis di Qatar, mengamati cerita ini muncul setelah Pemerintah Gambia menyelidiki kematian 70 anak karena gagal ginjal akut yang sama terkait dengan sirup parasetamol yang digunakan untuk mengobati demam.

Baca Juga:  Agar Tetap Harmonis, “Jangan Jatuhkan Jelaga Pada Telaga Yang Bening”

Sehari setelah Prof. Zullies menggugat narasi yang dibangun negara terkait obat sirup, BPOM mengeluarkan daftar 133 obat sirup yang aman.

Cerita dunia kesehatan kita, seringkali membingungkan memang, bahkan meragukan. Berbau setengah fiksi. Seperti cerita-cerita sebelumnya, terkait kewajiban tiga kali dosis untuk vaksin covid-19. Separuh warga negara meragukan kebenarannya. Banyak orang melakukannya karena terpaksa, tidak punya pilihan lain. Belakangan, bukan hanya rakyat jelata, banyak juga aparat negara menolak percaya pada cerita dunia kesehatan yang dibangun negara.

Ada dua alasan publik Indonesia seringkali berkerut kening dihadapkan pada cerita bombastis dunia Kesehatan di Indonesia. Pertama, bisnis kesehatan melibatkan cara-cara dan jaringan mafia. Seperti disahihkan dengan pernyataan Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dua tahun lalu. Arya Sinulingga mengatakan, ada mafia dalam arus perdagangan dan pengadaan alat kesehatan di Indonesia.

Kedua, orientasi bisnis yang mengerikan di dunia kesehatan telah menurunkan kadar moral ke tingkat terendah di kalangan para pengambil kebijakan dan praktisi. Cerita terkait ini beredar luas dalam perbincangan publik. Kisahnya dimulai dari, mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayar untuk menjadi dokter, perawat, bidan dan profesi lainnya.

Itu dilihat sebagai investasi menjanjikan, dimana keuntungan besar-besaran akan diperoleh dari penjualan jasa dengan harga tertinggi setelah selesai kuliah. Ditambah, seorang dokter dapat memperoleh bisnis tambahan dari menjual obat-obatan produk berbagai perusahaan farmasi dengan imbalan dapat persentasi keuntungan dari setiap obat yang terjual.

Itu sebabnya saya pernah bingung, mendapat 5 jenis obat dari resep dokter kita hanya untuk demam biasa. Masing-masing jenis bisa berjumlah 6-10 butir pil atau tablet. Dalam obrolan harian masyarakat, kita dapat siare (satu bambu) obat, hana puleh troe (tidak sembuh, minimal kenyang).

Baca Juga:  Mencermati Pesta Politik di Negeri Breh Sigupai

Saya membandingkannya di waktu lain, melakukan operasi jenis penyakit berisiko tinggi di Penang, Malaysia. Hanya mendapat dua jenis obat setelah operasi, dengan masing-masing jenisnya terdapat dua butir pil atau kapsul saja.

Banyaknya warga Indonesia yang berobat ke Malaysia, sebenarnya juga indikasi lain tingginya ketakpercayaan publik kita terhadap dunia kesehatan di Indonesia. CEO Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), Sherene Azli pernah menerbitkan data menakjubkan, dari 1,2 juta warga asing berobat ke Malaysia pada tahun 2018, 900 ribu orang berasal dari Indonesia. Trendnya dari waktu ke waktu, angkanya meningkat, sebelum covid-19.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono pada tahun ini mengumumkan, Indonesia setiap tahun kehilangan 11,5 miliar dolar AS, karena sekitar 600 ribu hingga 1 juta orang Indonesia berobat keluar negeri tiap tahunnya. Umumnya ke Malaysia, Singapore, dan Thailand.

Kenapa sejuta orang Indonesia mencari pengobatan di luar negeri tiap tahun? Dunia kesehatan Indonesia tidak
kurang dokter pintar jenius, bukan kurang fasilitas, bukan kurang kebijakan. Tapi nampaknya, diurus dengan bekal moral humanitas agak rendah, akibat industrialiasi dan kapitalisme kesehatan ngeri-ngerian.

Bandingkan dengan negara miskin Kuba, yang membangun sistem kesehatannya berbekal moral sosialisme dan menolak kapitalisme dunia kesehatan. Seperti dilaporkan Ede Surya Darmawan yang pernah berkunjung lansung ke sana. Bahkan setiap warga Kuba punya dokter keluarga, dimana di negeri kita, fasilitas seperti itu hanya bisa dinikmati pejabat negara.

Pelayanan kesehatan di Kuba dimulai dengan menempatkan seorang dokter keluarga yang melayani 100-150 keluarga. Dokter keluarga itu dari dokter-dokter muda yang telah menjalani pendidikan di fakultas kedokteran lengkap dengan pendidikan profesi dan residensi selama 3 tahun di unit pelayanan kesehatan umum berupa poliklinik.

Baca Juga:  Sebutir Peluru Menuju Sorga

Saat ini Kuba mempekerjakan sekitar 15.000 lebih dokter keluarga yang berpraktik di seluruh negeri Kuba. Untuk menjaga kualitas dokter keluarga, maka pada setiap 10 dokter keluarga ditempatkan sebuah Kantor Satuan Tugas Dokter Keluarga. Satuan tugas ini terdiri atas 3 dokter spesialis yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan dan kandungan, dan seorang pekerja sosial masyarakat.

Semua layanan kesehatan Kuba gratis, dari tingkat satu sampai tingkat tiga. Satu lagi, belajar kedokteran dan ilmu medis lainnya di Kuba juga gratis. Semua dibiayai negara. Karena sektor kesehatan tidak boleh dibisniskan. Tubuh manusia bukan komoditi yang bisa dipermainkan untuk kepentingan bisnis.

Dunia kesehatan Kuba, saat ini menjadi salah satu rujukan dunia. Karena Kuba menolak model kapitalisme dunia kesehatan. Sekali kapitalisme merasuki sektor kesehatan kita, maka para pebisnis, dokter-dokter, bidan-bidan dan semua praktisi lain melihat manusia sebatas pasien-pasien atau konsumen-konsumen yang akan dilayani dengan kualitas berbeda bergantung berapa uang yang tersedia di tangannya, atau status sosial apa yang disandangnya.

Suatu hari dalam sebuah dialog dengan seorang pejabat daerah yang punya integritas moral terpercaya, dia meyakinkan saya, bahwa kita bisa mereformasi birokrasi di dinas-dinas lebih mudah, tetapi semua ide reformasi tidak akan bisa dibawa masuk ke tatakelola rumah sakit. Tempat itu telah menjadi lumbung bisnis besar para pelaku kesehatan dengan sokongan beking kuat para penegak hukum.

Jika begitu, bukankah dunia kesehatan kita butuh suntikan moral berdosis tinggi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.