Terkait Pengungsi Rohingya, Akademisi UTU Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi dan Menyudutkan UNHCR 

Yulizar Kasma, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar. ANTARAN / Foto kiriman
Bagikan:

“Masyarakat Aceh dan Indonesia tidak boleh terbawa arus kebencian yang disebarkan untuk menolak pengungsi rohingya, apa lagi menyerang UNHCR,” pesan Yulizar.

Jurnalis : Sahidal Andriadi

ANTARAN|MEULABOH – Beredar kampanye negatif yang menyudutkan UNHCR terkait pendaratan muslim Rohingya di Aceh berada dititik sangat parah. Hal ini disampaikan oleh Yulizar Kasma, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar, Selasa (12/12/2023).

Menurutnya, provokasi disejumlah media sosial terhadap muslim rohingya harus dihentikan segera, hal ini berdampak cukup buruk terhadap hubungan masyarakat Aceh yang selama ini menerima dengan baik Migran rohingya ini. Apa lagi, warga mulai menyudutkan UNHCR.

“Masyarakat Aceh dan Indonesia tidak boleh terbawa arus kebencian yang disebarkan untuk menolak pengungsi rohingya, apa lagi menyerang UNHCR,” pesan Yulizar Mahasiswa S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ini.

Baca Juga:  Kapolres Gayo Lues Tegaskan Personelnya Netral Dalam Pemilu

Ia juga mengingatkan masyarakat Aceh jangan lupa tragedi puluhan tahun lalu saat DOM ada ratusan mungkin ribuan masyarakat Aceh mengungsi keluar negeri. “Siap yang bantu ? UNHCR,” ungkap Yulizar.

Apa yang terjadi pada Muslim Rohingya yang datang ke Aceh, hal serupa pernah terjadi pada masyarakat Aceh. Apa lagi mereka memang tidak diakui sebagai warga Negara oleh Pemerintah Miyamar sejak tahun 80an.

Akses pendidikan, akses kesehatan, akses pekerjaan, pembakaran pemukiman dan pengusiran mereka alami secara beruntun saat di Rakhine, lebih 1 juta jiwa mereka berada di camp pengungsian di Banglades.

“Jadi tidak bisa watak mereka disamakan dengan masyarakat yang berada di Negara yang aman dengan akses pendidikan dan pekerjaan yang mudah, mereka orang terbuang dan dilemahkan berpuluh tahun, perbedaan itu seharusnya tidak boleh mematikan rasa kemanusiaan dan ikatan iman kita dengan mereka,” tambah Yulizar.

Baca Juga:  Disdik Nagan Raya Adakan Diklat Berjenjang Tingkat PAUD

Yulizar yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Aceh ini berharap pemerintah dapat menertibkan provokasi – provokasi di sosial media yang dapat mengganggu rasa kemanusian masyarakat, apa lagi pengungsi ini sebagian besar mereka adalah perempuan dan anak – anak. Hari ini mereka yang menjadi korban, boleh jadi ke depan masyarakat Aceh kembali bernasib sama seperti mereka.

“Saya memandang mereka ini korban atas tipu – tipu agen, mematahkan pengharapan mereka dan membiarkan mereka bertarung nasib di laut tidak mencerminkan adab kita orang Aceh, tidak ada jaminan perdamaian yang kita nikmati ini selama – lamanya,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa upaya pemerintah untuk menampung pengungsi Rohingya sementara waktu di pulau kosong patut didukung, selain karna rasa kemanusiaan yang tidak boleh mati juga dapat mencegah perselisihan pengungsi dengan warga lokal.

Baca Juga:  Pj Bupati Gayo Lues Nentong Saudere di Blangjerango

Muslim Rohingya tidak sama dengan pengungsi Yahudi

Beredar provokasi di media sosial bahwa orang Rohingya akan menjadi Israel baru dengan menjajah masyarakat yang menampung mereka. Sebaran informasi ini yang membuat antipati masyarakat terhadap muslim rohingya semakin meningkat.

“Apa yang terjadi pada warga rohingya sama sekali tidak bisa disamakan dengan pengungsi Yahudi yang memiliki pemahaman zionis untuk Israel raya, Rohingya tidak memiliki visi seperti itu,” terangnya.

Framing opini menceritakan bahwa Rohingya diusir karena mereka memiliki tentara hanya menjadi pembenaran atas pembantaian dan pengusiran muslim rohingya oleh militer miyammar.

”Jikapun kita tidak bisa membantu pengungsi malang itu, maka jangan ikut menjadi penghasut,” pungkas Yulizar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.