Wacana Jadi Contoh Bangkit Dari Kemiskinan, Suak Nibong Dipantau BRIN

BRIN memantau proses pengelohan telur asin hasil peternakan warga Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya, Kamis (30/05/2024). ANTARAN/Istimewa
Bagikan:

“Selain bertani, masyarakat kita juga fokus pada peternakan bebek petelur yang dikelola langsung oleh kalangan ibu-ibu di desa kami dengan semangat ‘Suak Nibong Bangkit’,” kata Adami disela mempersentasi keadaan desanya kepada BRIN.

Jurnalis: Rizal

ANTARAN|BLANGPIDIE – Gampong Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), ditargetkan menjadi daerah percontohan untuk pengetasan angka kemiskinan di wilayah Kabupaten setempat.

Sebagai bentuk keseriusan dalam program tersebut, Gampong Suak Nibong, didatangi pihak Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia untuk memastikan keseriusan warga setempat dalam mendukung program penurunan angka kemiskinan, Kamis (30/05/2024).

Keuchik Gampong Suak Nibong, Adami Us mengatakan, tahun 2022 lalu Gampong Suak Nibong menjadi desa berkembang dan berstatus maju pada tahun 2023. Semoga bisa menjadi desa mandiri yang dulunya sempat disebut desa tertinggal.

Dikatakan, tahun 1928 Gampong Suak Nibong lahir dan masyarakat baru mengenal dunia pendidikan tingkat universitas tahun 2003.

Baca Juga:  Pj Bupati Abdya Harap Para Pejabat Tidak Diganti Saat Tahapan Pemilu 2024

“Selain bertani, masyarakat kita juga fokus pada peternakan bebek petelur yang dikelola langsung oleh kalangan ibu-ibu di desa kami dengan semangat ‘Suak Nibong Bangkit’,” kata Adami disela mempersentasi keadaan desanya kepada BRIN.

Kelompok bebek petelor di Gampong Suak Nibong dikelola oleh beberapa kelompok dengan jumlah seribuan ekor lebih. Dimana, telur-telur dipasok hingga ke Medan, Sumatera Utara yang sudah dikemas menjadi telur asin.

Lebih lanjut, katanya, lahan areal persawahan di Gampong Suak Nibong, ada sekitar 80 hektare. “Masa panen kita setahun dua kali. Gampong kita ini dihuni 220 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 780 jiwa yang rata-rata penduduk sebagai petani,” tarang Adami lebih lanjut.

Untuk itu, Adami berharap Gampong Suak Nibong bisa direkomendasi sebagai desa percontohan dalam pengetasan angka kemiskinan di wilayah Abdya termasuk Barat Selatan Aceh (Barsela).

Sementara itu, Kepala Bappeda Abdya, Rahmat Sumaidi, mengatakan, tahun 2023 memang pihaknya telah menyurati BRIN untuk mengkaji kenapa Abdya masih tinggi angka kemiskinan.

Baca Juga:  Pj Bupati Sebut Safaruddin Sudah Bisikkan Soal Barsela Cup lV di Abdya

Semoga hasil kajian ini bisa diupayakan untuk kegiatan kedepan. Kemaren pihaknya juga telah mengunjungi Pante Rakyat, Kecamatan Babahrot, hari ini Suak Nibong Kecamatan Tangan-Tangan (Suak Nibong) dan Desa Padang Kecamatan Manggeng. “Semoga bisa menjadi Locus (tempat) untuk percontohan pengetasan kemiskinan,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Nawawi mengatakan kalau pihaknya turun ke wilayah Abdya untuk menindaklanjuti surat permintaan dari Pemkab Abdya mengenai pengetasan angka kemiskinan.

“Kedatangan kami juga ditemani Detektorat Riset BRIN, Etty dan Sri Ayu dan Hafiz. Kami dibentuk oleh Presiden untuk melakukan kajian yang sifatnya untuk ditindaklanjuti,” kata Nawawi.

BRIN melakukan berbagai macam persiapan untuk melakukan survey ke lokasi wilayah yang sudah ditentukan. Di pulau Sumatera kita telah mengunjungi wilayah Banyu Asin, Sumatera Selatan dan Aceh yang terutama di Kabupaten Abdya. Selain itu juga ke pulau Jawa, NTT, Sulawesi, Gorontalo. “Sifatnya diuji untuk dilihat keberhasilan agar menjadi percontohan untuk daerah lain,” jelasnya.

Baca Juga:  Mantan Keuchik di Abdya Hilang Saat Memancing di Laut

Potensi kegiatan yang ditinjau berupa kearifan lokal daerah, sepeti mata pencaharian petani atau peternak juga ada komoditas lain untuk menambah sumber pendapatan agar angka kemiskinan bisa berkurang.

Isu yang berkembang, selama ini masih banyak bantuan yang terkadang tidak sesuai dengan lokasinya dan kearifan lokal daerah itu sendiri. Sering program dari pusat kurang di manfaatkan. “Makanya, melalui BRIN ini kita cek ke lapangan agar kedepan tidak terulang lagi,” demikian tandasnya.

Amatan dilapangan, pihak BRIN juga sempat berdiskusi dengan para peternak terkait pemeliharaan, pengelolaan hingga pemasaran. BRIN memastikan bahwa desa setempat telah sesuai untuk dijadikan target percontohan pengurangan angka kemiskinan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.