Wartawan Perlu Kritis atau Krisis?

Bagikan:

Kolumnis: Affan Ramli

Minggu lalu, seorang wartawan di Aceh dipolisikan. Diduga menyebarkan kabar palsu. Perihal isu penyitaan rumah seorang warga Bireuen. Sesaat kemudian, nyaris serentak, tanggapan datang dari beragam organisasi pers dan praktisi hukum. Semua mereka bersepakat, isi pemberitaan itu tidak mengandung jenis kesalahan yang bisa dipidanakan.

Itu bukan bermakna, data dalam pemberitaan itu pasti benar. Mungkin juga ada data yang salah. Tapi salah itu sendiri, bukan kejahatan. Dalam keyakinan para filsuf, dari zaman Socrates sampai Zizek, semua kalimat dalam percakapan dunia manusia, selama diungkapkan dalam bentuk kabar berita, pasti berkemungkinan salah.

Dari percakapan harian di pasar, sawah, gunung, laut, rumah tangga, kantor-kantor, semua mungkin salah. Sampai perbincangan yang ditulis dalam bentuk laporan, warta, atau lebih serius lagi teori akademik, sama saja peluang salahnya.

Informasi salah, bukan kejahatan. Selama diciptakan dan disebarkan dengan niat baik, metode pembuktian yang teliti, dan sumber yang sah. Sah bukan sahih. Sah bisa jadi tidak betul.

Sahih pun bisa jadi tidak sah. Sah berkaitan dengan tatacara, atau prosedur pembuatan dan penyebaran informasi. Sahih berhubungan dengan isi informasi. Sebuah berita tak sahih, bermakna isinya tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam tradisi studi klasik bidang riwayat, tak sahih bermakna, kabar berita itu berkualitas lemah (dhaif) atau palsu (maudhuk). Dalam narasi kekinian, tak sahih bisa berarti berita salah, berita fitnah, dan berita hoaks.

Baca Juga:  85 Santri di Aceh Selatan Mengikuti MQK, Ini Harapan Bupati Tgk Amran

Dalam berita hoaks harus ada dua unsur: salah data (tak sahih) dan diniatkan untuk maksud jahat (tak sah). Jika ditambah unsur ketiga, terorganisir, kabar hoaks dapat berubah menjadi tindakan makar.

Namun, jurnalistik modern dan pascamodern menuntut lebih. Sah saja tidak cukup. Sah dan sahih, juga tidak cukup. Perlu satu kualitas lebih tinggi dari itu, kritis.

Berita dipandang berkualitas, jika punya ketiganya: sah, sahih, dan kritis. Berbeda dari sah dan sahih, kritis itu tentang tipe analisis. Lebih tepatnya, corak analisis dan seni penyajian hasil analisis.

Jurnalis Kritis

Di tangan Habermas, pemikir teori kritis paling berpengaruh sejagad, corak kritis harus memenuhi tiga ciri. Pertama, kegiatan analisis dilakukan bertolak dari kepentingan pembebasan (emansipatori).

Memberitakan kasus suap, korupsi atau skandal di pemerintahan terlihat seakan-akan seperti kritis. Belum tentu, periksa dulu kepentingannya. Mungkin, ingin memeras pejabat, menghancurkan karir orang tak disuka, memudahkan deal-deal bisnis, atau sekedar mengejar rating pembaca.

Kedua, kegiatan analisis berfokus membongkar relasi-kuasa timpang di belakang sebuah peristiwa. Sorotan tidak melulu harus ke arah pemerintahan. Bisa ke semua isu, semua jenis kasus, semua peristiwa sosial. Asal mampu membongkar jejaring relasi-kuasa tak adil penyebab atau pendorong satu peristiwa terjadi.

Berita harga cabai di pasar tradisional sebuah kampung mungkin lebih berciri jurnalisme kritis, dibanding ulasan mobil dinas dipakai oleh istri kedua gubernur yang dinikahi secara siri. Bergantung pada teknik analisis yang disajikan.

Baca Juga:  Semoga Kembali Menjadi Bintang, Doa Komunitas Meja 87 Solong Untuk Kombes Pol Dicky Sondani

Ketiga, analisis harus dilengkapi dengan tindakan pembebasan. Para penganut jurnalisme kritis perlu memikirkan tindakan mereka, di zona domestik dan di ruang publik.

Berita menggugat, melawan, dan menghasut revolusi tidak berarti kritis, jika tindakan-tindakan di alam nyata para wartawan masih feudal, patriarkhi, dan menikmati kemewahan perlakuan istimewa (privilege) berbekal kanal-kanal komunikasi tersembunyi dengan para pemilik modal dan penguasa.

Sialnya, kebanyakan wartawan kita lupa menelusuri makna kritis dan cerita kedatangannya ke alam jurnalisme. Walhasil, frasa ‘ jurnalisme kritis’ bisa bikin galau makna. Gabut dalam terapan. Sejak kata kritis, seringkali disederhanakan dan disepadankan dengan pikiran ‘asal beda’, ‘asal menggugat’, dan asal melawan. Pemaknaan demikian, melahirkan corak jurnalisme kritis ecek-ecek.

Seperti diamati Erin Merriman (2003), jurnalisme kritis ditandai dengan menjamurnya wartawan yang fokus utamanya mengekspos skandal, penipuan, kecolongan, kekonyolan, korupsi dan kesalahan lainnya pemerintahan.

Kritis itu apa?

Bagaimanapun, makna kritis, sepatutnya dilacak ulang dari sejarah kelahiran dan tumbuh kembangnya dalam percakapan manusia. Usia ‘kritis’ sebagai kata, lebih tua dari ‘kritis’ dibicarakan sebagai satu konsep dan corak analisis.

Aliran kritis lahir, dari rahim pemikiran Kantian (dipelopori Immanuel Kant), berkembang dalam tradisi Marxian (dipelopori Karl Marx), dan matang di tangan mazhab Frankfurt (dipelopori Adorno, Marcuse, dan Habermas). Ketiganya berawal dari Jerman, lalu menyebar ke seantero dunia.

Jurnalisme kritis, jika merujuk ke komponen utama pikiran Kant, adalah jurnalisme yang tahu diri, tahu keterbatasan kita dalam memahami kenyataan, tahu batas-batas pengalaman sebagai sumber informasi.

Baca Juga:  Dihari Kedua, Satgas TMMD ke 118 Kodim 0107/Aceh Selatan Kebut Pembangunan RTLH

Informasi apapun, ketika diperoleh dari sumber-sumbernya, pertama-tama harus diragukan, oleh seorang jurnalis. Sebelum menarasikan dan mengabarkan ke publik luas. Meragukan informasi, juga meragukan kelayakan pengalaman narasumber yang hendak dikutip informasi.

Tradisi marxis kemudian mengubah makna kritis. Menjadi corak analisis kenyataan sosial yang bertumpu pada ekonomi politik. Pemberitaan sebuah peristiwa tidak disebut kritis, jika tidak menggunakan pisau analisa ekonomi politik pembentuk peristiwa itu.

Peristiwanya bisa apa saja, dari urusan sumur, kasur, dapur sampai pembuatan undang-undang nasional, tak jadi soal. Asal dibedah dan diuraikan aspek ekonomi politiknya. Berita, narasi, dan informasi tidak pernah netral. Selalu ada kepentingan ekonomi politik tersembunyi di dalamnya.

Mazhab Frankfurt lalu memperluas makna kritis, melampaui makna yang diberikan dalam tradisi marxis lama. Dari analisis bertumpu ekonomi politik, meluas menjadi analisis semua bentuk relasi-kuasa timpang pada semua peristiwa dunia manusia. Menjadi kritis, dalam pahaman ini, tidak perlu mencari-cari krisis, yang terlanjur diyakini sebagai sumber penghidupan dunia jurnalistik kita.

Banyak wartawan lebih tergila-gila memburu krisis, dibanding kritis. Karena krisis, sebangun dengan doktrin kuno jurnalisme dunia. Bad news is a good news, kabar buruk adalah berita yang baik. Jika frasa ‘kabar buruk’, kita ganti dengan kata ‘krisis.’ Maka terang benderang terlihat, kumpulan krisis lah yang telah menopang hidup kaum jurnalis. Bukan daya kritis mereka!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.